Psikologi Ceria^^

It's all about Psikologi..

Teori Harry Stack Sullivan Maret 18, 2010

Filed under: Teori Psikologi — punyabunga @ 4:46 am

Sullivan membagi usia manusia menjadi tujuh tahap perkembangan. Di setiap tahap perkembangan orang mengahadapi masalah hubungan interpersonal yang berbeda-beda, sehingga bentuk bahaya yang berasal dari hubungan interpersonal itu juga berbeda-beda.

Perubahan kepribadian dapat terjadi kapan saja, tetapi yang paling sering terjadi pada masa transisi dari tahap satu ke tahap berikutnya. Garis batas antar tahap itu ditunjuk karena secara umum pada saat itu terjadi perubahan kepribadian yang signifikan, sehingga dalam kenyataan lebih penting daripada tahap itu sendiri.

Bayi (infancy); 0-18 bulan

Bayi menjadi manusia berkat kelembutan kasih sayang yang diterima dai pemeran keibuan. Perhatian utama bayi adalah makan, sehingga obyek pertama yang menjadi pusat perhatiannya adalah puting susu ibu (atau puting botol). Paling tidak menimbulkan tiga image, sesuai dengan pengalaman bayi dengan puting itu.

1.  Puting bagus (good nipple)

Puting yang lembut penuh kasih sayang dan menjanjikan kepuasan fisik.

2.  Bukan puting (not-nipple)

Puting yang salah karena tidak mengeluarkan air susu, bahkan merupakan tanda penolakan dan isyarat mencari puting lain.

3.  Puting buruk (bad nipple)

Puting dari ibu yang cemas, tidak memberi kasih sayang dan kepuasan fisik.

Pengalaman makan itu, akan membentuk personifikasi ibu, puting bagus menjadi ibu baik (good mother) dan bukan puting atau puting buruk menjadi ibu buruk (bad mother).personifikasi ibu menjadi awal dari personifikasi diri sendiri. Bayi mulai membentuk gambaran saya baik, bukan saya dan saya buruk, yang menjadi dasar pemahaman diri.

Anak (childhood); 1,5-4 tahun

Tahap anak dimulai dengan perkembangan bicara dan belajar berfikir sinaksis, serta perluasan kebutuhan untuk bergaul dengan kelompok sebaya. Perkembangan bahasa memungkinkan fusi berbagai personifikasi.

Anak mulai belajar menyembunyikan aspek tingkah laku yang diyakininya dapat menimbulkan kecemasan atau hukuman. Misalnya, mereka belajar melakukan rasionalisasi (memberi alasan palsu) mengenai segala hal yang sudah mereka kerjakan atau sedang mereka rencanakan. Mereka memiliki tampilan seolah-olah (as if performance), yakni:

1.  Dramatisasi (Dramatization)

Permainan peran seolah-olah dewasa, belajar mengidentifikasikan diri dengan orang tuanya, bagaimana bertingkah laku yang dapat diterima.

2.  Bergaya sibuk (Preoccupation)

Anak belajar konsentrasi pada satu kegiatan yang membuat mereka bisa menghindari sesuatu yang menekan dirinya.

3.  Transformasi jahat (Malevolent transformation)

Perasaan bahwa dirinya hidup ditengah-tengah musuh, sehingga hidupnya penuh rasa kecurigaan dan ketidak percayaan bahkan sampai tingkah laku yang paranoid

4.  Sublimasi taksadar (Unwitting Sublimation)

Mengganti sesuatu atau aktifitas (taksadar atau unwitting) yang dapat menimbulkan kecemasan dengan aktifitas yang dapat diterima secara sosial.

Remaja Awal (Juvenile); 4-10 tahun

Tahap juvenil (remaja awal) berlangsung sepanjang usia sekolah dasar sampai anak membutuhkan persahabatan yang akrab, sekitar usia 10 tahun. Perkembangan penting dalam tahap ini adalah loncatan sosial ke depan, anak belajar kompetisi, kompromi, kerja sama, dan memahami makna perasaan kelompok. Tahap ini juga ditandai dengan munculnya konsepsi tentang orientasi hidup, suatu rumusan atau wawasan tentang :

  1. Kecendrungan atau kebutuhan untuk berintegrasi yang biasanya memberi ciri pada hubungan antar pribadinya.
  2. Keadaan-keadaan yang cocok untuk pemuasan kebutuhan dan relatif bebas dari kecemasan.
  3. Tujuan-tujuan jangka panjang yang untuk mencapainya orang perlu menangguhkan kesempatan-kesempatan menikmati kepuasan jangka pendek.

Perkembangan negatif yang penting pada tahap ini adalah belajat stereotip, ostrasisme, dan disparajemen (stereotype, ostracism, dan disparagement).

  1. Prasangka atau stereotip adalah meniru atau memakai personifikasi mengenai orang atau kelompok orang yang diturunkan antar generasi.
  2. Pengasingan atau ostrasisme adalah pengalaman anak diisolasi secara paksa, dikeluarkan/diasingkan dari kelompok sebaya karena perbedaan sifat individual dengan kelompok.
  3. Penghinaan atau disparajemen, berarti meremehkan atau menjatuhkan orang lain, yang akan berpengaruh merusak hubungan interpersonal pada usia dewasa.

Dunia semakin kompleks dan komplikatif bagi anak usia sekolah dasar. Kalau komplesitas itu menimbulkan kecemasan yang berlebihan, juvenil mungkin berusaha mempertahankan rasa aman dengan menutup tidak boleh masuk ke kesadaran. Hal ini bisa membuat kehilangan kemampuan berkomunikasi secara sintaksis dan kemampuan berhubungan interpersonal.

Preadolesen (Preadolescence); 8/10-12 tahun

Periode ini sangat singkat, tetapi sangat penting. Preadolesen ditandai oleh awal kemampuan bergaul akrab dengan orang lain bercirikan persamaan yang nyata dan saling memperhatikan. Kebahagiaan dan perasaan berharga dari teman “chum” tersebut menjadi lebih penting dari pada kesenangan diri sendiri.

Tanpa chum, preadolesen mungkin menjadi korban dari kesendirian yang menyedihkan yang lebih buruk dari pada kecemasan, dan menjadi hambatan berat menyelesaikan tugas adolesen. Tahap preadolesen ditandai oleh beberapa fenomena berikut:

  1. Orang tua masih penting, tetapi mereka dinilai secara lebih realistik.
  2. Mengalami cinta yang tidak mementingkan diri sendiri, dan belum dirumitkan oleh nafsu seks.
  3. Terlibat dalam kerjasama untuk kebahagiaan bersama, tidak mementingkan diri sendiri.
  4. Kolaborasi chum, kalau tidak dipelajari pada tahap ini, akan membuat perkembangan kepribadian berikutnya akan terhambat.
  5. Hubungan chum dapat mengatasi/menghilangkan pengaruh buruk simptom salah suai yang diperoleh daari perkembangna tahap sebelumnya

Adolesen Awal (Early Adolescence); 12-16 tahun

Pada tahap ini pola aktifitas seksual yang memuaskan seharusnya sudah dapat dimiliki. Banyak problem yang muncul pada periode ini merefleksikan konflik antar tiga kebutuhan dasar : keamanan (bebas dari kecemasan), keintiman (pergaulan akrab dengan seks lain) dan kepuasan seksual.

Kepuasan seksual bertentangan dengan operasi keamanan, karena aktifitas genital pada usia ini terlarang pada banyak budaya sehingga menimbulkan perasaan berdosa, malu dan cemas. Keintiman bertentangan dengan keamanan, karena mengubah keintiman dari sesama jenis menjadi keintiman dengan jenis kelamin pasangan akan menimbulkan rasa takut, ragu-ragu dan kehilangan harga diri yang semuanya akan meningkatkan kecemasan. Keintiman bertentangan dengan kepuasan seksual, mereka kesulitan mengkombinasikan intimasi dengan kepuasan seksual untuk diarahkan kepada satu orang paling tidak karena empat alasan :

  1. Banyak adolesen yang melakukan sublimasi terhadap dorongan genitalnya, untuk mencegah penggambungan dorongan seks dengan keintiman.
  2. Dorongna genital yang sangat kuat dapat dipuaskan melalui masturbasi atau hubungan seks tanpa intimasi.
  3. Masyarakat membagi objek seksual menjadi dua, “baik” dan “buruk”, sedang remaja selalu memandang baik.
  4. Alasan kultural, orang tua, guru dan otoritas lainnya melarang keintiman dengan seks yang sama karena takut menjadi homoseksualitas, tetapi mereka juga melarang intimasi dengan jenis kelamin yang berlainan karena takut dengan penyakit menular seksual, kehamilan atau kawin dini.

Orang harus dapat mengatasi kebutuhan intimasi dan dorongan seksual tanpa terganggu rasa amannya. Kalau itu tidak dapat dilakukan dia akan menghadapi kesulitan serius pada tahap perkembangan berikutnya.

Adolesen Akhir (Late Adolescence); 16-20 tahun

Periode ini berakhir sampai pemuda mengenal kepuasan tanggung jawab dari kehidupan sosial dan warga negara dewasa. Selama periode ini, pengalaman semakin banyak terjadi pada tingkat berfikir sintaksis. Mereka harus memperluas pemahamannya mengenai sikap hidup orang lain, pemahamannya mengenai tingkat saling ketergantungan dalam hidup, dan cara menangani berbagai masalah interpersonal. Tahap ini ditandai dengan pemantapan hubungan cinta dengan satu pasangan. Namun menurut Sullivan perkembangan luar biasa tinggi dalam hubungan cinta dengan orang lain bukan tujuan utama kehidupan, tetapi sekedar sumber utama kepuasan hidup.

Jika orang memasuki tahap ini dengan inflasi sistim-self, menghadapi kecemasan di banyak ranah kehidupan, mereka mungkin akan mengalami beberapa masalah dalam tahap ini, seperti personifikasi yang tidak tepat (innaccurate personifications) dan berbagai jenis keterbatasan hidup, yang meliputi pandangna yang tidak realistik mengenai diri, pandangan mengenai orang lain yang stereotip, dan tingkah laku menolak kecemasan yang merusak kebebasan seseorang.

Pencapaian terakhir dalam periode ini adalah self-respect, yang menjadi syarat untuk menghargai orang lain. Jika orang dapat menghargai diri sendiri, dia akan menghargai orang lain.

Kemasakan (Maturity); >20 tahun

Setiap prestasi penting tahap yang terdahulu akan menjadi bagian penting dari kepribadian masak. Jadi dewasa yang masak hendaknya sudah belajar memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang penting; bekerja sama dan berkompetisi dengan orang lain, mempertahankan hubungan dengan orang lain yang memberi kepuasan intimasi dan seksual, dan berfungsi secara efektif di masyarakat dimana dia berada. Menurut Sullivan, diantara pencapaian-pencapaian itu, intimasi yang paling penting.

About these ads
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.