Psikologi Ceria^^

It's all about Psikologi..

Teori Karen Horney Maret 18, 2010

Filed under: Teori Psikologi — punyabunga @ 4:52 am

Menurut pandangan Karen Horney, manusia mengawali hidupnya dengan perasaan tidak berdaya menghadapi kekuatan dunia yang secara potensial penuh permusuhan (potentially hostile world) sehingga anak sepenuhnya bergantung pada orangtua agar dapat bertahan. Secara alami, anak mengalami kecemasan (anxiety), ketidakberdayaan (helpless) dan kerentanan (vulnerability) sehingga tanpa bimbingan dari orangtua dalam membantu anak belajar mengatasi ancaman dari luar dirinya, maka anak akan mengembangkan basic anxiety yang menjadi dasar dari tumbulnya konflik-konflik di masa mendatang.

Horney sependapat dengan Freud dalam pandangan tentang pentingnya masa-masa awal kehidupan dalam membentuk kepribadian di masa dewasa. Namun dia berbeda dalam hal bagaimana kepribadian terbentuk secara spesifik. Horney merasa bahwa pada masa kanak-kanak, bukan faktor biologis, namun faktor sosiallah yang mempengaruhi perkembangan kepribadian. Tidak ada tahapan universal dalam perkembangan maupun konflik masa kecil yang tak terelakkan. Namun yang menentukan adalah hubungan sosial antara anak dan orang tua.

Horney percaya bahwa masa kecil ditandai oleh dua kebutuhan: kebutuhan terhadap rasa aman dan kepuasan. Keduanya merupakan dorongan yang bersifat universal dan sangat penting. Namun dalam teorinya Horney beranggapan bahwa rasa aman jauh lebih penting daripada kepuasan. Belakangan, sejumlah kebutuhan dasar fisiologis dimasukkan dalam kebutuhan yang lebih sederhana. Manusia membutuhkan sejumlah makanan, air, aktifitas seksual, tidur, dsb. Tentu saja, baik bayi maupun orang dewasa tidak bisa hidup lama tanpa terpenuhinya syarat-syarat ini, namun hal ini bukanlah suatu yang pokok dalam pembentukan kepribadian.

Menurut Horney – apa yang menentukan kepribadian – yang utama adalah kebutuhan rasa aman, yang berarti perlindungan dan bebas dari rasa takut. Ada-tidaknya rasa aman dan ketakutan akan menentukan tingkat normal-tidaknya perkembangan kepribadian selanjutnya.

Rasa aman seorang anak sepenuhnya tergantung pada perlakuan yang diterimanya dari orang tua. Secara umum, Horney merasa bahwa cara orang tua yang memperlemah atau mencegah rasa aman adalah untuk menunjukkan tidak adanya kehangatan dan kasih sayang terhadap anak, dan keadaan inilah yang dialami Horney sewaktu kecil. Dia percaya bahwa anak-anak bisa bertahan terhadap hal-hal yang dapat menyebabkan trauma tanpa berakibat menyakitkan seperti dipukul, pengalaman seksual sebelum waktunya, atau menghentikan menyusui secara tiba-tiba, selama mereka merasa diinginkan dan dicintai sehingga merasa aman.

Namun orang tua bisa saja melakukan berbagai perlakuan yang bisa mengurangi rasa aman dan dengan demikian menimbulkan rasa permusuhan pada diri anak. Perlakuan tersebut seperti: pilih kasih terhadap saudara kandung secara terang-terangan, hukuman yang tidak adil, perilaku yang tak menentu, janji yang tidak ditepati, ejekan, hinaan, dan pengasingan anak dari orang lain. Horney juga percaya bahwa seorang anak mengetahui jika cinta orang tua bersifat apa adanya dan tidak mudah dikelabui dengan ungkapan dan ekspresi cinta secara palsu. Karena beberapa alasan, rasa permusuhan yang timbul pada anak mungkin akan di represi. Alasan-alasan ini meliputi: rasa tidak berdaya, takut pada orang tua, kebutuhan terhadap ekspresi cinta, dan rasa bersalah.

Horney sangat menekankan rasa tidak berdaya pada bayi. Namun tidak seperti Adler, dia tidak percaya bahwa setiap bayi perlu merasa tidak berdaya, meskipun ketika perasaan ini muncul dapat mendorong berkembangnya perilaku neurotik. Ada-tidaknya perasaan tak berdaya yang dialami anak tergantung pada bagaimana orang tua memperlakukan mereka. Keadaan anak yang terlalu dilindungi, dimanja, dan dibiasakan untuk tergantung, akan mendorong timbulnya rasa tidak berdaya. Semakin anak merasa tidak berdaya, maka dia semakin tidak berani menentang atau memberontak kepada orang tua. Hal ini menunjukkan bahwa rasa permusuhan direpresi. Sebagaimana ditulis oleh Horney, akibatnya, anak yang berada dalam situasi seperti ini akan mengatakan: “Aku harus merepresi rasa permusuhanku, karena aku butuh kamu.”

Seorang anak dapat dengan mudah dibuat merasa takut kepada orang tuanya melalui hukuman, ancaman, atau pukulan. Ada banyak hal berbau intimidasi yang bisa diberikan. Seorang anak dapat dibuat merasa kuatir dan takut kepada kuman, mobil jalan, anjing, orang asing, atau anak lain melalui pengamatan mereka terhadap apa yang orang tua mereka katakan dan lakukan berkenaan dengan hal-hal tersebut. Semakin takut seorang anak terhadap hal-hal “berbahaya” di sekitarnya dan orang tua mereka, semakin mereka merepresi rasa pemusuhan terhadap orang tua mereka. Inilah pikiran anak ketika berkata: “Aku harus merepresi rasa permusuhan karena aku takut kepadamu.”

Sebaliknya, cinta dapat menjadi alasan lain bagi anak untuk merepresi rasa permusuhan terhadap orang tuanya. Horney menunjukkan situasi di mana orang tua terus-menerus mengatakan kepada sang anak betapa mereka mencintainya dan berapa banyak pengorbanan mereka untuk sang anak, namun tidak merasakan kehangatan dan cinta yang sebenarnya. Sang anak mengenali bahwa ekspresi-ekspresi verbal ini adalah pengganti bagi cinta yang lebih dalam. Hal-hal inilah yang dimiliki oleh anak-anak, dan mereka merepresi rasa permusuhan karena takut kehilangan hal-hal tersebut.

Ada tiga faktor – rasa tidak berdaya, takut, dan cinta – yang dapat menyebabkan seorang anak merepresi rasa permusuhan untuk menghindari rusaknya hubungan mereka dengan orang tua mereka. Seorang anak harus memilih antara membutuhkan mereka, takut kepada mereka, atau takut kehilangan cinta yang mereka tawarkan, seperti apapun cinta itu.

Ada sebuah alasan terakhir mengapa rasa permusuhan direpresi. Pada budaya kita, anak seringkali dibuat merasa bersalah ketika mengungkapkan rasa permusuhan atau memberontak orang tua. Anak dibuat merasa tidak berharga, jahat, atau berdosa ketika menyimpan rasa marah. Semakin seorang anak merasa bersalah, semakin dalam dia merepresi rasa pemusuhan.

Karena alasan-alasan ini, maka anak bertahan dalam rasa permusuhan. Pada akhirnya rasa marah yang direpresi ini dimanifestasikan dalam bentuk suatu keadaan yang oleh Horney disebut “basic anxiety” (kecemasan dasar).

Basic anxiety adalah konsep utama Horney, yang mengacu pada perasaan terisolasi dan tidak berdaya seorang anak dalam potentially hostile world. Secara umum, Horney menyatakan bahwa segala sesuatu yang menggangu rasa aman dalam hubungan anak dengan orangtuanya akan menghasilkan basic anxiety. Kecemasan dasar (basic anxiety) berasal dari rasa takut; suatu peningkatan yang berbahaya dari perasaan tak berteman dan tak berdaya dalam dunia penuh ancaman. Kecemasan ini membuat individu yang mengalaminya yakin bahwa dirinya harus dijaga untuk melindungi keamanannya. Kecemasan ini juga cenderung direpres, atau dikeluarkan dari kesadaran, karena menunjukkan rasa takut bisa membuka kelemahan diri, dan menunjukkan rasa marah berisiko dihukum dan kehilangan cinta dan keamanan.

Terdapat banyak faktor dalam lingkungan yang dapat menyebabkan timbulnya rasa tidak aman pada seorang anak, yaitu yang disebut oleh Horney sebagai basic evil, yang meliputi dominasi langsung maupun tidak langsung, pengabaian, penolakan, kurangnya perhatian terhadap kebutuhan anak, kurangnya bimbingan, penghinaan, pujian yang berlebihan atau tidak adanya pujian sama sekali, kurangnya kehangatan, terlalu banyak atau tidak adanya tuntutan tanggung jawab, perlindungan yang berlebihan, diskriminasi, dan lain sebagainya. Rasa tidak aman (insecure) membuat anak mengembangkan berbagai strategi untuk mengatasi perasaan-perasaan isolasi dan tak berdayanya. Ia bisa menjadi bermusuhan dan ingin membalas dendam terhadap orang-orang yang menolaknya atau berbuat sewenang-wenang terhadap dirinya. Anak juga bisa menjadi sangat patuh supaya mendapatkan kembali cinta yang dirasakannya telah hilang. Strategi lain adalah anak mengembangkan gambaran diri yang tidak realistik, yang diidealisasikan, sebagai kompensasi terhadap perasaan-perasaan inferioritasnya.

Menurut Horney, terdapat sepuluh strategi yang merupakan konsekuensi pencarian solusi bagi hubungan yang terganggu antara anak dan orang tua yang disebut neurotic trends atau neurotic needs, yaitu:

1. Kebutuhan neurotik akan afeksi dan pengakuan.

2. Kebutuhan neurotik akan pasangan yang mendominasi.

3. Kebutuhan neurotik untuk membatasi hidupnya secara sempit.

4. Kebutuhan neurotik akan kekuasaan.

5. Kebutuhan neurotik untuk mengeksploitasi orang lain.

6. Kebutuhan neurotik akan pengakuan dan prestise.

7. Kebutuhan neurotik akan penghormatan

8. Kebutuhan neurotik untuk ambisi dan pencapaian

9. Kebutuhan neurotik akan self-sufficiency dan kemandirian serta

10. Kebutuhan neurotik akan kesempurnaan dan ketaktercelaan.

Strategi Mengatasi Konflik

1.  Moving toward people

Memiliki ciri-ciri seperti menganggap orang lain mempunyai arti yang sangat penting dalam hidupnya, mempunyai sikap tergantung pada orang lain, ingin disenangi, dicintai dan diterima, bersikap intrapunitif (suka menghukum/ menyalahkan diri sendiri) serta mengorbankan diri sendiri dan tidak individualistis.

2.  Moving against people

Mempunyai ciri-ciri seperti bersikap agresif, oposisional (bertentangan dengan orang lain), ingin menguasai dan menindas orang lain, tidak pernah memperlihatkan rasa takut maupun rasa belas kasihan serta menjalin hubungan dengan orang lain berdasarkan pertimbangan untung dan rugi. Sementara untuk orang yang memiliki orientasi.

3.  Moving away from people

Mempunyai ciri-ciri seperti menjauh atau lari dari realitas, tidak mau mengadakan keterlibatan emosi dengan orang lain baik dengan mencintai, berkelahi atau berkompetisi dan individu ini selalu berusaha agar bisa hidup tanpa orang lain dan benar-benar tidak ingin tergantung pada orang lain.

Perkembangan Kepribadian Anak Korban Kekerasan Orang Tua dari Masa Kanak hingga Dewasa menurut Perspektif Teori Kepribadian Psikoanalisis Karen Horney

By       : Ula, Wiwid, Jumrotul

Email   : library@lib.unair.ac.id; library@unair.ac.id

Undergraduate Theses Airlangga University

Created: 2007-11-12

Tujuan dari penelitian ini adalah Mengungkap perkembangan kepribadian korban kekerasan orang tua dari masa kanak-kanak hingga dewasa menurut perpektif teori kepribadian Psikoanalisis Sosial Karen Horney dan untuk memahami bagaimana cara individu yang mengalami kekerasan ketika kecil untuk bertahan menghadapi setiap permasalahan yang dihadapi dalam hidupnya. Menurut Karen Horney seorang anak akan tumbuh menjadi seseorang yang neurotic ketika ia mendapatkan kekerasan,pengabaian dan sikap permusuhan dari orang tuanya, sehingga digunakannya satu pedekatan yaitu Psikoanalisis Sosial Karen Horney. Berdasarkan teori Karen Horney maka individu yang di masa kecilnya akan mengalami basic anxiety yang selalu muncul bersama dengan basic hostility. Sehingga mereka akan mengalami konflik intrapsikis pada diri mereka, sedangkan dengan lingkungannya akan mengalami gaya dan konflik interpersonal.

Penulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif. Tipe studi kasus yang akan digunakan dalam penulisan ini adalah studi kasus instrinsik. Yang menjadi kriteria subjek penelitian ini adalah individu yang di masa kecilnya mendapatkan kekerasan dari orang tuanya.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan kepribadian individu yang di masa kecilnya menjadi korban kekerasan orang tuanya memiliki keunikan sendiri.

  • Subjek 1 saat kecil menjadi anak yang pemberontak dan aggresive. Saat itu ia merasakan perasaan dendam dan benci kepada orang tuanya. Saat ini Subjek 1 memiliki konfilik intrapsikis yang ditampilkan dalam sikap negativistik. Gaya dan konflik interpersonal Subjek 1 saat ini adalah selalu beranggapan negatif jika orang lain berteman dengannya karena sejak kecil ia telah terbiasa jika orang lain selalu membencinya dan tidak pernah menyayanginya.
  • Subjek 2 sejak kecil menjadi anak yang passive dan tidak dapat bersikap asertif Saat itu ia merasakan dirinya selalu diperlakukan oleh orang tuanya dengan cara yang berbeda dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. Gaya dan konflik interpersonal pada Subjek 2 saat ini selalu beranggapan negatif jika orang lain berteman dengannya karena ia selalu merasa jika orang lain tidak dapat menerima kekurangannya. Konflik intrapsikis Subjek 2 saat ini ditampilkan dalam sikap pesimistik.
  • Subjek 3 hidup di keluarga militer sehingga Subjek 3 selalu merasa hidupnya bersifat mekanis karena kerasnya peraturan yang ia terima dari orang tuanya. Konflik intrapsikis Subjek 3 saat ini ditampilkan dalam sikap prosedural. Gaya dan konflik interpersonal pada Subjek 3 adalah selalu beranggapan negatif jika ada orang lain yang berteman dengannya karena ia selalu merasa jika orang lain akan selalu menututnya.
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s