Psikologi Ceria^^

It's all about Psikologi..

Masa Transisi (Krisis) pada Usia Tengah Baya (Psikologi Perkembangan) April 23, 2010

Filed under: Uncategorized — punyabunga @ 12:26 am

Perkembangan Usia Tengah Baya

Banyak pendapat yang variatif sehubungan dengan bilangan usia tengah baya. Hurlock (1992) membatasi usia tengah baya adalah sekitar 40 – 60 th. Ia membagi  2 fase, yaitu  usia tengah baya dini ( 40-50 th) dan usia tengah baya lanjut (50 -60 th). Mappiare (1982) sepakat dengan batasa usia tersebut. Gunarsa (1988) menduga  bahwa usia tengah baya berlangsung lebih cepat 5 th dari perkiraan orang. Menurutnya usia tengah baya adalah  pada umur 35 – 60 th. Sementara Jim & Sally (1987), membatasi bahwa usia tengah baya adalah antara 33 – 70 th. Akan tetapi sekalipun terdapat beberapa perbedaan, yang jelas adalah bahwa usia tengah baya bukanlah usia muda dan usia 70 th sungguh berbeda dengan usia 40 th.
Dalam banyak hal, periode tangah baya adalah waktu timbulnya tekanan emosional. Oleh Bernice Nengeartein (dalam Callhoun dan Acocella, l990) dikatakan bahwa peroiode ini merupakan suatu masa ketika orang dapat merasa puas dengan keberhasilannya. Meskipun bagi orang lain  ada kalanya periode ini justru merupakan  permulaan kemunduran.  Bagi Erik Erikson (Callhoun dan Acocella, l990), dalam periode ini individu memiliki antara kearifan dan penyerapan pribadi. Kearifan yang dimaksud adalah kapasitas untuk mengembangkan perhatian terhadap orang lain atau masyarakat sekitar. Orang yang gagal mengembangkan kapasitas kearifan ini mungkin menjadi semakin terserap pada diri mereka sendiri seperti larut dalam kehidupan duniawi dan bendawi saja. Teori Erikson ini  berpijak pada kenyataan yang dia sinyalir bahwa dalam setiap tingkat kehidupan selalu dicirikan dengan pilihan-pilihan antara 2 pendekatan terhadap kehidupan, satu positif dan satunya negatif. Tampaknya tengah baya merupakan  salah satu waktu dalam hidup seseorang dimana banyak terjadi peristiwa besar yang memaksanya untuk mengadakan penataan kembali. Penataan kembali itu kiranya terjadi karena adanya beberapa perubahan besar dalam hal fisiologis, psikologis, seksual dan perubahan-perubahan sosial yang menyertai ketiga perubahan itu.

Teori-teori tentang masa dewasa tengah
1) Teori Erikson
Menurut teori perkembangan Erikson, tugas perkembangan yang utama pada usia baya adalah mencapai generatifitas (Erikson, 1982). Generatifitas adalah rasa peduli yang sudah lebih dewasa dan luas daripada intimacy karena rasa kasih ini telah men”generalize” ke kelompok lain, terutama generasi selanjutnya.  Bila dengan intimacy kita terlibat dalam hubungan di mana kita mengharapkan suatu timbal balik dari partner kita, maka dengan generativity kita tidak mengharapkan balasan  (keinginan untuk merawat dan membimbing orang lain). Dewasa tengah dapat mencapai generatifitas dengan anak-anaknya melalui bimbingan dalam interaksi sosial dengan generasi berikutnya. Jika dewasa tengah gagal mencapai generatifitas akan terjadi stagnasi. Stagnasi adalah lawan dari generatifitas yakni terbatasnya kepedulian kita pada diri kita,  tidak ada rasa peduli pada orang lain. Orang- orang yang mengalami stagnasi tidak lagi produktif untuk masyarakat karena mereka tidak bisa melihat hal lain selain apakah hal itu menguntungkan diri mereka seketika. Kita tahu banyak contoh orang yang setelah berusia setengah baya mulai menanyakan ke mana impian mereka yang lalu, apa yang telah mereka lakukan dan apakah hidup mereka ada artinya.  Beberapa orang yang merasa gagal dan tidak lagi punya harapan untuk mencapai impian mereka, pada saat-saat ini berusaha untuk merengkuh masa-masa yang bagi mereka terlewat sia-sia.
2) Teori Havighurst
Teori perkembangan Havighurst telah diringkas dalam tujuh perkembangan untuk orang dewasa tengah (Havighurst, 1972). Tugas perkembangan tersebut meliputi:

  1. Pencapaian tanggung jawab social orang dewasa
  2. Menetapkan dan mempertahankan standar kehidupan
  3. Membantu anak-anak remaja tanggung jawab dan bahagia
  4. Mengembangkan aktivitas luang
  5. Berhubungan dengan pasangannya sebagai individu
  6. Menerima dan menyesuaikan perubahan fisiologis pada usia pertengahan
  7. Menyesuaikan diri dengan orang tua yang telah lansia

Karakteristik Usia Madya

Usia Madya Merupakan Periode Yang Sangat Ditakuti

Ciri pertama dari usia madya adalah bahwa masa tersebut merupakan periode yang sangat menakutkan. Diakui bahwa semakin mendekati usia tua, periode usia madya terasa lebih menakutkan dilihat dari seluruh kehidupan manusia. Oleh karena itu orang-orang dewasa tidak akan mau mengakui bahwa mereka telah mencapai usia tersebut, sampai kalender dan cermin memaksa mereka untuk mengakui hal tersebut.

Pria dan wanita mempunyai banyak alasan yang kelihatannya berlaku untuk mereka, untuk takut memasuki usia madya. Beberapa diantaranya adalah banyaknya stereotip yang tidak menyenangkan tentang usia madya, yaitu kepercayaan tradisional tentang kerusakan mental dan fisik yang diduga disertai dengan berhentinya reproduksi kehidupan, serta berbagai tekanan tentang pentingnya masa muda bagi kebudayaan.

Usia Madya Merupakan Masa Transisi

Ciri kedua dari usia madya adalah bahwa usia ini merupakan masa transisi. Masa transisi dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan perilaku masa dewasannya dan memasuki suatu periode dalam kehidupan yang akan diliputi oleh ciri-ciri jasmani dan perilaku baru.

Transisi senantiasa berarti penyesuaian diri terhadap minat, nilai dan pola perilaku yang baru. Pada usia madya, cepat atau lambat, semua orang dewasa harus melakukan penyesuaian diri terhadap berbagai perubahan jasmani dan harus menyadari bahwa pola perilaku pada usia mudanya harus diperbaiki secara radikal. Penyesuaian untuk mengubah peranan bahkan lebih sulit daripada penyesuaian untuk mengubah kondisi jasmani dan minat.

Setiap perubahan peran yang penting mungkin mengakibatkan suatu krisis kekerasan yang besar ataupun kecil. Selama usia madya, Kimmel telah mengidentifikasi tiga bentuk krisis pengembangan yang umum dan hampir universal, seperti dijelaskan berikut ini:

Pertama, krisis sebagai masa orangtua ditandai dengan sindrom “Dimana kesalahan kami?”. Krisis ini terjadi apabila anak-anak gagal memenuhi harapan orang tua dan para orang tua kemudian bertanya apakah mereka telah menggunakan metode yang tepat dalam mendidik anak, dan menyalahkan diri mereka sendiri karena kegagalan anak-anak untuk memenuhi harapan mereka.

Kedua, krisis yang timbul karena orang tua berusia lanjut, sehingga sering timbul reaksi dari anak-anaknya: “Saya benci menempatkan ibu disitu”. Akibatnya banyak orang tua berusia madya  yang berusaha memecahkan permasalahan mereka tentang lanjut usia, merasa bersalah ketika anak-anak mereka tidak dapat atau tidak mau menerima orang tua mereka yang berusia lanjut tinggal bersama dalam rumah mereka.

Ketiga, krisis yang berhubungan dengan kematian, khususnya pada suami-istri. Menurut Kimmel hal ini ditandai dengan sikap “Bagaimana saya dapat terus hidup?”, yang mewarnai penyesuaian pribadi dan sosial mereka, yang tidak menyenangkan sampai krisis tersebut dapat dipecahkan menjadi kepuasan individu.

Usia Madya Adalah Masa Stres

Kategori stres pada usia madya

  • Stres somatik, yang disebabkan oleh keadaan jasmani yang menunjukkan usia tua
  • Stres budaya, yang berasal dari penempatan nilai yang tinggi pada kemudaan, keperkasaan dan kesuksesan oleh kelompok budaya tertentu.
  • Stres ekonomi, yang diakibatkan oleh beban keuangan dari mendidik anak dan memberikan status simbol bagi seluruh anggota keluarga.
  • Stres psikologis, yang mungkin diakibatkan oleh kematian suami atau istri, kepergian anak dari rumah, kebosanan terhadap perkawinan, atau rasa hilangnya rasa masa muda dan mendekati ambang kematian.

Usia Madya Adalah “Usia Yang Berbahaya”

Usia madya dapat menjadi dan merupakan berbahaya dalam beberapa hal. Saat ini merupakan suatu masa dimana seseorang mengalami kesusahan fisik sebagai akibat dari terlalu banyak bekerja, rasa cemas yang berlebihan, ataupun kurang memperhatikan kehidupan. Timbulnya penyakit jiwa datang dengan cepat dikalangan pria dan wanita, dan gangguan ini berpuncak pada suisid (bunuh diri), khususnya dikalangan pria.

Usia Madya Adalah “Usia Canggung”

Sama seperti remaja, bukan anak-anak dan bukan pula dewasa, demikian juga pria dan wanita usia madya bukan “muda” lagi tapi bukan juga tua. Franzblau mengatakan bahwa “Orang yang berusia madya seolah-olah berdiri diantara Generasi Pemberontak yang lebih muda dan Generasi Warga Senior”. Mereka secara terus menerus menjadi sorotan dan menderita karena hal-hal yang tidak menyenangkan dan memalukan yang disebabkan oleh kedua generasi tersebut.

Usia Madya Adalah Masa Berprestasi

Menurut Erikson, usia madya merupakan masa krisis dimana baik “generasivitas”—kecenderungan untuk menghasilkan—maupun stagnasi—kecenderungan untuk tetap berhenti—akan dominan. Menurut Erikson selama usia madya, orang akan menjadi lebih sukses atau sebaliknya. Mereka berhenti dan tidak mengerjakan sesuatu apapun lagi. Apalagi orang berusia madya mempunyai kemauan yang kuat untuk berhasil, mereka akan mencapai puncaknya pada usia ini dan memungut hasil dari masa-masa persiapan dan kerja keras yang dilakukan sebelumnya.

Usia madya seharusnya menjadi masa tidak hanya untuk keberhasilan keuangan dan sosial tetapi juga untuk kekuasaan dan prestise. Biasanya, pria meraih puncak karir mereka antara usia 40-50 tahun, yaitu setelah mereka puas terhadap hasil yang diperoleh dan menikmati hasil dari kesuksesan mereka sampai mereka mencapai awal usia 60-an.

Usia Madya Merupakan Masa Jenuh

Periode ini merupakan masa yang penuh dengan kejenuhan. Banyak atau hampir seluruh pria dan wanita mengalami kejenuhan pada akhir usia 30-an dan 40-an. Para pria menjadi jenuh dengan kegiatan rutin sehari-hari dan kehidupan bersama keluarga yang hanya memberikan sedikit hiburan. Wanita yang menghabiskan waktunya untuk memelihara rumah dan membesarkan anak-anaknya, bertanya-tanya apa yang akan mereka lakukan pada usia setelah 20 atau 30 tahunan kemudian.

Kejenuhan tidak akan mendatangkan kebahagiaan ataupun kepuasan pada usia manapun. Akibatnya , usia madya sering kali merupakan periode yang tidak menyenangkan dalam hidup.

Krisis di Usia Tengah Baya

Pengertian Krisis Tengah Baya

Banyak orang menyebut krisis tahap ini dengan puber kedua.  Apa maksudnya,  kalau secara fisik ini salah kapra karena istilah puber berasal dari kata latin “pubescere” yang berarti seseorang mulai mendapatkan pubes atau rambut kemaluan sebagai tanda kelamin sekunder yang memungkinkan perkembangan seksual, (usia 12-16 tahun). (Siti Rahayu Haditomo, Moules Knours, 1992:256).  Namun bila  Secara emosional ya karena berbagai gelombang emosi dialami oleh pria maupun wanita yang berusia tengah baya walaupun tidak sederas krisis tahap pertama ketika berusia 14 tahun.

Krisis adalah masa gawat, genting dan kemelut (Kamus Inggris-Indonesia).  Wright dan Davis segala sesuatu yang memaksa adanya perubahan, dan mengalami titik balik dalam sesuatu. (1993:11).

Jadi, dapat disimpulkan bahwa krisis merupakan goncangan atau gejolak sebagai akibat perubahan yang terjadi, baik yang berdampak pada pikiran, emosi maupun tingkahlakunya, aspek spiritual dan fisiknya. Pria maupun wanita akan mengalami krisis bila memasuki usia tengah baya karena perubahan yang terjadi, dari usia pemuda ke usia lanjut.  Goncangan-goncangan ini seringkali drastis, sering juga halus tergantung pada pengalaman-pengalaman sebelumnya.  Hammer mengatakan bahwa setiap tujuh tahun, kita mengalami perubahan disertai dengan krisis-krisis kehidupan, usia 1-7 tahun, 8-14 tahun dan 15-22tahun.  (1988:10).  Rentang usia tengah baya berkisar  35 thn-55 thn.  Dewasa lanjut usia 55-70 tahun.

Tahap-tahap Krisis.

Krisis yang dialami oleh usia tengah baya berlangsung 3-5 tahun, dengan melalui dua tahap.  Fase pertama, ia akan  mengalami kekecewaan secara umum, suhu meningkat dan mungkin akan terjadi perubahan gaya hidup.  Fase kedua, ia akan mengalami depresi, traumatis, melarikan diri secara drastis, daya kerja berubah. Ia akan berusaha mencapai nilai atau apa yang diharapkan.  Dan bila tercapai maka suhunya akan menurun. Bila terhambat akan lebih besar tekanan dan gelombang krisisnya.  Setiap orang harus melewati tahap ini, namun beberapa orang tidak menyadarinya atau sengaja mengalihkan tekanan tersebut kepada bekerja keras untuk mengaktualisasikan nilai mereka, sehingga seolah-olah tidak ada perubahan apapun dalam hidup mereka sejak kecil hingga dewasa.  Mereka tidak menyadari bila mereka telah ditekan oleh dua masa peralihan (puber I dan puber II), bila usia lansia mereka akan masuk ke dalam pengalaman krisis yang serius.

Penyebab dan Gejala Krisis

  1. a. Perubahan fisik

Baik pria maupun wanita sama mengalami perubahan fisik:  Wajah mengkerut, ubanan, pinggang mengembang perut membesar, otot paha terasa sakit, tekanan darah tinggi, tenaga berkurang, penglihatan dan pendengaran berkurang.

  1. b. Perubahan psikologis

Bagi seorang pria yang memasuki fase ini mengalami ketidakstabilan emosi.  Kadang gembira, bersemangat, kadang murung, tidak mau diajak bicara, keadaan diseputarnya seakan tawar, sehingga mereka mengeluh dalam banyak hal, masalah anak, pekerjaan, dll.  Bagi seorang wanita tengah baya sering mengalami kecemasan dan ketakutan kehilangan suaminya, kesepian dan kadang-kadang kemarahan.  Keduanya bisa mengalami depresi, bagi wanita yang tidak siap akan mengalami depresi yang berat ketika memasuki masa menopause. Paling berat bagi mereka yang tidak menikah atau ibu janda yang rentan.

  1. c. Perubahan penampilan

Bagi seorang wanita tengah baya, panampilan merupakan nomor satu penyebab krisis.  Oleh karena itu Cecil Osborn pernah melukiskan fase-fase kehidupan seorang wanita sbb:  Pada masa bayi, ia membutuhkan cinta dan perhatian.  Pada masa anak-anak ia menginginkan kesenangan.  Pada usia duapuluhan ia menginginkan percintaan.  Pada usia tiga puluhan ia menginginkan sanjungan. Pada usia empat puluhan ia menginginkan simpatik dan pada usia lima puluhan ia menginginkan uang.  Bagi seorang pria, panampilan berada pada urutan bagian akhir.  Usia dan karir yang lebih menentukan harga diri seorang pria.

  1. d. Perubahan perilaku

Bagi pria:  mulai bertanya-tanya mengapa saya bekerja, apa yang sudah saya kerjakan, bagaimana saya dapat menata pekerjaan supaya pekerjaanku lebih berarti?  Dan bagi wanita: ingin belajar ulang, lebih sering mengikuti seminar-seminar, ingin meningkatkan aspirasi karirnya. Conway mengatakan bahwa seorang pria setengah baya bagaikan balon yang mulai kempis, sementara wanita seperti manuver sebuah roket, usia 41 thn. berlaku seperti usia 31 tahun.

  1. e. Perubahan hubungan dalam keluarga

Pria tengah baya mulai memikirkan hubungan yang telah hilang selama mengejar karir, kini saatnya ia mulai memikirkan anak-anak.  Sedangkan bagi wanita ini saatnya untuk menyibukkan dirinya di luar rumah.  Sekian tahun telah membesarkan anak-anak, sekarang ia siap menghadapi tantangan baru di luar rumah.  Masalah keintiman:  Pria ingin agar isterinya berperilaku sebagai seorang pacar yang mesra bukan hanya pengelola rumah tangga. Bagi wanita ketegasannya sebagai bukti kemesraan.  Dan apabila isteri sibuk di luar rumah sepanjang hari, maka bila malam tiba sudah kecapean dan suami terbaikan.

Studi Kasus

Sudah Diperiksa Psikiater
Minggu, 8 Nopember 2009 | 00:26 WIB

SURABAYA – Hingga kini kondisi Anita (40), ibu yang mengajak anaknya bunuh diri dengan cara lompat dari lantai 4 Darmo Trade Centre (DTC) Wonokromo, masih kritis.

Wakil Direktur Bidang Pelayanan Medik RSUD dr Soetomo, dr Urip Murtedjo SpB-KL mengatakan, saat ini Anita masih dirawat di ruang observasi intensif IRD lantai 3. “Kalau masih dirawat di ruang observasi intensif, berarti kondisinya tetap kritis dan masih dirawat intensif,” ujarnya, Sabtu (7/11).

Setiap harinya, perkembangan dan situasi Anita masih dalam tahap pengawasan tim dokter. Bahkan sampai sekarang sudah ada sekitar 4 tim dokter yang mengawasinya. ”Salah satunya tim dokter yang terdiri psikiater atau ahli jiwa. Tim dokter tersebut menanyai dan memeriksa kesehatan jiwanya,” tutur Urip.

Ini berarti, sejak dirawat di rumah sakit milik pemerintah itu, kondisi Anita berangsur membaik dan sesekali bisa berkomunikasi meski tidak bisa lancar. ”Buktinya tim dokter psikiater sudah bisa menanyai dan berbicara kepadanya. Mudah-mudahan perkembangannya terus menunjukkan arah positif,” paparnya.

Urip juga menjelaskan, Anita saat ini sedang menderita multi trauma. Antara lain menderita patah tulang leher, tulang punggung, dan patah tulang pinggul, serta cedera berat pada perut.

Sementara Adrin Navianto alias Dani, suami Anita, ketika ditemui Jumat mengaku tetap tak tahu apa motif yang membuat ibu tiga anak ini nekat. “Anita juga tidak SMS waktu itu,” ujarnya.

Anita, menurut Dani adalah istri yang memiliki pemikiran pendek. Pemikiran pendek yang dimaksud ialah mudah menyelesaikan masalah tanpa berpikir panjang. “Akibat”  tidak terlalu dipusingkan oleh Anita.

Dani memahami karakter istrinya ini dari dulu. Karena itulah ia sering memilih mengalah ketika pertengkaran terjadi. Mengalah yang sering dilakukan ialah dengan pergi menjauh. Ini dilakukan untuk menghindari tindakan spontan Anita yang malah bakal memperparah berujung pada lebih parah tingkat perseteruannya.

Dia juga membebaskan Anita bergaul dengan teman-temannya. “Biar kalau ada yang salah dalam rumah tangga kami, teman-temannya bisa memberi masukan. Biar istri saya belajar untuk tidak tergesa-gesa melakukan tindakan,” kata Dani.

Dani juga belum bisa memutuskan bagaimana sikapnya nanti, bagaimana pun Anita tetap istri dan ibu dari anak-anaknya. Tapi di lain pihak, Anita telah menghilangkan nyawa anak kesayangannya. “Gak tau mas, saya bingung,” ujarnya.

Staf pengajar Fakultas Psikologi Ubaya, Hartanti, melihat perlakuan Anita itu sebagai akibat stres yang berkepanjangan. Stres ini diderita secara fisik maupun psikologis. Gangguan yang disebabkan depresi berkepanjangan ini di antaranya sulit tidur, mudah marah, dan gemar menyakiti diri sendiri.

Ia juga menilai Anita memiliki pribadi yang rentan. Pada prinsipnya, pribadi yang rentan selalu kurang pengalaman dalam menyelesaikan masalah. Kecenderungan yang dilakukan adalah menghindari masalah. “Saya melihat Anita memiliki kepribadian tertutup,” jelasnya.

Kebebasan yang diberikan Dani, bukanlah solusi yang tepat. Kebebasan Anita tetaplah harus mendapat arahan-arahan. Apa yang dilakukan Dani itu justru berakibat blunder. “Masalah ini berawal dari suaminya, jadi fokus perhatian Anita juga tertuju pada suaminya. Yang lain tidak akan bisa mengarahkannya,” ungkap Hartanti.fqi,b2

Pertanyaan :

Mengapa Anita melakukan upaya bunuh diri diusianya yang sudah cukup matang (disaat umur 40 tahun), mungkinkah Anita mengalami krisis pada masa tengah baya? Jelaskan!

Daftar Pustaka

  • Papilia E. Diane, dkk. 2008. Human Development. Jakarta; Prenada Media Group
  • Santrock J.W. 2002. Perkembangan Masa Hidup. Jakarta; Erlangga
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.