Psikologi Ceria^^

It's all about Psikologi..

Teori Alfred Adler Maret 18, 2010

Filed under: Teori Psikologi — punyabunga @ 4:25 am

Menurut Adler, setiap individu mempunyai motif-motif, sifat-sifat, serta nilai-nilai yang khas. Setiap tindakan yang dilakukan oleh setiap individu membawakan perilaku yang khas dan gaya kehidupannya yang bersifat individual. Baginya, perilaku ditentukan oleh persepsi harapan yang mungkin dicapai di masa mendatang, bukan oleh apa yang sudah dikerjakan di masa lalu dan untuk membimbing perilaku, setiap orang menciptakan tujuan final yang bersifat fiksi (fictional final golas). Tujuan ini disebut “fiksi” karena tidak harus didasarkan pada kenyataan, tetapi tujuan itu lebih menggambarkan pikiran orang itu mengenai bagaimana seharusnya kenyataan itu, didasarkan pada interpretasi subjektif mengenai dunia.

Adler mengembangkan teori urutan lahir yang didasarkan pada keyakinannya bahwa keturunan, lingkungan dan kreativitas individual membentuk perkembangan seseorang. Menurutnya, dalam sebuah keluarga, setiap anak lahir dengan unsur genetik yang berbeda, masuk dalam setting sosial yang berbeda, dan anak-anak itu menginterpretasikan situasi dengan cara yang berbeda pula. Adler menganggap urutan kelahiran dalam keluarga mempunyai peranan penting dalam membentuk pertumbuhan perkembangan seseorang, urutan-urutan tersebut mempunyai perbedaan-perbedaan dalam menginterpretasikan setiap pengalaman yang didapat. Sejalan dengan perhatiannya terhadap penentu-penentu sosial kepribadian, Adler mengamati bahwa kepribadian anak sulung, anak tengah, dan anak bungsu dalam suatu keluarga akan berlainan. Ia mengaitkan perbedaan-perbedaan ini dengan pengalaman-pengalaman khusus yang dimiliki setiap anak sebagai anggota suatu kelompok sosial. Namun, beberapa penelitian gagal dalam memberikan dukungan secara memadai terhadap konsep urutan kelahiran yang dikemukakan oleh Adler.

Adler sangat tertarik pada jenis-jenis pengaruh awal yang mengakibatkan anak mudah tergelincir ke dalam gaya hidup yang maladaptif. Ia menemukan tiga faktor penting : (1) anak-anak yang memiliki inferioritas-inferioritas; (2) anak-anak yang dimanjakan; (3) anak-anak terlantar. Anak-anak yang memiliki kelemahan fisik atau psikologis menanggung beban berat dan mungkin merasa kurang mampu menghadapi tugas-tugas kehidupan.

Social interest merupakan bentuk kepedulian atas kesehjateraan orang lain yang berkelanjutan sepanjang kehidupan untuk mengarahkan perilaku seseorang. Meskipun minat sosial dilahirkan, tetapi menurut Adler terlalu lemah atau kecil untuk dapat berkembang dengan sendirinya. Oleh karena itu menjadi tugas Ibu, yang menjadi orang pertama dalam pengalaman seorang anak, untuk mengembangkan potensi tersebut. Apabila ibu tidak dapat membantu anak untuk memperluas minat sosialnya, maka anak akan cenderung tidak memiliki kesiapan ketika menghadapi masalah dalam lingkungan sosialnya.

Adler mengembangkan teori mengenai tipe kepribadian berdasakan minat sosial dan aktivitas yang dimiliki seseorang. Adler membahas tentang pertumbuhan perkembangan suatu individu didasarkan pada keunikan suatu individu dan lngkungan sosial. Adler menganggap pertumbuhan perkembangan ini bukan sekedar bawaan sejak lahir dan bukan pula diperoleh hanya dengan cara dipelajari, melainkan gabungan keduanya, pertumbuhan perkembangan didasarkan pada sifat-sifat bawaan dan dikembangkan lebih lanjut agar tetap bertahan.

Bagi Adler, kehidupan manusia dimotivasi oleh satu dorongan utama, yaitu dorongan untuk mengatasi perasaan inferioritas dan superioritas. Inferioritas bagi Adler berarti perasaan lemah dan tidak terampil dalam menghadapi tugas yang harus diselesaikan. Superioritas, pengertiannya mirip dengan pengertian transendensi sebagai awal realisasi diri dari Jung, atau aktualisasi dari Horney dan Maslow. Superioritas bukan lebih baik dibandingkan orang lain atau mengalahkan orang lain, tetapi berjuang menuju superioritas berarti terus menerus berusaha menjadi lebih baik.

Adler memiliki konsep mengenai self kreatif yang jelas menggambarkan pandangannya yang antimekanistik : kehidupan manusia bukan penerima pengalaman secara pasif, tetapi manusia adalah aktor dan inisiator perilaku. Konsep ini memperkuat pandangan Adler bahwa kepribadian itu dinamis dan bukan statis : bahwa orang selalu bergerak sepanjang hidupnya, aktif menginterpretasi dan memakai semua pengalamannya. Adler memandang manusia memiliki sifat-sifat altruis, humanitarianisme, kerja sama, kreativitas, keunikan, dan kesadaran.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.