Psikologi Ceria^^

It's all about Psikologi..

Analisis Kepribadian Diri dari Tokoh Psikologi Kepribadian April 25, 2010

Filed under: Uncategorized — punyabunga @ 6:39 am

AUTOBIOGRAFI

Saya Bunga Permatasari, lahir pada tanggal 30 Januari 1990 di kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Saya anak pertama dari 4 bersaudara dan saya memiliki satu adik perempuan, satu adik laki-laki dan satu adik asuh. Sekarang keluarga saya berdomisili di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sedangkan saya dan adik saya perempuan yang berusia 17 tahun berdomisili di Surabaya, untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. Sayang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, sedangkan adik saya melanjutkan SMA.

Orang tua saya, ayah bekerja sebagai pegawai di sebuah perusahaan swasta, dan mama awalnya hanya menjadi ibu rumah tangga, tapi sejak saya memasuki SMP, mama mulai mencari kesibukan dengan menjadi pedagang dan membuka toserba. Sejak kecil saya dibiasakan hidup mandiri walaupun kadang-kadang masih dimanjakan. walaupun ada pembantu, saya dan keluarga saya berusaha untuk tidak tergantung dengan pembantu, dan berusaha melakuakn sendiri apa yang bisa dilakukan sendiri tanpa harus mengharap semuanya dikerjakan oleh pembantu.

Pada tahun 1993, saya mulai masuk play group, dan tahun 1994 saya memasuki TK di TK Islam Sabilal Muhtadin. Setelah menamatkan TK selama 2 tahun, pada tahun 1996 saya masuk sekolah dasar d SD Islam Sabilal Muhtadin dan kemudian melanjutkan pendidikan SMP di SMP Islam Sabilal Muhtadin. Setelah lulus dari SMP saya tidak mau melanjutkan sekolah ke SMA yang satu komplek dengan TK, SD, dan SMP saya, selain alasan bosan dengan lingkungan yang itu-itu saja, saya juga ingin mencari pengalaman sekolah di negeri. Akhirnya saya melanjutkan pendidikan SMA saya ke SMAN 7 Banjarmasin. Dan sekarang saya melanjutkan keprguruan tinggi di Universitas Airlangga Surabaya Fakultas Psikologi.

Dalam hal pertemanan, saya termasuk orang yang mudah mencari teman, walaupun awalnya sering merasa sungkan dan canggung untuk memulai perkenalan. Umumnya orang-orang yang pertama kali bertemu saya akan mengira saya adalah orang yang pendiam dan tidak banyak bicara (kalem). Memang seprti itulah saya jika baru pertama bertemu seseorang, saya akan lebih banyak diam dan bicara seperlunya saja. Namun keadaan seperti itu tidak seterusnya terjadi, apabila saya sudah merasa dekat dan terbiasa dengan orang tersebut, sikap saya yang awalnya canggung dan lebih banyak diam, akan berubah menjadi lebih ceria, semangat dan banyak bicara

KEPRIBADIAN

Saya termasuk anak yang dekat dengan kedua orang tua saya, apalagi dengan mama, kepribadian saya hampir mirip dengan mama saya, mungkin karena itulah saya dan mama bisa saling mengerti satu sama lain, walaupun terkadang ada terdapat perbedaan antara saya dan mama.

Kepribadian yang menonjol dari mama adalah sikapnya yang cepat emosi. Sama seperti mama, tapi kepribadian saya yang menonjol adalah sikap egois dan juga cepat emosi. Saya menginginkan semua berjalan seperti yang saya hendaki. Apa yang saya inginkan harus terpenuhi. Saya juga cepat marah jika sesuatu yang saya kehendaki ada yang menentang atau tidak bisa terwujud.

Namun sikap cepat marah tidak selalu bisa saya limpahkan pada orang lain, tergantung dengan siapa saya berhadapan. Jika orang tersebut belum terlalu mengenal bagaimana saya, saya bisa sedikit bersabar dan menahan amarah. Tapi terkadang, jika marah saya tidak bisa dilimpahkan pada orang lain, biasanya saya akan menangis atau melimpahkan dengan memukul, melempar atau membanting benda-benda yang berada di dekat saya.

Sikap cepat marah ini, bukan berarti saya orang yang sensitif dan gampang tersinggung. Saya bukan orang yang gampang tersinggung. Dan apabila saya merasa tersinggung dengan sikap atau perkataan seseorang, tidak selalu saya memperlihatkannya dengan marah pada orang tersebut, tergantung situasi dan kondisi pada saat itu. Kebanyakan yang saya lakukan mencoba untuk menghela nafas, agar denyut jantung menjadi normal lagi, karena saya merasa saat saya merasa tersinggung dan menjadi marah, denyut jantung saya menjadi tidak stabil, rasanya berdegup dengan kencang, dan ingin meluapkan semuanya.

Selain itu, mama adalah orang yang memiliki sikap ekstrovert, sangat terbuka dan sering share bersama saya. Mama sering mengajarkan saya untuk membagi kisah dan bercerita semuanya sama mama, agar saling mengerti dan memahami kehendak satu sama lain. Agar meminimalisir konflik antara saya dan mama. Karena sikap mama yang sering terbuka seperti itu kepada saya, membuat saya juga memiliki sifat yang ekstrovert seperti sekarang ini. Saya sering dipercaya oleh teman saya untuk saling berbagi kisah dan curahan hati, semuanya saya lakukan dengan ikhlas dan niat ingin membantu mereka sedikit melepaskan beban yang ditanggung sendirian, dan saya berusaha semampunya untuk membantu mereka yang ternyata memiliki kesusahan. Teman saya mungkin tidak akan membagi kisahnya, andai saja saya tidak membuka diri, makanya saya sangat bersyukur memiliki kepribadian seperti ini. Namun tidak semua hal juga yang bisa saya ceritakan, masih ada hal-hal yang bersifat privacy yang tidak bisa saya ceritakan pada siapa pun.

PEMBAHASAN KASUS DAN TEORI

  1. Kepribadian mudah marah

Menurut Carl Gustav Jung (1921) berdasarkan fungsinya manusia dibagi dalam beberapa tipe kepribadian, salah satunya adalah kepribadian emosional atau perasaan. Merupakan fungsi evaluasi, yaitu perasaan memberikan kepada manusia pengalaman-pengalaman subjektifnya tentang kenikmatan dan rasa sakit, amarah, ketakutan, kesedihan, kegembiraan, dan cinta. Terdapat pada orang-orang yang sangat dikuasai oleh emosinya, menilai sesuatu berdasarkan suka atau tidak suka.

Bentuk reaksi emosi amarah ini disebabkan hormon adrenalin meningkat, menyebabkan gelombang energi yang cukup kuat untuk bertindak dahsyat, maka tangan lebih mudah menghantam lawan, detak jantung meningkat. Dalam hal ini, terdapat kasus dalam kehidupan saya, yaitu ketika saya bertengkar dengan adik saya yang berumur 17 tahun. Pada saat pertengkaran terjadi, emosi saya tidak dapat tertahankan, emosi saya meledak-ledak. Terkadang emosi saya yang keluar berupa vebal. Saya kurang bisa menyikapi masalah yang terjadi antara kami berdua. Jika hal tersebut tidak terlampiaskan, amarah akan semakin meningkat dan saya melampiaskannya pada benda yang ada dekat saya, atau saya akan menangis di kamar.

Sesuai dengan kasus tersebut, merupakan contoh dari fungsi emosi berupa menyiapkan kita untuk beraktifitas, misalnya kita jadi beringas, jengkel, benci, kesal, berang, tersinggung, menyiapkan kita untuk bertindak melalui kompensasi positif atau negatif. Tindakan saya yang mengeluarkan amarah secara verbal misalnya kata-kata kasar dan melempar benda-benda merupakan contoh kompensasi negatif.

Intensitas reaksi emosi seseorang terhadap situasi (Jung,1903) merupakan ukuran lain tentang kekuatan suatu kompleks. Apabila jantung berdenyut lebih cepat, penafasan menjadi lebih dalam,dan muka menjadi merah,semua ini merupakan indikasi yang cukup baik bahwa suatu kompleks yang kuat berhasil ditemukan. Dengan menggabungkan gejala-gejala fisiologis dengan denyut nadi, pernafasan,dan perubahan-perubahan elektris pada konduktivitas kulit dengan tes asosiasi kata, maka bisa ditentukan secara agak tepat daya kompleks-kompleks seseorang.

  1. Kepribadian ekstrovert

Carl Jung menyatakan bahwa kepribadian ekstrovert adalah kepribadian yang terbuka, terdapat pada orang-orang yang lebih berorientasi keluar, kelingkungan, kepada orang lain. Orang-orang seperti ini ramah, senang bergaul, mudah mengerti perasaan orang.

Seorang ekstrovert bisa berfikir mendalam dan merenung akan diri dan kehidupan untuk pribadinya. Mereka bisa menjadi pribadi yang tenang dan  kalem, namun untuk membangkitkan energi hidupnya mereka akan lebih merasa semangat jika  berbagi dengan lingkungannya. Seorang ekstrovert perlu dunia sosial untuk menghidupkan diri dan membangkitkan  semangat hidupnya.

Kasus pada diri saya yaitu pengalaman yang saya alami sekarang. Saya sekarang berada jauh dari orang tua dan melanjutkan pendidikan ke Surabaya. Dengan teman baru, lingkungan baru dan semua yang berbeda dan terasa asing bagi saya. Walaupun saya anak yang sedikit pemalu untuk memulai pertemanan, tapi saya berusaha untuk tidak menutup diri saya dalam pergaulan. Saya berusaha seterbuka mungkin dengan orang yang ingin berteman dengan saya. Sikap ekstrovert yang saya miliki membuat orang sekitar saya merasa nyaman. Banyak kentungan yang saya peroleh dari sikap ini. Teman-teman saya menjadi tidak canggung untuk berbagi curahan hati dengan saya, karena saya terlebih dahulu berusaha membuka diri saya. Tapi keterbukaan yang saya maksudkan masih dalam batasan yang wajar, masih ada batasan untuk diri saya sendiri, agar tidak merugikan saya dan orang lain. Akhirnya kini saya sudah memiliki teman bahkan sahabat yang cukup banyak.

Selain masalah pertemanan, kasus pada diri saya tantang sikap ekstrovert yaitu masalah percintaan saya. Semenjak saya putus dari pacar saya 1 tahun yang lalu, saya merasa down dan sedikit trauma. Sikap seperti itu baru kali ini saya rasakan, sebelumnya setiap saya putus dari pacar tidak pernah merasa trauma dan tidak jera untuk memulai hubungan khusus lagi dengan laki-laki. Namun, karena sifat saya yang suka cerita atau curhat dengan teman, saya selalu diberi semangat dan masukan-masukan yang membuat saya tetap bertahan dengan kondisi yang saya alami, sehingga rasa trauma itu lama kelamaan mulai berkurang dan menghasilkan semangat yang baru. Dukungan sosial sangat saya butuhkan untuk menumbuhkan semangat. Jika saya tipe orang yang introvert dan susah bergaul, dengan kondisi yang saya alami, mungkin saya selalu didekati oleh rasa trauma.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s