Psikologi Ceria^^

It's all about Psikologi..

Increasing Communication Skill “Kemampuan Mendengar Aktif” April 23, 2010

Filed under: Uncategorized — punyabunga @ 12:30 am

Komunikasi membutuhkan proses dua arah, yaitu berbicara dan mendengar. Mendengar adalah proses mengartikan apa yang didengar dan secara mental mengaturnya agar dapat diterima akal. Kebanyakan manusia adalah ahli dalam berbicara dan presentasi, tetapi mendengar merupakan keahlian yang terabaikan dengan asumsi bahwa semua orang belum tentu dapat melakukannya. Seseorang akan tersadar ketika dikatakan “Anda tidak mendengarkan saya” atau “Anda sebaiknya mendengar apa yang saya katakan”.

Keterampilan mendengar sebaiknya dimiliki oleh setiap individu dalam berbagai situasi termasuk dalam situasi belajar mengajar. Mahasiswa akan mampu menyerap materi yang diajarkan dosen di kelas jika mampu melakukan proses mendengar yang baik. Percakapan antar teman akan berarti jika masing-masing memiliki keterampilan mendengar.

Mendengar aktif merupakan modal dasar bagi terjalinya relasi yang baik dengan siapapun kita berkomunikasi dan berelasi. Dengan kemampuan berkomunikasi yang baik, iklim relasi yang tercipta akan terasa nyaman, rileks dan aman, baik dalam keluarga, tempat kerja maupun pergaulan dimanapun kita berada (http://www.studygs.net/indon/listening.htm)

Kita sering melupakan bahwa bila ingin didengar, maka kita pun harus mau mendengar. Perilaku mendengar terkesan sederhana, namun sebenarnya tidak mudah. Apalagi bila kita tidak menyadari bahwa kita memiliki kecenderungan memaksakan kehendak kepada orang lain.

Padahal, melalui kemampuan dan keterampilan mendengar aktif kita pun akan mendapatkan apa yang kita inginkan dari lawan bicara dengan cara hangat, luwes, dan tidak membuat orang lain merasa kurang nyaman. Apalagi merasa tidak nyaman karena terpaksa melakukan apa yang kita inginkan dari mereka.

Ada beberapa kiat untuk menjadi pendengar aktif dalam berkomunikasi, yaitu:

  • Memusatkan perhatian pada lawan bicara dan isi pembicaraannya.
  • Menunggu lawan bicara selesai mengutarakan maksudnya dengan menunda kecenderungan kita menginterupsi.
  • Menjaga kontak mata dengan lawan bicara.
  • Berupaya memberi reaksi yang relevan dengan isi pembicaraan lawan bicara kita.

Melalui keterampilan mendengar aktif, kita akan mengetahui saat dan cara yang tepat untuk menyampaikan apa yang sebenarnya ingin kita sampaikan kepada lawan bicara (http://msuyanto.com/baru/)

Level Listening

a.      Passive Listening :

Terjadi ketika seseorang mencoba menyerap informasi yang ada sebanyak mungkin.

b. Attentive Listening :

Dalam mendengar attentif, pendengar akan membuat asumsi tentang pesan yang disampaikan orang yang berbicara dan mengisinya dengan asumsi menurut yang pendengar inginkan. Pada tingkat mendengar ini, pendengar tidak mengecek apa yang didengarnya.

c.       Active Listening (Mendengar aktif) :

Adalah tingkat mendengar yang paling tinggi dan membutuhkan porsi yang paling besar dari pendengar. Dalam mendengar aktif, komunikasi adalah saling memberi, proses dua arah yang termasuk di dalamnya adalah mendengar dengan penuh perhatian, pengklarifikasian dan pengolahan pesan. Dalam mendengar aktif  pendengar juga tidak hanya mendengar dan bereaksi terhadap apa yang didengar tetapi juga menguraikan apa yang didengar dengan kata-kata sendiri, mengklarifikasi, dan memberi umpan balik pada orang yang berbicara. Mendengar aktif mengikuti prinsip 70/30; 70 persen waktu untuk mendengar dan 30 persen waktu untuk berbicara.

Manfaat Mendengar Aktif

  1. Pendengar dapat memusatkan diri pada kata kunci pesan yang disampaikan, bertanya untuk klarifikasi dan menjelaskan pernyataan yang meningkatkan pemahaman pada pendengar dan orang yang berbicara.
  2. Mendengar aktif mendorong komunikasi yang lebih jauh. Hal ini dapat membantu mahasiswa lebih memahami materi yang diberikan dosen baik dalam perkuliahan di kelas, dalam situasi konsultasi, maupun situasi lain.

Langkah-Langkah Mendengar Aktif

Beberapa langkah untuk menjadi pendengar aktif  adalah sebagai berikut.

1.         Tunjukkan rasa tertarik dan bersungguh-sungguh dalam mendengarkan. Gunakan isyarat verbal dan non-verbal untuk menunjukkan perhatian pada orang yang berbicara dan apa yang disampaikan.

2.         Bertanya jika belum paham. Tanya untuk klarifikasi tentang isi (Apakah ia berkata bahwa kita harus memecat karyawan atau hanya mengurangi harga) dengar pertanyaan lanjutan (Kapan dia harus memulai proses ini?).

3.         Hindari selingan. Hindari melakukan dua atau lebih kegiatan dalam satu waktu. Buat orang yang berbicara merasa dirinya orang yang paling penting di dunia.

4.         Gunakan kontak mata secara langsung. Abaikan computer, laporan atau kalender ketika berkomunikasi dengan teman dan rekan kerja. Pekalah pada perbedaan budaya dalam menginterpretasi makna yang mungkin akan muncul bila berkontak mata dengan yang lain.

5.         Jangan menyela. Menurut ahli etika Amerika, Letitia Baldrige, “Pendengar yang baik tidak menyela kecuali jika situasi memungkinkan”. Sela dan hitung sampai tiga (dalam hati) untuk meyakinkan bahwa orang yang berbicara telah menyelesaikan pernyataannya.

6.         Baca pesan verbal dan non-verbal. Teknik mendengar yang baik tentu memuat teknik penyelidikan yang baik pula. Ambil waktu dan energi yang dibutuhkan untuk memahami pesan bukan hanya yang diucapkan semata.

7.         Bersungguh-sungguh. Kenali dan ketahui perasaan dan emosi orang lain. Bila orang-orang merasa bingung, buat gurauan atau buat suasana yang memungkinkan agar pendengar tidak memperhatikan orang yang berbicara.

8.         Uraikan kata-kata untuk mengoreksi pemaknaan yang salah, refleksi pesan secara harfiah dan pertajam ingatan. Ulangi pernyataan untuk klarifikasi. Ucapkan, “Jika saya mendengar Anda … “ atau “Jadi yang Anda katakana adalah … “.

9.          Evaluasi pesan setelah mendengar seluruh fakta. Kebiasaan pendengar adalah membuat respon sebelum orang yang berbicara menyelesaikan pembicaraannya. Hindari memvonis dengan mengizinkan individu melengkapi seluruh pesan sebelum menilai isi dan manfaat pernyataan itu

10.        Konsentrasi pada pesan sebagaimana pada pemberi pesan. Pusatkan diri pada isi pesan itu sendiri, tapi yakinkan untuk mengecek dugaan tentang pemberi pesan sebelum memulai proses mendengar.

11.       Beri umpan balik (feedback) untuk mengecek keakuratan, tunjukkan pendapat dan perluas interaksi. Untuk contoh, “Anda ingin saya melengkapi laporan ini hari Jumat?” atau “Nampaknya kita tidak sependapat, apakah ada poin dari rencana yang ada yang dapat kita sepakati?”

12.        Dengarkan dengan seluruh tubuh. Gunakan kontak mata secara langsung, maju ke depan tapi bukan kepala dan gunakan komunikasi non-verbal untuk menunjukkan pemahaman atau untuk mendapat klarifikasi.

(http://www.uin-suka.info/joomlakusuka/ctsd/webctsd/Keterampilan_Interpersonal.htm)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s