Psikologi Ceria^^

It's all about Psikologi..

Teori Orval Hobart Mowrer Maret 18, 2010

Filed under: Teori Psikologi — punyabunga @ 4:56 am

Sejak tahun 1940 – 1950-an, para psikiatri, antropolog, dan psikolog pendidikan mengusulkan beberapa teori tentang perkembangan kepribadian. Orval Hobart Mowrer (1907-) dan Clyde K.M Kluckhohn (1905-1960) mengungkapkan bahwa kepribadian tumbuh berkesinambungan, penyesuaian yang tidak biasa dan mengubah kebiasaan dari keseluruhan individu sesuai situasi sosial, menghadapi konflik dan mendapatkan atau mencapai kesehatan, hubungan yang memuaskan dan merasakan kemantapan dan sukses untuk meredakan dan memindahkan perasaan takut, perasaan tidak aman dan kecemasan.

Teori rintisan dari Hobart Mowrer (1950, 1953), terbukti sangat berpengaruh merangsang usaha-usaha lebih lanjut untuk memperluas prinsip-prinsip belajar ke dalam bidang perkembangan kepribadian dan psikoterapi.

Hobart mowrer merupakan salah satu tokoh yang lebih membahas tentang perkembangan spiritual umat nasrani. Mowrer mengatakan bahwa “Orang yang neurotik atau orang yang menderita gangguan syaraf, menurut pengalaman pengarang, semuanya, tanpa kecuali adalah orang yang telah melakukan hal-hal yang menyebabkan ia merasa malu, tetapi ia tidak mau mengakui dan membuang sifat ketidak- dewasaannya itu, malah mencoba menyangkal, tidak mau mengakui diri bodoh, serta memendam perasaan malu, dan perasaan bersalah itu.” (Learning Theory and Personality Dynamics, Ronald, N.Y.)

Dengan tidak mau mengakui kegagalan-kegagalan dan menghadapi pilihan-pilihan yang salah, kita menanam benih-benih perasaan bersalah, kekhawatiran dan tindakan-tindakan yang salah lainnya dalam kepribadian kita.

Alkitab selalu memperingatkan umat manusia agar berhati-hati mengenai cara menanggulangi kesalahan-kesalahan dan kegagalan-kegagalan kita. Kitab Suci menamakan “hal-hal yang membuat kita merasa malu itu” sebagai dosa. Alkitab pun mengatakan bahwa kita tidak hanya merasa bersalah terhadap hal-hal semacam itu; bahkan kita benar-benar bersalah.

Di sinilah Kitab Suci dan ahli-ahli psikologi sering bertentangan. Dalam pandangan Alkitabiah, kesalahan itu nyata, dan kesalahan itu sendiri harus ditanggulangi. Bagi psikologi yang bersifat keduniawian, perasaan-perasaan bersalah itu merupakan inti persoalan. Kesalahan itu sendiri semata-mata bersifat kultural dan relatif — tidak obyektif dan tidak nyata.

Tetapi jika pandangan Alkitab itu benar, cara pengobatan yang dicoba diterapkan oleh ahli-ahli psikologi semacam itu (mengemukakan alasan- alasan bagi kekhawatiran dan perasaan bersalah serta mencoba menghilangkannya) benar-benar akan mengobati gejalanya, tetapi bukan penyakitnya.

Di sini jurang pemisah antara pandangan duniawi dan pandangan Kristus terhadap manusia sekali lagi dinyatakan dengan jelas. Jika kehidupan di dunia ini merupakan satu-satunya hal yang dipersoalkan, maka menyembuhkan gejala-gejala saja mungkin cukup. Tetapi apabila manusia dipandang sebagai pribadi-pribadi yang terus hidup, yang direncanakan untuk terus sadar akan dirinya selama-lamanya, tidaklah cukup jika menanggulangi perasaan bebas dari gejala-gejala itu hanya untuk sementara saja. Kesalahan itu sendiri harus ditanggulangi dan dihilangkan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s