Psikologi Ceria^^

It's all about Psikologi..

Teori Albert Bandura April 23, 2010

Filed under: Uncategorized — punyabunga @ 12:12 am

Penjelasan Bandura tentang Belajar Observasional

Menurut Bandura, belajar observasional adalah mungkin menggunakan imitasi atau mungkin juga tidak. Apa yang anda pelajari, kata Bandura, adalah informasi yang diproses secara kognitif dan bertindak berdasar informasi demi kebaikan diri sendiri. Jadi belajar observasional lebih kompleks ketimbang imitasi sederhana, yang biasanya hanya meniru orang lain saja.

Teori belajar yang paling mirip dengan teori belajar Bandura adalah teori Tolman. Tolman percaya bahwa belajar adalah proses konstan yang tidak membutuhkan penguatan dan Bandura juga sama. Dalam teori mereka bersifat kognitif dan keduanya bukan reinforcement theories. Poin final dari kesepakatan teori adalah teori motivasi. Menurut Tolman dan Bandura perbedaan antara belajar dan performa sangat penting.

Observasi Empiris

Dalam teori Bandura, model adalah apa saja yang menyampaikan informasi seperti orang, film, televise, pameran, gambar atau instruksi. Seperti contoh anak yang yang melihat model diperkuat setelah melakukan tindakan agresif cenderung menjadi anak yang paling agresif; anak yang melihat model dihukum cenderung paling tidak agresif; sedangkan anak yang melihat konsekuensi netral dari model, tingkat agresifitasnya berada di antara posisi dua kelompok tersebut. Dengan kata lain, apa yang mereka lihat dilakukan atau dialami orang lain akan mempengaruhi perilaku mereka. Anak dalam kelompok pertama mengamati vicarious reinforcement (penguatan pengganti atau tak langsung) dan ini menambaha agresifitas mereka; anak dalam kelompok kedua melihat vicarious punishment ( atau hukuman pengganti atau tak langsung) dan ia mengahambat agresifitas mereka. Meskipun anak tidak mengalami langsung penguatan dan hukuman , namun hal itu memodifikasi perilaku mereka.

Fase kedua studi tersebut didesain untuk menjelaskan perbedaan belajar-performa. Dalam fase ini, semua anak diberi insentif yang menarik agar mereproduksi (meniru) perilaku dari si model, dan mereka semua melakukannya. Dengan kata lain, semua anak telah belajar, respon agressif model, tetapi mereka melakukannya dengan cara berbeda-beda, tergantung pada kekuatan mereka sebelumnya telah melihat model itu diperkuat, dihukum, atau mendapat konsekuensi netral. Kesimpulan tentang perbedaan belajar dan performa adalah sama. Temua utama dari kedua eksperimen itu bahwa penguatan adalah variable performa, bukan variable belajar. Menurut Bandura, belajar observasional terjadi sepanjag waktu serta tidak membutuhkan respon nyata atau penguatan. Bandura percaya bahwa pengamat harus menyadari kotigensi penguatan itu memberikan efeknya :”karena belajar melalui konsekuensi respon sebagian besar adalah proses kognitif, konsekuensi pada umumnya tidak banyak menghasilkan perubahan dalam perilaku yang kompleks jika tidak ada kesadaran akan apa-apa yang diperkuat itu.”

Ringkasnya, Bandura berpendapat bahwa tidak ada semua unsure penting untuk analisis operasionanlnya terhadap belajar observasional. Yakni sering kali tidak ada stimulus diskriminatif, tidak ada respon nyata dan tidak ada penguatan

Proses yang Berpengaruh dalam Belajar Observasional

Proses Atensional

Sebelum sesuatu dapat dipelajari dari model, model itu harus diperhatikan. Bandura menganggap belajar adalah proses yang terus berlangsung, tetapi menunjukkan bahwa hanya yang diamati sajalah yang dapat dipelajari. Yang membuat sesuatu itu diperhatikan, yaitu, pertama kapasitas sensoris seseorang akan memengaruhi attentional process (proses atensional/proses memerhatikan). Jelas stimuli modeling yang digunakan untuk mengajari orang tunanetra atau tunarungu akan berbeda dengan yang digunakan untuk mengajari orang yang normal penglihatan dan pendengarannya.

Perhatian selektif pengamat bisa dipengaruhi oleh penguatan di masa lalu. Misalnya, jika aktivitas yang lalu yang dipelajari lewat observasi terbukti berguna untuk mendapatkan suatu penguatan, maka perilaku yang sama akan diperlihatkan pada situasi modeling berikutnya. Dengan kata lain, penguat sebelumnya dapat menciptakan tata-situasi perseptual dalam diri pengamat yang akan memengaruhi observasi selanjutnya. Berbagai karakteristik model juga akan memengaruhi sejauh mana mereka akan diperhatikan. Secara umum, Bandura (1986) mengatakan, “[Orang] memerhatikan model yang dianggap efektif dan mengabaikan model yang penampilan atau reputasinya tidak bagus … Orang akan lebih memilih model yang lebih mampu dalam meraih hasil yang bagus ketimbang model yang sering gagal” (h. 54).

Proses Retensional

Bandura berpendapat bahwa ada retentional process (proses retensional) di mana informasi disimpan secara simbolis melalui dua caa, secara imajinal (imajinatif) dan secara verbal. Jenis simbolisasi yang lebih penting menurut Bandura, adalah verbal:

Kebanyakan proses kognitif yang mengatur perilaku terutama adalah konseptual ketimbang imajinal. Karena fleksibiltas symbol verbal yang luar biasa, kerumitan dan kepelikan perilaku bisa ditangkap dengan baik dalam wadah kata-kata. Misalnya, detail rute yang dilalui seorang model dapat disimpan dan diingat untuk dipakai lagi nanti secara lebih akurat dengan mengubah informasi visual ke kode verbal yang mendeskripsikan deretan kapan mesti belok kiri (L) atau kanan (R) (misalnya RLRRL), ketimbang dengan mengandalkan pada imajinasi visual dari rute itu. (1986, h. 58)

Meskipun dimungkinkan untuk mendiskusikan symbol imajinal dan verbal secara terpisah, keduanya sering tidak bisa dipisahkan saat kejadian direpresentasikan dalam memori. Bandura (1986) mengatakan,

Walaupun symbol verbal memuat sebagian besar pengetahuan yang diperoleh melalui modeling, sering kali sulit untuk memisahkan mode-mode representasi. Aktivitas representasional biasanya menggunakan kedua system itu sampai tingkat tertentu … kata-kata cenderung membangkitkan citra yang terkait, dan citra dari suatu kejadian sering kali disadari atau di[ahamu secara verbal. Ketika stimuli visual dan verbal memberikan makna yang sama, orang mengintegrasikan informasi yang disajikan oleh modalitas yang berbeda ini ke dalam satu representasi konseptual umum. (h. 58)

Setelah informasi disimpan secara kognitif, ia dapat diambil kembali, diulangi, dan diperkuat beberapa waktu setelah belajar observasional terjadi. Menurut Bandura (1977), “Peningkatan kapasitas simbolisasi inilah yang memampukan manusia untuk mempelajari banyak perilaku melalui observasi” (h. 25). Symbol-simbol yang disimpan ini memungkinkan terjadinya delayed modeling (modeling yang ditunda)—yakni kemampuan untuk menggunakan informasi lama setelah informasi itu diamati.

Proses Pembentukan Perilaku

Behavioral production process (proses pembentukan perilaku) menentukan sejauh mana hal-hal yang telah dipelajari akan diterjemahkan ke dalam tindakan atau performa. Seseorang mungkin mempelajari sesuatu secara kognitif namun dia tak mampu menerjemahkan informasi itu ke dalam perilaku karena ada keterbatasan. Bandura berpendapat jika seseorang diperlengkapu dengan semua apparatus fisik untuk memberikan respons yang tepat, dibutuhkan satu perioda rehearsal (latihan repetisi) kognitif sebelum perilaku pengamat menyamai perilaku model. Menurut Bandura, symbol yang didapat dari modeling akan bertindak sebagai template (“cetakan”) sebagai pembanding tindakan. Selama proses latihan ini individu mengamati perilaku mereka sendiri dan membandingkannya dengan representasi kognitif dari pengalaman si model. Setiap diskrepansi antara perilaku seseorang itu dengan perilaku model akan menimbulkan tindakan korektif. Proses ini terus berlangsung sampai ada kesesuaian yang sudah memuaskan antara perilaku pengamat dan model. Jadi, retensi simbolis atas pengalaman modeling akan menciptakan pingkaran “umpan balik” yang dapat dipakai secara gradual untuk menyamakan perilaku seseorang dengan perilaku model, dengan menggunakan observasi diri dan koreksi diri.

Proses Motivasional

Dalam teori Bandura, penguatan memiliki dua fungsi utama. Pertama, ia menciptakan ekspektasi dalam diri pengamat bahwa jika mereka bertindak seperti model yang dilihatnya diperkuat untuk aktivitas tertentu, maka mereka akan diperkuat juga. Kedua, ia bertindak sebagai insentif untuk menerjemahkan belajar ke kinerja. Seperti telah kita lihat di atas, apa yang dipelajari melalui observasi akan tersimpan sampai si pengamat itu punya alas an untuk menggunakan informasi itu. Kedua fungsi penguat itu adalah fungsi informasional. Satu fungsi menimbulkan ekspektasi dalam diri pengamat bahwa jika mereka bertindak dengan cara tertentu dalam situasi tertentu, mereka mungkin akan diperkuat. Fungsi lainnya, motivational processes (proses motivasional) menyediakan motif untuk menggunakan apa-apa yang telah dipelajari.

Menurut Bandura, bukan hanya penguatan itu tidak diperlukan agar belajar terjadi, tetapi pengalaman langsung juga tak selalu perlu. Seorang pengamat dapat belajar cukup dengan mengamati konsekuensi dari perilaku orang lain, menyimpan informasi itu secara simbolis, dan menggunakannya jika perilaku itu bisa bermanfaat baginya. Jadi, menurut Bandura, informasi penguatan atau hukuman sama informatifnya dengan penguatan dan hukuman langsung.

Menurut Bandura, pembelajar memperoleh informasi lewat pengamatan terhadap konsekuensi perilakunya sendiri atau perilaku orang lain. Informasi yang diperoleh lewat observasi ini dapat digunakan dalam berbagai macam situasi jika ia membutuhkannya. Karena tindakan diri sendiri atau orang lain yang menghasilkan penguatan atau menghindarkannya dari hukuman adalah bersifat fungsional, maka tindakan-tindakan itulah yang cenderung akan diamati dan disimpan dalam memori untuk dipakai di waktu mendatang. Berbekal informasi yang diperoleh dari pengamatan terdahulu, seorang individu akan memperkirakan bahwa jika mereka bertindak dengan cara tertentu dalam situasi tertentu, maka akan muncul konsekuensi tertentu. Dengan cara ini, perkiraan konsekuensi itu akan, setidaknya sebagian, menentukan perilaku dalam situasi tertentu. Tetapi, perlu dicatat bahwa konsekuensi environmental yang diantisipasi ini bukan satu-satunya penentu perilaku. Perilaku sebagian juga dipengaruhi oleh perkiraan reaksi-diri, yang ditentukan oleh standar performa dan tindakan seseorang dan oleh pandangannya tentang kemampuan atau kecakapan dirinya.

Determinisme Respirokal dan Regulasi-Diri Perilaku Menurut Bandura

Determinisme Respirokal

Mungkin pertanyaan paling dasar dalam psikologi adalah, “Mengapa orang bertindak seperti yang mereka lakukan itu?” jawaban Bandura untuk pertanyaan ini termasuk dalam ketegori “sesuatu” yang lain. Jawabannya adalah orang, lingkungan, dan perilaku orang itu semuanya berinteraksi untuk menghasilkan perilaku selanjutnya. Dengan kata lain, ketiga komponen itu tidak bisa dipahami secara terpisah-pisah. Bandura meringkas tiga interkasi itu sebagai berikut : dimana P (person) adalah orang, E (environment) adalah lingkungan, dan B (behavior) adalah perilaku. Posisi ini disebut reciprocal determinism (determinisme respirokal). Salah satu deduksi dari dari konsep ini adalah bahwa kita bisa mengatakan perilaku mempengaruhi seseorang dan lingkungan, atau lingkungan atau orang mempengaruhi perilaku. Ringkasnya, konsep determinisme respirokal Bandura menyatakan bahwa perilaku, lingkungan, dan orang (dan keyakinannya) semua berinteraksi dan interaksi ketiganya itu harus dipahami dahulu sebelum kita bisa memahami fungsi psikologis dan perilaku manusia.

Regulasi-Diri Perilaku

Perilaku manusia sebagian besar adalah self-regulated behavior (perilaku yang diatur sendiri). Di antara hal-hal yang dipelajari manusia dari pengalaman langsung atau tidak langsung adalah performance standards (standar performa), dan stelah standar ini dipelajari, standar itu menjadi basis bagi evaluasi diri. Jika performa atau tindakan seseorang dala, situasi tertentu memenuhi atau melebihi standar, maka ia akan dinilai positif, jika sebaliknya ia dinilai negatif. Standar performa yang diinternalisasikan, perceived self-efficacy (anggapan tentang kecakapan diri) berperan besar dalam perilaku yang diatur sendiri. Maksud dari anggapan mengenai kecakapan diri ini adalah keyakinan seseorang tentang kemampuannya dalam melakukan sesuatu, dan ini muncul dari berbagai macam sumber termasuk prestasi dan kegagalan personal yang pernah dialaminya, melihat orang yang sukses atau gagal, dan persuasi verbal. Kecakapan diri seseorang mungkin berhubungan atau mungkin tidak berhubungan dengan real self efficacy (kecakapan diri yang sesungguhnya). Orang mungkin percaya bahwa kecakapan diri mereka rendah padahal sebenarnya cukup tinggi, dan sebaliknya. Situasi terbaik adalah ketika anggapan seseorang itu sesuai dengan kemampuan sesungguhnya.

Mekanisme Moral untuk Memisahkan Tindakan Tercela dengan Pencelaan Diri

a) Justifikasi moral

Tindakan yang tercela itu bmenjadi cara untuk mencapai tujuan yang lebih luhur dan karenanya dibenarkan. Contohnya seperti : saya mencuri untuk memberi makan keluarga.

b) Pelabelan eufemistis

Menyebut tindakan tercela sebagai sesuatu yang lain sehingga dapat melakukannya tanpa rasa bersalah. Contoh nya adalah ketika tentara sewaktu berperang, dia di bentuk pikirannya kalau membunuh bukan lah sebuah hal yang kejam, melainkan suatu kewajiban yang harus dilakukannya sebagai warga negara. Dan juga dengan begitu maka membunuh akan dianggap sebuah pekerjaan yang mulia.

c) Perbandingan yang Menguntungkan

Membandingkan tindakannya dengan tindakan orang lain yang lebih bengis, sehingga tindakan tercelanya tampak lebih baik. Dalam artian seperti, ‘’ jelas saya melakukannya, tetapi orang itu jauh lebih buruk.’’

d) Pengalihan Tanggung Jawab

Beberapa orang dapat melanggar prinsip moral mereka jika mereka merasa di perintah oleh otoritas dan karenanya merupakan tanggung awab yang memberi perintah. Contohnya : para prajurit nazi yang membunuh jutaan orang. Ketika diminta pertanggung jawaban, mereka menjawab kalau mereka hanya diperintah.

e) Difusi Tanggung Jawab

Ketika banyak orang yang bertanggung jawab, yakni ketika ada penyebaran tanggung jawab, maka individu tidak akan merasa bertanggung jawab.

f) Pengabaian atau Distorsi Konsekuensi

Orang mengabaikan akibat dari perbuatan yang mereka lakukan, sehingga mereka tidak perlu merasa bersalah.

g) Dehumanisasi

Ketika beberapa individu dianggap manusia rendahan, maka mereka bisa saja diperlakukan secara tidak manusiawi tanpa perlu erasa bersalah.

h) Atribusi Kesalahan

Seseorang selalu dapat menyebut sesuatu yang dikatakan atau dilakukan korban sebagai alasan untuk bertindak keras atau tercela. Contohnya seorang pemerkosa, menyalahkan korbannya juga bertanggung jawab atas pemerkosaan itu, karena dia memakai pakaian seksi sehingga mengundang orang ntuk melakukan pemerkosaan.

Kontribusi dan Kritik Bandura dalam Teori Belajar

Kontribusi Bandura dalam teori belajar

Menurut Bandura kita belajar dengan mengamati orang lain dan bahwa belajar terjadi dengan atau tanpa imitasi dan tanpa penguatan. Seteah itu interaksi tiga arah yang disajikan dalam gagasannya tentang determinisme resiprokal, yang isinya bahwa produk dari orang dan lingkungan dan juga memengaruhi orang dan lingkungan, dan karenanya menggeser perspektif kita dari fokus pada perilaku dan hubungan dinamis antara orang, lingkungan dan perilaku.

Kritik

Determinisme resiprokal dianggap kurang sempurna, karena sebenarnya interaksi sistematis bukan soa baru, serta prinsip ini menolak analisis kausal standar. Maksudnya jika perilaku menyebabkan perubahan pada orang, sementara orang itu menyebabkan perubahan dalam perilaku, sementara lingkungan menyebabkan perubahan dalam perilaku dan orang, dst, maka tugas menemukan apa penyebab sesungguhnya menjadi mustahil. Serta teori Bandura terlalu banyak membahas hal – hal yang kuran positif.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s