Psikologi Ceria^^

It's all about Psikologi..

Teori Belajar Menurut Skinner April 25, 2010

Filed under: Uncategorized — punyabunga @ 6:57 am

Pengkondisian Tipe S dan Tipe R

Ada dua jenis pengkondisian. Pengkondisian Tipe S juga dinamakan Respondent Conditioning (pengkondisian responden) dan identik dengan pengkondisian klasik. Tipe ini disebut dengan tipe S karena menekankan arti penting stimulus dalam menimbulkan respon yang diinginkan.

Tipe R dinamakan Operant Conditioning (pengkondisian operan). Tipe R dinamakan tipe kondisi yang menyangkut perilaku operan karena penekannya adalah respon. Dalam pengkondisian tipe R kekuatan pengkondisiannya ditunjukkan dengan tingkat respon (respon rate).

Maka dapat kita lihat bahwa pengkondisian tipe R Skinner menyerupai pengkondisian instrumental Thorndike, dan pengkondisian tipe S Skinner identik dengan pengkondisian klasik Pavlov.

Sistem Kerja Skinner Box

Skinner membuat eksperimen dalam laboratoriumnya dengan memasukkan tikus kedalam kotak yang disebut “Skinner Box”.  Kotak ini sudah dilengkapi dengan berbagi perlengkapan yaitu tombol, alat pemberi makan, penampung makanan, lampu yang diatur nyalanya dan lantai yang dialiri oleh listrik.  Karena dorongan lapar sang tikus (hunger drive), si tikus berusaha keluar untuk mencari makanan. Selama tikus itu bergerak kesana-kemari untuk keluar dari box, tidak sengaja tikus itu menekan tombol sehingga makanan keluar. Secara terjadwal, diberikan makanan secara bertahap sesuai peningkatan perilaku yang di tunjukkan oleh tikus tersebut, sehingga proses ini disebut shapping.

Tujuan dari eksperimen ini sendiri adalah bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan. Maksudnya adalah penegtahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Selain itu mengahsilkan hukum-hukum dari teori belajar yaitu:

1. law of operant conditioning, yaitu jika timbulnya perilaku yang diiringi dengan stimulus penguat , maka perilaku itu menguat

2.law of operant of extinction, yaitu jika timbulnya operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat , maka perilaku itu akan menurun.

Penguat Positif dan Negatif

Untuk meringkas pandangan Skinner tentang penguatan, pertama kita punya primary positive reinforcement (penguat positif primer). Ini adalah sesuatu yang secara alamiah memperkuat bagi organisme dan berkaitan dengan survival, seperti makanan dan minuman. Setiap stimulus netral yang diasosiasikan dengan penguatan positif primer akan menerima karakteristik penguat sekunder. Sebuah penguat positif, entah itu primer atau sekunder asalah sesuatu yang apabila ditambahkan ke situasi oleh suatu respons tertentu, akan meningkatkan probabilitas terulangnya respons tersebut.

Primary negatif reinforcer (penguat negatif primer) adalah sesuatu yang membahayakan secara tidak alamiah bagi organisme, seperti suara yanga amat tinggi atau setrum listrik. Sebuah penguat negatif, entah itu primer atau sekunder adalah sesuatu yang jika dihilangkan dari situasi oleh respons tertentu, akan meningkatkan probabilitas respons tersebut.

Misalnya, pada kotak Skinner ditata sedemikian rupa sehingga sebuah suara yang memekakkan berhenti ketika tuas ditekan, maka respon penekanan tuas itu akan segera dikuasai. Dalam kasus ini, dalam penekanan tuas si hewan, bisa menghindari pengalaman merasakan suara yang menyakitkan. Perhatikan bahwa penguatan positif tidak disebut positif lantaran respons menghasilkan sesuatu menyenangkan atau diinginkan. Demikian juga penguat negatif tidak dikatakan negatif lantaran respon menghasilkan sesuatu yang buruk tau tidak menyenangkan.

Perilaku Verbal

Skinner menggolongkan respon verbal berdasarkan bagaimana mereka terkait dengan penguatan, yakni dari segi apa yang mesti dilakukan agar respon itu diperkuat. Klasifikasi ini didiskusikan secara singkat sebagai berikut :

  1. Mand

Skinner (1957) mengatakan, “Mand dicirikan oleh hubungan unik antara bentuk respons dengan penguatan yang secara khas diterima dalam komunitas verbal tertentu. Terkadang untuk menyebut relasi ini kita bisa mengatakan bahwa sebuah mand “menspesifikasikan” penguatannya. Dengar! Lihat! Stop! dan Katakan ya! Adalah ucapan yang ditujukan untuk menentukan perilaku pendengarnya; namun ketika seseorang yang lapar berteriak meminta Roti!, atau tambah Supnya!, dia sedang menentukan penguatan utama. Kedua perilaku dari pendengar dan penguatan utama itu sering dispesifikasikan. Mand tambah garam!, misalnya, menspesifikasikan tindakan (menambah) dan penguatan utama (garam)” (h.37).

Kata mand berasal dari fakta bahwa ada permintaan (demand). Ketika permintaan dipenuhi, ucapan (mand) diperkuat, dan saat kebutuhan seseorang muncul lagi di waktu yang lain, orang itu kemungkinan akan mengulangi mand tersebut.

  1. Tact

Skinner (1957) mengatakan, “Contoh tipe operan ini adalah ketika anak, yang berhadapan dengan boneka, sering mendapat sejenis penguatan umum dengan mengatakan boneka; atau, mahasiswa zoology diperkuat jika ketika ia mengatakan ikan teleos saat di depannya dihadirkan ikan teleos atau gambarnya. Tidak ada istilah yang memadai untuk tipe operan ini. “Tanda”, “simbol”, dan istilah teknis dari logika dan semantik mengingatkan kita pada skema referensi khusus dan menekankan respons verbal itu sendiri. Istilah “tact” akan dipakai di sini. Istilah ini mengandung kesan mnemonik (mnemonic) dari perilaku yang “membuat kontak dengan” dunia fisik. Suatu tact bisa didefinisikan sebagai operan verbal di mana suatu respons bentuk tertentu dimunculkan (atau setidaknya diperkuat) oleh objek atau property atau kejadian tertentu. Kami menjelaskan kekuatan ini dengan menunjukkan bahwa dengan adanya objek atau kejadian, respons dari bentuk itu secara khas diperkuat dalam komunitas verbal tertentu” (h. 81-82).

Secara umum, tact adalah penamaan objek atau kejadian di lingkungan dengan tepat, dan penguatannya berasal dari penguatan kesesuaian antara lingkungan dan perilaku verbal seseorang.

  1. Echoic Behavior

Suatu echoic behavior adalah perilaku verbal yang diperkuat saat perilaku verbal orang lain diulang secara verbatim (persis kata demi kata). Echoic behavior sering merupakan prasyarat untuk perilaku verbal yang lebih kompleks; misalnya, seorang anak pertama-tama harus menirukan suatu kata sebelum anak itu bisa belajar cara menghubungkan kata itu dengan kata lain atau dengan suatu kejadian. Jadi, tindakan mengulangi sesuatu yang dikatakan orang lain akan diperkuat, dan ketika respons ini telah dikuasai, ia akan memungkinkan pembicara untuk mempelajari lebih banyak hubungan verbal yang kompleks.

  1. Autoclitic Behavior

Menurut Skinner (1957), “Istilah autoclitic dimaksudkan untuk menunjukkan perilaku yang didasarkan pada, atau bergantung pada, perilaku verbal lain” (h.315). Fungsi utama autoclitic behavior adalah untuk mengkualifikasikan respons, mengekspresikan relasi, dan menyediakan kerangka gramatikal untuk perilaku verbal.

Kontribusi Skinner di Bidang Pendidikan

Jika dihubungkan dalam dunia pendidikan skinner manganggap bahwa belajar akan efektif apabila :

1. Disajikan secara bertahap

2. Pembelajaran segera diberi umpan balik

3. Mampu belajar dengan caranya sendiri

Menurut skinner fungsi utama pendidikan adalah mengatur kontingensi penguatan sehingga perilaku yang dianngap penting bisa ditingkatkan.Skinner lebih menekankan pada penguatan ekstrinsik,dan menganngap penguatan intrinsic tidak penting.Para Skinnerian menganggap bahwa individu belajar dengan kecepatan yang berbeda-beda.Mereka menangani siswa secara individual atau member satu kelompok siswa dengan materi yang memungkinkan siswa belajar sesuai kemampuannya sendiri .Skinnerian menghindari pemberian hukuman,mereka akan memperkuat perilaku yang tepat dan mengabaikan perilaku yang tak tepat.Skinerian menganggap bahwa problem perilaku disekolah adalah akibat dari perencanaan pendidikan yang buruk.

Misalnya saja dengan pemberian terlalu banyak paket pelajaran yang tidak mudah dipahami,menggunakan disiplin keras untuk mengonrol perilaku,menggunakan perencanaan yang harus dituruti oleh murid,atau mengharuskan murid melakukan sesuatu yang tidak beralasan.Menurut Skinnerian inilah problem yang biasanya dilakukan oleh sekolah yang membuat murid menjadi bermasalah.Seharusnya para guru meninggalkan cara lama dan lebih membuka diri mereka.Jika mereka mengajar jauh lebih baik maka murid-murid pun akan berubah menjadi lebih sopan,pandai,tanpa harus menekankan pada hukuman untuk mengubah perilaku

 

Analisis Kepribadian Diri dari Tokoh Psikologi Kepribadian

Filed under: Uncategorized — punyabunga @ 6:39 am

AUTOBIOGRAFI

Saya Bunga Permatasari, lahir pada tanggal 30 Januari 1990 di kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Saya anak pertama dari 4 bersaudara dan saya memiliki satu adik perempuan, satu adik laki-laki dan satu adik asuh. Sekarang keluarga saya berdomisili di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sedangkan saya dan adik saya perempuan yang berusia 17 tahun berdomisili di Surabaya, untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. Sayang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, sedangkan adik saya melanjutkan SMA.

Orang tua saya, ayah bekerja sebagai pegawai di sebuah perusahaan swasta, dan mama awalnya hanya menjadi ibu rumah tangga, tapi sejak saya memasuki SMP, mama mulai mencari kesibukan dengan menjadi pedagang dan membuka toserba. Sejak kecil saya dibiasakan hidup mandiri walaupun kadang-kadang masih dimanjakan. walaupun ada pembantu, saya dan keluarga saya berusaha untuk tidak tergantung dengan pembantu, dan berusaha melakuakn sendiri apa yang bisa dilakukan sendiri tanpa harus mengharap semuanya dikerjakan oleh pembantu.

Pada tahun 1993, saya mulai masuk play group, dan tahun 1994 saya memasuki TK di TK Islam Sabilal Muhtadin. Setelah menamatkan TK selama 2 tahun, pada tahun 1996 saya masuk sekolah dasar d SD Islam Sabilal Muhtadin dan kemudian melanjutkan pendidikan SMP di SMP Islam Sabilal Muhtadin. Setelah lulus dari SMP saya tidak mau melanjutkan sekolah ke SMA yang satu komplek dengan TK, SD, dan SMP saya, selain alasan bosan dengan lingkungan yang itu-itu saja, saya juga ingin mencari pengalaman sekolah di negeri. Akhirnya saya melanjutkan pendidikan SMA saya ke SMAN 7 Banjarmasin. Dan sekarang saya melanjutkan keprguruan tinggi di Universitas Airlangga Surabaya Fakultas Psikologi.

Dalam hal pertemanan, saya termasuk orang yang mudah mencari teman, walaupun awalnya sering merasa sungkan dan canggung untuk memulai perkenalan. Umumnya orang-orang yang pertama kali bertemu saya akan mengira saya adalah orang yang pendiam dan tidak banyak bicara (kalem). Memang seprti itulah saya jika baru pertama bertemu seseorang, saya akan lebih banyak diam dan bicara seperlunya saja. Namun keadaan seperti itu tidak seterusnya terjadi, apabila saya sudah merasa dekat dan terbiasa dengan orang tersebut, sikap saya yang awalnya canggung dan lebih banyak diam, akan berubah menjadi lebih ceria, semangat dan banyak bicara

KEPRIBADIAN

Saya termasuk anak yang dekat dengan kedua orang tua saya, apalagi dengan mama, kepribadian saya hampir mirip dengan mama saya, mungkin karena itulah saya dan mama bisa saling mengerti satu sama lain, walaupun terkadang ada terdapat perbedaan antara saya dan mama.

Kepribadian yang menonjol dari mama adalah sikapnya yang cepat emosi. Sama seperti mama, tapi kepribadian saya yang menonjol adalah sikap egois dan juga cepat emosi. Saya menginginkan semua berjalan seperti yang saya hendaki. Apa yang saya inginkan harus terpenuhi. Saya juga cepat marah jika sesuatu yang saya kehendaki ada yang menentang atau tidak bisa terwujud.

Namun sikap cepat marah tidak selalu bisa saya limpahkan pada orang lain, tergantung dengan siapa saya berhadapan. Jika orang tersebut belum terlalu mengenal bagaimana saya, saya bisa sedikit bersabar dan menahan amarah. Tapi terkadang, jika marah saya tidak bisa dilimpahkan pada orang lain, biasanya saya akan menangis atau melimpahkan dengan memukul, melempar atau membanting benda-benda yang berada di dekat saya.

Sikap cepat marah ini, bukan berarti saya orang yang sensitif dan gampang tersinggung. Saya bukan orang yang gampang tersinggung. Dan apabila saya merasa tersinggung dengan sikap atau perkataan seseorang, tidak selalu saya memperlihatkannya dengan marah pada orang tersebut, tergantung situasi dan kondisi pada saat itu. Kebanyakan yang saya lakukan mencoba untuk menghela nafas, agar denyut jantung menjadi normal lagi, karena saya merasa saat saya merasa tersinggung dan menjadi marah, denyut jantung saya menjadi tidak stabil, rasanya berdegup dengan kencang, dan ingin meluapkan semuanya.

Selain itu, mama adalah orang yang memiliki sikap ekstrovert, sangat terbuka dan sering share bersama saya. Mama sering mengajarkan saya untuk membagi kisah dan bercerita semuanya sama mama, agar saling mengerti dan memahami kehendak satu sama lain. Agar meminimalisir konflik antara saya dan mama. Karena sikap mama yang sering terbuka seperti itu kepada saya, membuat saya juga memiliki sifat yang ekstrovert seperti sekarang ini. Saya sering dipercaya oleh teman saya untuk saling berbagi kisah dan curahan hati, semuanya saya lakukan dengan ikhlas dan niat ingin membantu mereka sedikit melepaskan beban yang ditanggung sendirian, dan saya berusaha semampunya untuk membantu mereka yang ternyata memiliki kesusahan. Teman saya mungkin tidak akan membagi kisahnya, andai saja saya tidak membuka diri, makanya saya sangat bersyukur memiliki kepribadian seperti ini. Namun tidak semua hal juga yang bisa saya ceritakan, masih ada hal-hal yang bersifat privacy yang tidak bisa saya ceritakan pada siapa pun.

PEMBAHASAN KASUS DAN TEORI

  1. Kepribadian mudah marah

Menurut Carl Gustav Jung (1921) berdasarkan fungsinya manusia dibagi dalam beberapa tipe kepribadian, salah satunya adalah kepribadian emosional atau perasaan. Merupakan fungsi evaluasi, yaitu perasaan memberikan kepada manusia pengalaman-pengalaman subjektifnya tentang kenikmatan dan rasa sakit, amarah, ketakutan, kesedihan, kegembiraan, dan cinta. Terdapat pada orang-orang yang sangat dikuasai oleh emosinya, menilai sesuatu berdasarkan suka atau tidak suka.

Bentuk reaksi emosi amarah ini disebabkan hormon adrenalin meningkat, menyebabkan gelombang energi yang cukup kuat untuk bertindak dahsyat, maka tangan lebih mudah menghantam lawan, detak jantung meningkat. Dalam hal ini, terdapat kasus dalam kehidupan saya, yaitu ketika saya bertengkar dengan adik saya yang berumur 17 tahun. Pada saat pertengkaran terjadi, emosi saya tidak dapat tertahankan, emosi saya meledak-ledak. Terkadang emosi saya yang keluar berupa vebal. Saya kurang bisa menyikapi masalah yang terjadi antara kami berdua. Jika hal tersebut tidak terlampiaskan, amarah akan semakin meningkat dan saya melampiaskannya pada benda yang ada dekat saya, atau saya akan menangis di kamar.

Sesuai dengan kasus tersebut, merupakan contoh dari fungsi emosi berupa menyiapkan kita untuk beraktifitas, misalnya kita jadi beringas, jengkel, benci, kesal, berang, tersinggung, menyiapkan kita untuk bertindak melalui kompensasi positif atau negatif. Tindakan saya yang mengeluarkan amarah secara verbal misalnya kata-kata kasar dan melempar benda-benda merupakan contoh kompensasi negatif.

Intensitas reaksi emosi seseorang terhadap situasi (Jung,1903) merupakan ukuran lain tentang kekuatan suatu kompleks. Apabila jantung berdenyut lebih cepat, penafasan menjadi lebih dalam,dan muka menjadi merah,semua ini merupakan indikasi yang cukup baik bahwa suatu kompleks yang kuat berhasil ditemukan. Dengan menggabungkan gejala-gejala fisiologis dengan denyut nadi, pernafasan,dan perubahan-perubahan elektris pada konduktivitas kulit dengan tes asosiasi kata, maka bisa ditentukan secara agak tepat daya kompleks-kompleks seseorang.

  1. Kepribadian ekstrovert

Carl Jung menyatakan bahwa kepribadian ekstrovert adalah kepribadian yang terbuka, terdapat pada orang-orang yang lebih berorientasi keluar, kelingkungan, kepada orang lain. Orang-orang seperti ini ramah, senang bergaul, mudah mengerti perasaan orang.

Seorang ekstrovert bisa berfikir mendalam dan merenung akan diri dan kehidupan untuk pribadinya. Mereka bisa menjadi pribadi yang tenang dan  kalem, namun untuk membangkitkan energi hidupnya mereka akan lebih merasa semangat jika  berbagi dengan lingkungannya. Seorang ekstrovert perlu dunia sosial untuk menghidupkan diri dan membangkitkan  semangat hidupnya.

Kasus pada diri saya yaitu pengalaman yang saya alami sekarang. Saya sekarang berada jauh dari orang tua dan melanjutkan pendidikan ke Surabaya. Dengan teman baru, lingkungan baru dan semua yang berbeda dan terasa asing bagi saya. Walaupun saya anak yang sedikit pemalu untuk memulai pertemanan, tapi saya berusaha untuk tidak menutup diri saya dalam pergaulan. Saya berusaha seterbuka mungkin dengan orang yang ingin berteman dengan saya. Sikap ekstrovert yang saya miliki membuat orang sekitar saya merasa nyaman. Banyak kentungan yang saya peroleh dari sikap ini. Teman-teman saya menjadi tidak canggung untuk berbagi curahan hati dengan saya, karena saya terlebih dahulu berusaha membuka diri saya. Tapi keterbukaan yang saya maksudkan masih dalam batasan yang wajar, masih ada batasan untuk diri saya sendiri, agar tidak merugikan saya dan orang lain. Akhirnya kini saya sudah memiliki teman bahkan sahabat yang cukup banyak.

Selain masalah pertemanan, kasus pada diri saya tantang sikap ekstrovert yaitu masalah percintaan saya. Semenjak saya putus dari pacar saya 1 tahun yang lalu, saya merasa down dan sedikit trauma. Sikap seperti itu baru kali ini saya rasakan, sebelumnya setiap saya putus dari pacar tidak pernah merasa trauma dan tidak jera untuk memulai hubungan khusus lagi dengan laki-laki. Namun, karena sifat saya yang suka cerita atau curhat dengan teman, saya selalu diberi semangat dan masukan-masukan yang membuat saya tetap bertahan dengan kondisi yang saya alami, sehingga rasa trauma itu lama kelamaan mulai berkurang dan menghasilkan semangat yang baru. Dukungan sosial sangat saya butuhkan untuk menumbuhkan semangat. Jika saya tipe orang yang introvert dan susah bergaul, dengan kondisi yang saya alami, mungkin saya selalu didekati oleh rasa trauma.

 

Teori Henry A. Murray

Filed under: Uncategorized — punyabunga @ 6:34 am

Murray merumuskan kepribadian, menunjukkan bahwa dia sangat berorientasi pada pandangan yang memberi bobot memadai pada sejarah organisme termasuk : fungsi kepribadian yang bersifat mengatur, ciri kepribadian yang berulang dan baru pada tingkah laku individu untuk proses proses fisiologis yang mendasari proses psikologis.

Komponen definisi kepribadian murray, sebagai berikut :

  • Kepribadian adalah abstraksi yang dirumuskan teoritikus ( ahli teori ) dan bukan gambaran tingkah laku individu.
  • Kepribadian individu adalah rangkaian peristiwa yang secara ideal mencakup rentang hidup sang individu. Sejarah kepribadian yaitu : kepribadian itu sendiri
  • Definisi kepribadian harus mencerminkan unsur unsur tingkah laku yang tepat dan berulang, maupun unsur unsur yang baru dan unik
  • Kepribadian adalah fungsi yang menata dan mengarahkan dalam diri individu yang punya tujuan mengintegrasikan konflik konflik dan rintangan rintangan yang dihadapi, memuaskan kebutuhan kebutuhan individu dan menyusun rencana rencana untuk mencapai tujuan dimasa datang.
  • Kepribadian terletak di otak, tanpa otak tidak ada kepribadian

Sama seperti pandangan psikoanalisa,  Murray juga berpendapat bahwa kepribadian akan dapat lebih mudah dipahami dengan cara menyelidiki alam ketidaksadaran seseorang Peranan Murray di bidang psikologi adalah dalam bidang diagnosa kepribadian dan teori kepribadian. Hasil karya terbesarnya yang sangat terkenal adalah teknik evaluasi kepribadian dengan metode proyeksi yang disebut dengan “Thematic Apperception Test (TAT)”. Test TAT ini terdiri dari beberapa buah gambar yang setiap gambar mencerminkan suatu situasi dengan suasana tertentu. Gambar-gambar ini satu per satu ditunjukkan kepada orang yang diperiksa dan orang itu diminta untuk menyampaikan pendapatnya atau kesannya terhadap gambar tersebut. Secara teoritis dikatakan bahwa orang yang melihat gambar-gambar dalam test itu akan memproyeksikan isi kepribadiannya dalam cerita-ceritanya.

Pandangan murray sangat holistik. Manusia harus dipahami sebagai kesatuan pribadi yang utuh. Setiap bagian dari tingkahlaku manusia harus difahami dalam hubungannya dengan fungsi lainnya; lingkungan, pengalaman masa lalu, ketidaksadaran dan kesadaran, serta fungsi otaknya. Kesemuanya itu harus ditangkap secara keseluruhan agar dapat difahami makna dari proses kepribadian seseorang. Teori kepribadian memang memberi hukum-hukum yang mungkin berlaku umum bagi setiap orang, namun pemahaman mengenai diri seseorang harus dilakukan secara personal. Berdasarkan fikiran itulah dia menamakan teorinya:”personologi”, untuk menekankan bahwa psikologi kepribadian seharusnya mengkonsentrasikan diri pada kasus individual atau pribadi.

Murray setuju dengan freud, bahwa kepribadian teridiri dari id,ego dan super ego.

Menurut murray :

Id : gudangnya impuls yang bersifat primitif dan disini sumber energi dan sumber segala motiv motiv yang dibawa sejak lahir. Berisi impuls impuls ke arah yang baik dan kearah yang jahat. Kekuatan kecenderungan kecenderungan berbeda beda antar individu , karena ada individual differences. Jadi tugas yang dihadapi dalam mengarahkan kecenderungan ID berlainan taraf kesulitannya.

Ego : ego tidak hanya menekankan / menaikkan impuls impuls / motiv tertentu , tetapi ego harus mengatur , mejadwal, mengontrol cara cara menyalurkan motiv motiv lain. Ego sejalan dengan teori psikoanalisis yang ego dipandang sebagai organisator dan integrator central tingkah laku. Sehingga keberhasilan ego mirip faktor penentu bagi penyesuaian diri individu.

Superego : dipandang sebagai hasil penanaman kebudayaan sehingga superego mirip sub sistem yang diinternalisasikan dan didalam individu bertindak sebagai pengatur tingkah laku (yang akan didahulukan). Erat kaitannya dengan superego adalah ego ideal. Ego ideal adalah dir yang dicita citakan atau sekumpulan ambisi pribdai yang diperjuangkan individu. Dalam perkembangan normal, hubungan antara id, ego dan superego akan berubah. Sebelumnya : yang berkuasa id, maka selanjutnyasuper ego dan akhirnya ego memegang peranan yang menentukan. Dalam keadaan bahagia : super ego matang ego kuat dan cakap  bersama sama mampu mengatur impulls impuls id secara memadai dengan cara yang esecara cultural dibenarkan.

Contoh Perilaku :

Hubungan antar pribadi merupakan merupakan hubungan antar dua individu atau lebih yang bersifat timbal balik. Dalam hubungan interpersonal diantara dua orang atau lebih terdapat aspek-aspek psikologis yang mendasarinya Hubungan antar individu pada umumnya dilandasi oleh adanya imbalan social yang dapat diperoleh individu jika berhubungan dengan orang lain. Hubungan dengan orang lain memberikan tambahan ganjaran lain, yaitu : Dapat memberikan perasaan positif yang dihubungkan dengan kedekatan hubungan antar pribadi, persahabatan, afeksi, dan cinta dan orang lain dapat memberikan berbagai tipe perhatian kepada kita dalam bentuk penghargaan, pengakuan dan status.

Menurut Henry Murray dkk, ada dua motif social yang mendorong seseorang untuk melakukan hubungan dengan orang lain, yaitu :

  • Kebutuhan untuk berafiliasi(the need for affiliation) yaitu keinginan untuk membentuk dan mempertahankan hubungan interpersonal yang memberikan ganjaran.
  • Kebutuhan untuk berhubungan intim(the need for intimacy) yaitu memilih hubungan yang hangat dekat dan komunikatif.
 

Teori Erich Fromm

Filed under: Uncategorized — punyabunga @ 6:32 am

Fromm melihat kepribadian hanya sebagai suatu produk kebudayaan. Karena itu dia percaya bahwa kesehatan jiwa harus di definisikan menurut bagaimana baiknya masyarakat menyesuaikan diri dengan kebutuhan-kebutuhan dasar semua individu, bukan menurut bagaimana baiknya individu-individu menyesuaikan diri dengan masyarakat. Karena itu kesehatan psikologis tidak begitu banyak merupakan usaha masyarakat. Faktor kunci ialah bagaimana suatu masyarakat memuaskan secukupnya kebutuhan-kebutuhan manusia.

Sebagai hasil perkembangan dari analisis-analisis historisnya, Fromm melukiskan hakikat keadaan manusia sebagai kesepian dan ketidakberartian. Menurut Fromm, kita adalah makhluk yang unik dan kesepian. Sebagai akibat evolusi kita dari binatang-binatang yang lebih rendah, kita tidak lagi bersatu dengan alam, kita telah mengatasi alam. Tidak seperti tingkah laku binatang, tingkah laku kita tidak terikat pada mekanisme-mekanisme instinktif. Akan tetapi perbedaan yang sangat penting antara manusia dan binatang yang lebih rendah terletak pada kemampuan kita akan kesadaran diri, pikiran, dan khayal. Kita mengetahui bahwa kita akhirnya tidak berdaya, kita akan mati, dan terpisah dari alam.

Terdapat kebebasan kepribadian yang lebih besar dalam interaksi-interaksi dengan orang-orang lain, dan peranan-peranan sosial lebih fleksibel. Orang lebih mampu memilih kehidupan pribadi. Tentu saja, kita mencapai perasaan bebas yang lebih besar dengan mengorbankan ikatan-ikatan yang telah memberikan perasaan aman dan perasaan memiliki. Akibatnya, ciri kondisi manusia ialah perasaan isolasi dan alienasi, tidak hanya dari alam tetapi juga dari masyarakat dan sesama kita manusia. Kita bebas dari perbudakan dan tata tertib sosial yang kaku, tetapi karena kita semakin tidak aman, maka kita tidak bebas mengembangkan potensi-potensi kita yang penuh, hakikat yang penuh dari diri kita.

Ada lima kebutuhan spesifik yang berasal dari kondisi eksistensi manusia, yakni:

  • Kebutuhan akan keterhubungan.

Manusia harus menciptakan hubungan-hubungan mereka sendiri, yang paling memberikan kepuasan adalah ubungan-hubungan yang didasarkan cinta produktif. Cinta produktif selalu mengandung perhatian, tanggung jawab, respek, dan pemahaman timbal balik.

  • Kebutuhan akan transendensi.

Dorongan transendensi adalah kebutuhan orang untuk mengatasi kodrat binatangnya, untuk menjadi orang yang kreatif dan bukan hanya menjadi makhluk belaka. Fromm menunjukkan bahwa cinta dan benci bukan dorongan yang berlawanan; kedua dorongan itu merupakan jawaban terhadap kebutuhan orang untuk mengatasi kodrat binatangnya.

  • Kebutuhan akan keterberakaran.

Manusia mendambakan akar-akar alamiah; mereka ingin menjadi bagian integral dunia, merasakan bahwa mereka memilikinya.

  • Kebutuhan akan identitas.

Setiap orang ingin memiliki suatu perasaan identitas pribadi, menjadi seorang individu yang unik. Apabila orang tidak bisa mencapai tujuan ini melalui usaha kreatifnya sendiri, ia bisa mendapatkan ciri tertentu dengan mengidentifikasikan diri dengan orang atau kelompok lain.

  • Kebutuhan akan kerangka orientasi.

Manusia perlu memiliki suatu kerangka acuan, yakni suatu cara yang stabil dan konsisten dalam memandang dan memahami dunia.

Contoh Perilaku :

Fakta yang menjadi problem manusia di Eropa dan Amerika, yaitu tingginya angka bunuh diri di kalangan lansia di negara yang berjaya di bidang ekonomi. Meski mereka hidup di panti werdha yang memadai bersama dengan orang orang seusia mereka serta mendapatkan jaminan sosial, namun mereka  banyak yang memutuskan untk bunuh diri, Kebutuhan utama manusia yaitu menyembah Tuhan Ynag Maha Esa,apalagi pada usia-usia lanjut. Pada saat itu belum terpenuhi pada peradaban barat.

Problem kejiwaan tersebut juga banyak terjadi pada seluruh muka dunia,termasuk indonesia. Stress, depresi dan berbagai penyakit psikologis.

Menurut  Fromm adalah  pribadi yang produktif yaitu pribadi yang dapat menggunakan secara penuh potensi dirinya. Kepribadian yang sehat menurut Fromm ditandai beberapa hal antara lain pola hubungan yang sehat (konstruktif), bukan atas dasar ketergantungan ataupun kekuasaan dalam hubungan dengan orang lain, kelompok, dan Tuhan. Transendensi (kebutuhan untuk melebihi peran-peran pasif, melampaui perasaan tercipta menjadi pencipta yang aktif-kreatif). Perasaan berakar yang diperoleh melalui persaudaraan dengan sesama umat manusia, perasaan keterlibatan, cinta, perhatian, dan partisipasi dalam masyarakat. Perasaan identitas sebagai individu yang unik. Memiliki kerangka orientasi (frame of reference) yang mendasari interpretasinya yang objektif terhadap berbagai peristiwa. Individu menurut Fromm adalah pribadi yang teralienasi. Ia adalah orang asing bagi dirinya sendiri, sama seperti sesamanya menjadi asing baginya. Ia mengalami orang lain dari dirinya sendiri tidak sebagaimana adanya, tetapi terdirtorsi lantaran kekuatan-kekuatan bawah sadar yang bekerja di dalam dirinya.

 

Teori Carl Gustav Jung

Filed under: Uncategorized — punyabunga @ 6:25 am

Jung dilahirkan pada tanggal 26 Juli 1875 di Kesswil dan meninggal pada tanggal 6 Juni 1961 di Kusnach, Swiss. Ia lulus dari Fakultas kedokteran Universitas Basle pada tahun 1900. Pada tahun 1923 ia berhenti menjadi dosen untuk mengkhususkan dirinya dalam riset-riset. Sejak 1906 ia mulai tulis menulis surat kepada Sigmund Freud yang baru dijumpainya pertama kali setahun kemudian yakni tahun 1907. Pertemuan yang terjadi di Wina tersebut sangat mengesankan kedua belah pihak, sehingga terjadi tali persahabatan antara mereka. Freud begitu menaruh kepercayaan kepada Jung, sehingga Jung dianggap sebagai orang yang patut menggantikan Freud di kemudian hari.

Carl Gustav Jung adalah murid Sigmund Freud. Freud adalah adalah penggagas psikoanalisa yang merupakan seorang Jerman keturunan Yahudi. Ia dilahirkan pada tanggal 6 Mei 1865 di Freiberg, dan pada masa bangkitnya Hitler ia harus melarikan diri ke Inggris dan meninggal di London pada tanggal 23 September 1939.

Meskipun mengambil beberapa pendapat gurunya, ia tidak sepenuhnya sependapat dengan Freud, terutama karena gurunya tersebut terlalu menekankan pada seksualitas dan berorientasi terhadap materialistis dan biologis di dalam menjelaskan teoriteorinya

Doktrin Jung

Doktrin Jung yang dikenal dengan psikologi analitis (analytical psychology), sangat dipengaruhi oleh mitos, mistisisme, metafisika, dan pengalaman religius. Ia percaya bahwa hal ini dapat memberikan keterangan yang memuaskan atas sifat spiritual manusia, sedangkan teori-teori Freud hanya berkecimpung dengan hal-hal yang sifatnya keduniaan semata. (Carl Gustav Jung, 1989: 10.)

Jung mendefinisikan kembali istilah-istilah psikologi yang dipakai pada saat itu, khususnya yang dipakai oleh Freud. Ego, menurut Jung, merupakan suatu kompleks yang terletak di tengah-tengah kesadaran, yakni keakuan.

Istilah Freud lainnya yang didefinisikannya kembali adalah libido. Bagi Jung, libido bukan hanya menandakan energi seksual, tetapi semua proses kehidupan yang penuh energi: dari aktivitas seksual sampai penyembuhan (Kohnsamm dan B.G Palland, 1984: 92).

Id, ego, dan superego, adalah istilah istilah yang tak pernah dipakai oleh Jung. Sebagai gantinya, ia menggunakan istilah conciousness (kesadaran), personal unconciousness (ketidaksadaran pribadi), dan collective unconciousness (ketidaksadaran kolektif

Conciousness dan personal unconciousness sebagian dapat diperbandingkan dengan id dan ego, tetapi terdapat perbedaan yang sangat berarti antara superego-nya Freud dengan collective unconciousness, karena Jung percaya bahwa yang terakhir ini adalah wilayah kekuatan jiwa (psyche) yang paling luas dan dalam, yang mengatur akar dari empat fungsi psikologis, yaitu sensasi, intuisi, pikiran, dan perasaan. Selain itu, juga mengandung warisan memori-memori rasial, leluhur dan historis.

Untuk dapat mengerti aspek-aspek metafisik dalam teori mimpi Jung, menurut penulis kita harus menelusuri dan memahami berbagai terma yang biasa dipakai oleh Jung di dalam menguraikan teori mimpinya.

Struktur Psyche Menurut Jung

Menurut Jung, psyche adalah kesatuan yang di dalamnya terdapat semua pikiran, perasaan dan tingkah laku baik yang disadari maupun tidak disadari yang saling berinteraksi satu sama lainnya. Struktur psyche menurut Jung terdiri dari :

1. Ego

Ego merupakan jiwa sadar yang terdiri dari persepsi, ingatan, pikiran dan perasaan-perasaan sadar. Ego bekerja pada tingkat conscious Dari ego lahir perasaan identitas dan kontinyuitas seseorang. Ego seseorang adalah gugusan tingkah laku yang umumnya dimiliki dan ditampilkan secara sadar oleh orang-orang dalam suatu masyarakat. Ego merupakan bagian manusia yang membuat ia sadar pada dirinya.

2. Personal Unconscious

Struktur psyche ini merupakan wilayah yang berdekatan dengan ego. Terdiri dari pengalaman-pengalaman yang pernah disadari tetapi dilupakan dan diabaikan dengan cara repression atau suppression. Pengalaman-pengalaman yang kesannya lemah juga disimpan kedalam personal unconscious. Penekanan kenangan pahit kedalam personal unconscious dapat dilakukan oleh diri sendiri secara mekanik namun bisa juga karena desakan dari pihak luar yang kuat dan lebih berkuasa. Kompleks adalah kelompok yang terorganisir dari perasaan, pikiran dan ingatan-ingatan yang ada dalam personal unconscious. Setiap kompleks memilki inti yang menarik atau mengumpulkan berbagai pengalaman yang memiliki kesamaan tematik, semakin kuat daya tarik inti semakin besar pula pengaruhnya terhadap tingkah laku manusia. Kepribadian dengan kompleks tertentu akan didominasi oleh ide, perasaan dan persepsi yang dikandung oleh kompleks itu.

3. Collective Unconscious

Merupakan gudang bekas ingatan yang diwariskan dari masa lampau leluhur seseorang yang tidak hanya meliputi sejarah ras manusia sebagai sebuah spesies tersendiri tetapi juga leluhur pramanusiawi atau nenek moyang binatangnya. Collective unconscious terdiri dari beberapa Archetype, yang merupakan ingatan ras akan suatu bentuk pikiran universal yang diturunkan dari generasi ke generasi. Bentuk pikiran ini menciptakan gambaran-gambaran yang berkaitan dengan aspek-aspek kehidupan, yang dianut oleh generasi terentu secara hampir menyeluruh dan kemudian ditampilkan berulang-ulang pada beberapa generasi berikutnya. Beberapa archetype yang dominan seakan terpisah dari kumpulan archetype lainnya dan membentuk satu sistem sendiri. Empat archetype yang penting dalam membentuk kepribadian seseorang adalah :

  1. Persona yang merupakan topeng yang dipakai manusia sebagai respon terhadap tuntutan-tuntutan kebiasaan dan tradisi masyarakat serta terhadap kebutuhan archetypal sendiri.
  2. Anima & Animus merupakan elemen kepribadian yang secara psikologis berpengaruh terhadap sifat bisexual manusia. Anima adalah archetype sifat kewanitaan / feminine pada laki-laki, sedangkan Animus adalah archetype sifat kelelakian / maskulin pada perempuan.
  3. Shadow adalah archetype yang terdiri dari insting-insting binatang yang diwarisi manusia dalam evolusinya dari bentuk-bentuk kehidupan yang lebih rendah kebentuk yang lebih tinggi.
  4. Self, yang secara bertahap menjadi titik pusat dari kepribadian yang secara psikologis didefinisikan sebagai totalitas psikis individual dimana semua elemen kepribadian terkonstelasi disekitarnya. Self membimbing manusia kearah self-actualization, merupakan tujuan hidup yang terus-menerus diperjuangkan manusia tetapi jarang tercapai.

Tipologi Jung

Menurut teori psikoanalisa dari Jung ada dua aspek penting dalam kepribadian yaitu sikap dan fungsi. Sikap terdiri dari introvert dan ekstrovert, sedangkan fungsi terdiri dari thinking, feeling, sensing dan intuiting. Dari kedelapan hal ini maka diperoleh tipologi Jung, yaitu :

  1. Thinking ekstrovert :

Hidup mengikuti peraturan yang pasti. Objektif dan dingin. Pemikirannya positif dan dogmatic.

  1. Feeling ekstrovert :

Sangat emosional dan sangat menghormati otoritas dan tradisi. Mudah bergaul dan mencari harmoni dengan dunia.

  1. Sensing ekstrovert :

Mencari kesenangan, riang, mudah menyesuaikan diri, secara konstan mencari pengalaman-pengalaman sensoris yang baru, sangat mungkin tertarik pada makanan yang baik dan seni, sangat realistis.

  1. Intuition ekstrovert :

Keputusan dilandasi oleh penelusuran dan bukan fakta, sangat mudah berubah dan kreatif, tidak tahan dengan satu ide terlalu lama, lebih suka beralih dari satu id eke ide yang lain, sangat mengenal unconscious dirinya

  1. Thingking introvert :

Sangat menghargai privasi, terhambat secara social dan penilaiannya payah, merupakan seorang yang sangat intelek yang mengabaikan segi praktis dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Feeling introvert :

Pendiam, pemikir, sangat peka, kekanak-kanakan, tidak mempedulikan perasaan dan pendapat orang lain, emosi sangat kurang.

  1. Sensing introvert :

Kehidupannya hanya diarahkan oleh apa yang terjadi, artistic, pasif dan kalem. Menghindari “ Human Affair” karena dia juga lebih mempedulikan apa yang terjadi.

  1. Intuition introvert :

Aneh, eksentrik, suka menciptakan ide baru tapi aneh, sulit dimengerti oleh orang lain tapi tidak menjadi masalah, hidupnya dipengaruhi oleh pengalaman-pengalam subjektifnya.

Tahap Perkembangan Kepribadian Jung

Tahap perkembangan kepribadian Jung terdiri dari 4 tahap, yaitu childhood, youth dan young adulthood, middle age dan old age. Pada tahap kedua menekankan akan adaptasi terhadap kehidupan social dan ekonomi. Jung memperlihatkan ketertarikannya pada tahap perkembangan kepribadian ketiga yaitu middle age, karena disini terdapat proses yang penting dari puncak dari individuation dan orang mulai merubah kepedulian terhadap materi menjadi kepedulian spiritual.

Aktivitas Energi Psikis, Individuation, dan Transcendent Function

Energi psikis muncul dari pengalaman individual dan merupakan energi untuk berpikir, berkeinginan, memelihara, dan berjuang. Energi psikis mengikuti hukum equivalence dan entropy dari hukum thermodinamika. Dimana jumlah energi tidak akan berubah dan saling berinteraksi agar mencapai keseimbangan. Energi psikis melakukan dua tujuan hidup yaitu mempertahankan diri dan mengembangkan budaya dan aktivitas spiritual dengan melakukan progression, sublimation (energi bergerak maju) , regression dan repression (yang menekan ke ketidak sadaran).

Progression adalah keadaan dimana kesadaran/ ego dapat menyesuaikan diri secara memuaskan baik terhadap tuntutan dunia luar maupun kebutuhan ketidak sadaran, yang menyebabkan perkembangan bergerak maju. Apabila gerak maju ini terganggu oleh suatu rintangan, dan karenanya libido tercegah untuk digunakan secara maju maka libido akan melakukan regresi, yaitu kembali ketahap sebelumnya atau masuk ke ketidak sadaran atau dikenal dengan repression. Sedangkan sublimation adalah transfer energi dari proses yang lebih primitif, instinktif dan rendah diferensiasinya ke proses yang lebih bersifat kultural, spiritual dan tinggi diferensiasinya.

Individuation adalah proses untuk mencapai kepribadian yang integral serta sehat, dimana semua sistem atau aspek kepribadian harus mencapai taraf diferensiasi dan perkembangan yang sepenuh-penuhnya, disebut juga proses pembentukan diri, atau penemuan diri.

Transcendent function adalah kemampuan untuk mempersatukan segala kecenderungan yang saling berlawanan dan mengolahnya menjadi satu kesatuan yang sempurna dan ideal. Tujuan dari fungsi ini adalah menjelmakan manusia sempurna, realisasi serta aktualisasi segala aspek-aspek yang tersembunyi dalam ketidak sadaran. Fungsi inilah yang mendorong manusia mengejar kesempurnaan kepribadian.

Contoh perilaku :

Dengan mengkombinasikan 2 attitude dan 4 fungsi, Jung menguraikan 8 tipe manusia, yaitu:

  • Introversion-Thinking

Orang dengan sikap yang introvert dan fungsi thinking yang dominan biasanya tidak memiliki emosi dan tidak ramah serta kurang bisa bergaul. Hal ini terjadi karena mereka memiliki kecenderungan untuk memperhatikan nilai abstrak dibandingkan orang-orang dan lingkungan sekitarnya. Mereka lebih mengejar dan memperhatikan pemikirannya tanpa memperdulikan apakah ide mereka diterima oleh orang lain atau tidak.

  • Extraversion-Thinking

Contoh orang dengan sikap extrovert dan fungsi thinking yang dominan adalah ilmuwan dan peneliti. Mereka memiliki kecenderungan untuk muncul seorang diri, dingin dan sombong. Seperti pada tipe pertama, mereka juga me-repress fungsi feeling. Kenyataan yang obyektif merupakan aturan untuk mereka dan mereka menginginkan orang lain juga berpikir hal yang sama.

  • Introversion-Feeling

Orang dengan introversion-feeling berpengalaman dalam emosi yang kuat, tapi mereka menutupinya. Contoh orang dengan sikap introvert dan fungsi feeling yang dominan adalah seniman dan penulis, dimana mereka mengekspresikan perasaannya hanya dalam bentuk seni. Mereka mungkin menampilkan keselarasan didalam dirinya dan self-efficacy, namun perasaan mereka dapat meledak dengan tiba-tiba.

  • Extraversion-Feeling

Pada orang dengan sikap extraversion dan fungsi feeling yang dominan perasaan dapat berubah sebanyak situasi yang berubah. Kebanyakan dari mereka adalah aktor. Mereka cenderung untuk emosional dan moody tapi terkadang sikap sosialnya dapat muncul.

  • Introversion-Sensation

Orang ini cenderung tenggelam dalam sensasi fisik mereka dan untuk mencari hal yang tidak menarik dari dunia sebagai perbandingan. Biasanya mereka adalah orang-orang yang tenang, kalem, self-controlled, tapi mereka juga membosankan dan kurang bisa berkomunikasi.

  • ExtraversionSensation

Orang dengan tipe ini biasanya adalah businessman. Mereka biasanya realistik, praktis, dan pekerja keras. Mereka menikmati apa yang dapat mereka indrai dari dunia ini, menikmati cinta dan mencari kegairahan. Mereka mudah dipengaruhi oleh peraturan dan mudah ketagihan pada berbagai hal.

  • Introversion-Intiuting

Pemimipi, peramal, dan orang aneh biasanya adalah orang dengan sikap introvert dan fungsi intuitif yang dominan. Mereka terisolasi dalam gambaran-gambaran primitif yang artinya tidak selalu mereka ketahui namun selalu muncul dalam pikiran mereka. Mereka memiliki kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain, tidak praktis namun memiliki intuisi yang sangat tajam dibandingkan orang lain.

  • Extraversion-Intuiting

Penemu dan pengusaha biasanya memiliki sikap extravert dan fungsi intuitif yang dominan, mereka adalah orang-orang yang selalu mencari sesuatu yang baru. Mereka sangat baik dalam mempromosikan hal-hal yang baru. Namun mereka tidak dapat bertahan pada satu ide, pekerjaan maupun lingkungan karena sesuatu yang baru merupakan tujuan hidup mereka.

 

Teori Sigmud Freud April 23, 2010

Filed under: Uncategorized — punyabunga @ 1:03 am

Teori  Psikoanalis menjadi teori yang paling komprehensif diantara teori kepribadian lainnya, namun juga mendapat tanggapan yang paling banyak, baiak tanggapan positif maupun negatif. Peran penting dari ketidaksadaran beserta insting-insting seks dan agresi ada di dalamnya dalam pengaturan tingkah laku, menjadi karya aau temuan monumental Freud. Sistematik yang dipakai Freud dalam dskripsi kepribadian menjadi tiga pokok bahasan yakni; Struktur Kepribadian, Dinamika Kepribadian, dan Perkembangan Kepribadian.

Struktur Kepribadian

Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran, yakni sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak sadar (unconscious). Pada tahun 1923 Freud mengenalkan tiga model struktural yang lain yakni id, ega, dan superego. Struktur baru ini tidak mengganti struktur lama, tetapi melengkapi atau menyempurnakan gambaran mental terutama dalam fungsi atau tujuannya. Enam elemen pendukung struktur kepribadian itu adalah sebagai berikut :

  • Sadar (Conscious)

Tingkat kesadaran yang berisi semua hal yang kita cermati pada saat tertentu. Menurut Freud, hanya sebagian kecil saja dari kehidupan mental (fikiran, perasaan, dan ingatan) yang masuk ke kesadaran (consciousness). Isi daerah sadar itu merupakan hasil proses penyaringan yang diatur oleh stimulus atau cue eksternal. Isi-isi kesadaran itu hanya bertahan dalam waktu yang singkat di daerah conscious, dan segera tertekan ke daerak preconscious atau unconscious, begitu orang memindah perhatiannya ke cue yang lain.

  • Prasadar (Preconscious)

Disebut juga ingatan siap (Available Memory), yakni tingkat kesadaran yang menjadi jembatan antara sadar dan tak sadar. Isi preconscious berasal dari conscious dan unconcious. Isi materi daerah tak sadar dapat muncul ke daerah prasadar. Kalau sensor sadar menangkap bahaya yang bisa timbl akibat kemunculan materi taksadar materi itu akan ditekan kembali ke ketidaksadaran. Materi tak sadar yang sudah berada di daerah prasadar itu bisa muncul kesadaran dalam bentuk simbolik, seperti mimpi, lamunan, salah ucap, dan mekanisme pertahanan diri.

  • Tak sadar (Unconscious)

Adalah bagian yang paling dalam dari struktur kesadaran dan menurut Freud merupakan bagian terpenting dari jiwa manusia. Ketidaksadaran itu berisi insting, impuls dan drives yang dibawa dari lahir, dan pengalaman-pengalaman traumatik (biasanya pada masa anak-anak) yang ditekan oleh kesadaran dipindak ke daerah taksadar. Isi atau materi ketidaksadaran, pengaruhnya dalam mengatur tingkah laku sangat kuat namun tetap tidak disadari.

  • Id

Id adalah sistem kepribadian yang asli, dibawa sejak lahir. Dari id i ni kemudian akan muncul ego dan superego. Saat dilahirkan, id berisi semua aspek psikologik yang diturunkan, seperti insting, impuls dan drives. Id berada dan beroperasi dalam daerah unconscious, mewakili subjektivitas yang tidak pernah disadari sepanjang usia. Id beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure principle), yaitu berusaha memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Id hanya mampu membayangkan sesuatu tanpa mampu membedakan khayalan itu dengan kenyataan yang benar-benar memuaskan kebutuhan. Id tidak mampu menilai atau membedakan bebanr dan salah, tidak tahu moral. Jadi harus dikembangkan jalan memperoleh khayalan itu secara nyata, yang menberi kepuasan tanpa menimbulkan ketegangan baru khususnya masalah moral. Alasan inilah yang kemudian membuat id memunculkan ego.

  • Ego

Ego berkembang dari id agar orang mampu menangani realita; sehingga ego beroperasi mengikuti prinsip realita (reality princple); usaha memperoleh kepuasan yang dituntut id dengan mencegah terjadinya tegangan baru atau menunda kenikmatan sampai ditemukan obyek yang nyata-nyata dapat memuaskan kebutuhan. Ego adalah eksekutuf (pelaksana) dari kepribadian , yang memilki dua tugas utama; pertama, memilih stimuli mana yang hendak direspon dan insting mana yang akan dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan. Kedua, menetuka kapan dan bagaimana kebutuhan itu dipuaskan sesuai dengan tersedianya peluang yang resikonya minimal. Ego sesungguhnya bekerja untuk memuaskan Id, karena itu ego yang tidak memiliki enerji sendiri akan memperoleh errji dari Id

  • Superego

Superego ada hakikatnya merupakan elemen yang mewakili nilai-nilai orang tua dan interpretasi orang tua mengenai standar sosial, yang diajarkan kepada anak melalui berbagai larangan dan perintah. Superego bersifat nonrasional dalam menuntut kesempurnaan, menghukum dengan keras kesalahan ego, baik yang telah dilakukan maupun baru dalam fikiran. Superego juga seperti ego dalam hal mengontrol id, bukan hanya menunda pemuasan tetapi merintangi pemenuhannya. Ada tiga fungsi superego ;

  1. Mendorong ego menggantika tujuan-tujuan realistik dengan tujuan moralistik
  2. Merintangi impuls id, terutama impuls seksual dan agresif yang bertentangan dengan standar nilai masyarakat
  3. Mengejar kesempurnaan

Dinamika Kepribadian

  • Insting Sebagai Energi Psikis

Insting adalah perwujudan psikologuk dari kebutuhan tubuh yang menuntut pemuasan. Hasrat atau motivasi atau dorongan dari insting secara kuantitatif adalah enerji psikik, dan kumpulan enerji dari seluruh insting yang dimiliki seseorang merupakan enerji yang tersedia untuk menggerakan proses kepribadian. Enerji insting dapat dijelaskan dari sumber (source), tujuan (aim), obyek (object), dan daya dorong (impetus) yang dimilikinya :

  • Jenis-jenis Insting
  1. Insting Hidup

Insting hidup disebut juga Eros adalah dorongan yang menjamin survival dan reproduksi, seperti lapar, haus, dan seks. Enerji yang dipakai oleh insting hidup ini disebut libido. Insting seks bukan hanya berkenaan dengan kenikmatan organ seksual tetapi berhubungan dengan kepuasan yang diperoleh dari bagian tubuh lainnya, yang dinamakan daerah erogen (erogenous zone); suatu daerah atau bagian tubuh yang peka, dan perangsangan pada daerah itu akan menimbulkan kepuasan yang menghilangka tegangan. Tujua  utama dari insting seks yakni meruduksi tegangan seks

  1. Insting Mati

Insting mati atau insting destruktif (destructive instinct, disebut juga Thanatos) bekerja secara sembunyi-sembunyi dibanding insting hidup. Semua kehidupan adalah kematian. Hanya saja, Freud gagal menunjukkan sumber fisik dari insting mati dan enerji apa yang dipakai oleh inting mati itu. Dorongan agressive (aggressive drive) adalah derivatif insting mati yang terpenting. Insting mati mendorong orang untuk merusak diri sendiri dan dorongan agresif merupakan bentuk penyaluran agar orang tidak membunuh dirinya sendiri (suicide). Untuk memelihara diri, insting hidup umumnya melawan insting mati itu dengan mengarahkan enerjinya keluar, ditujukan ke orang lain. Sebagian enerji agresi ini kemudian dapat disalurkan ke kegiatan yang dapat diterima lingkungan sosial, seperti pengawasan lingkungan (oleh polisi), dan olahraga. Ada juga yang tersalur dalam ekspresi yang dilemahkan seperti menghukum atau menyalahkan diri sendiri, menyiksa diri dengan bekerja lebih keras dan sikap merendah dan meminta maaf.

  • Distribusi dan Pemakaian Enerji

Dinamika kepribadian ditentukan oleh cara enerji psikis didistribusi dan dipakai oleh id – ego – superego. Jumlah energi psikis terbatas, dan ketiga unsur struktur itu bersaing untuk mendapatkannya. Kalau salah satu unsur menjadi lebih kuat maka dua yang lain menjadi lemah, kecuali ada enerji baru yang ditambahkan atau dipindahkan ke sistem itu.

  • Kecemasan

Bagian yang tidak kalah penting dari teori Freud adalah tentang kecemasan. Gerald Corey mengartikan kecemasan itu adalah sebagai suatu keadaan tegang yang memaksa kita untuk berbuat sesuatu. Kecemasan ini menurutnya berkembang dari konflik antara sistem id, ego dan superego tentang sistem kontrol atas energi psikis yang ada. Fungsinya adalah mengingatkan adanya bahaya yang datang.

Sedangkan menurut Calvin S. Hall dan Lindzey, kecemasan itu ada tiga: kecemasan realita, neurotik dan moral. (1) kecemasan realita adalah rasa takut akan bahaya yang datang dari dunia luar dan derajat kecemasan semacam itu sangat tergantung kepada ancaman nyata. (2) kecemasan neurotik adalah rasa takut kalau-kalau instink akan keluar jalur dan menyebabkan sesorang berbuat  sesuatu yang dapat mebuatnya terhukum, dan (3) kecemasan moral adalah rasa takut terhadap hati nuraninya sendiri. Orang yang hati nuraninya cukup berkembang cenderung merasa bersalah apabila berbuat sesuatu yang bertentangan dengan norma moral.

  • Mekanisme Pertahanan Ego

Untuk menghadapi tekanan kecemasan yang berlebihan, sistem ego terpaksa mengambil tindakan ekstrim untuk menghilangkan tekanan itu. Tindakan yang demikian itu, disebut mekanisme pertahanan, sebab tujuannya adalah untuk mempertahankan ego terhadap tekanan kecemasan. Dalam teori Freud, bentuk-bentuk mekanisme pertahanan yang penting adalah:

Represi : Yang paling dasar di antara mekanisme pertahanan lainnya. suatu cara pertahanan untuk menyingkirkan dari kesadaran pikiran dan perasaan yang mengancam. represi terjadi secara tidak disadari.

Denial : Memainkan peran defensif, sama seperti represi. orang menyangkal untuk melihat atau menerima masalah atau aspek hidup yang menyulitkan. Denial beroperasi pada taraf preconscius atau conscius

Reaction Formation : Salah satu pertahanan terhadap impuls yang mengancam adalah secara aktif mengekspresikan impuls yang bertentangan dengan keinginan yang mengganggu, orang tidak usah harus menghadapi anxietas yang muncul seandainya ia menemukan dimensi yang ini (yang tidak dikehendaki) dari dirinya. individu mungkin menyembunyikan kebencian dengan kepura-puraan cinta, atau menutupi kekejaman dengan keramahan yang berlebihan.

Proyeksi : Mengatribusikan pikiran, perasaan, atau motif yang tidak dapat diterima kepada orang lain. mengatakan bahwa impuls-impuls ini dimiliki oleh “orang lain diluar sana, tidak oleh saya”. misalnya seorang laki-laki yang tertarik secara seksual kepada anaknya perempuan, mengatakan bahwa anaknyalah yang bertingkah laku seduktif. dengan demikian ia tidak usah harus menghadapi keinginannya sendiri.

Displacement : salah satu cara menghadapi anxietas adalah dengan memindahkannya dari objek yang mengancam kepada objek “yang lebih aman”. misalnya orang penakut yang tidak kuasa melawan atasannya melampiaskan hostilitasnya di rumah kepada anak-anaknya

Rasionalisasi : kadang-kadang orang memproduksi alasan-alasan “baik” untuk menjelaskan egonya yang terhantam. rasionalisasi membantu untuk membenarkan berbagai tingkah laku spesifik dan membantu untuk melemahkan pukulan yang berkaitan dengan kekecewaaan. misalnya bila orang tidak mendapatkan posisi yang diinginkannya dalam pekerjaan, mereka memikirkan alasan-alasan logis mengapa mereka tidak mendapatkannya, dan kadang-kadang mereka berusaha membujuk dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa sebenarnya dia tidak menghendaki posisi tersebut.

Sublimasi : Dari pandangan freud, banyak kontribusi artistik yang besar merupakan hasil dari penyaluran energi sosial atau agresif kedalam tingkah laku kreatif yang diterima secara sosial dan bahkan dikagumi. misalnya impuls agresif dapat disalurkan menjadi prestasi olahraga.

Regresi : Beberapa orang kembali kepada bentuk tingkah laku yang sudah ditinggalkan. menghadapi stress atau tantangan besar, individu mungkin sudah berusaha untuk menanggulangi kecemasan dengan bertingkah laku tidak dewasa atau tak pantas.

Introyeksi : Mekanisme introyeksi terdiri dari mengambil alih dan “menelan” nilai-nilai standar orang lain. misalnya seorang anak yang mengalami penganiayaan, mengambil alih cara orangtuanya menanggulangi stress, dan dengan demikian mengabadikan siklus penganiayaan anak. introyeksi dapat pula positif, bila yang diambil alih adalah nilai-nilai positif dari orang-orang lain.

Perkembangan Kepribadian

Freud membagi perkembangan kepribadian menjadi 3 tahapan yakni tahap infatil (0 – 5 tahun), tahap laten (5 – 12 than) dan tahap genital (> 12 tahun). Tahap infatil yang faling menentukan dalam membentuk kepribadin, terbagi menjadi 3 fase, yakni fase oral, fase anal, dan fase falis.

1. Fase Oral (usia 0 – 1 tahun)

Pada fase ini mulut merupakan daerah pokok aktivitas dinamik atau daerah kepuasan seksual yang dipilih oleh insting seksual. Makan/minum menjadi sumber kenikmatannya. Kenikmatan atau kepuasan diperoleh dari ransangan terhadap bibir-rongga mulut-kerongkongan, tingkah laku menggigit dan menguyah (sesudah gigi tumbuh), serta menelan dan memuntahkan makanan (kalau makanan tidak memuaskan). Kenikmatan yang diperoleh dari aktivitas menyuap/menelan (oral incorforation) dan menggigit (oral agression) dipandang sebagai prototip dari bermacam sifat pada masa yang akan datang. Kepuasan yang berlebihan pada masa oral akan membentuk oran incorporation personality pada masa dewasa, yakni orang menjadi senang/fiksasi mengumpulkan pengetahuan atau mengumpulkan harta benda, atau gampang ditipu (mudah menelan perkataan orang lain0. Sebaliknya, ketidakpuasan pada fase oral, sesudah dwasa orang menjadi tidak pernah puas, tamak (memakan apa saja) dalam mengumpulkan harta. Oral agression personality ditandai oleh kesenangan berdebat dan sikap sarkatik, bersumber dari sikap protes bayi (menggigit) terhadap perlakuan ibunya dalam menyusui. Mulut sebagai daerah erogen, terbawa sampai dewasa dalam bentuk yang lebih bervariasi, mulai dari menguyah permen karet, menggigit pensil, senang makan, menisap rokok, menggunjing orang lain, sampai berkata-kata kotor/sarkastik. Tahap ini secara khusus ditandai oleh berkembangnya perasaan ketergantungan, mendapat perindungan dari orang lain, khususnya ibu. Perasaan tergantung ini pada tingkat tertentu tetap ada dalam diri setiap orang, muncul kapan saja ketika orang merasa cemas dan tidak aman pada masa yang akan datang.

2. Fase Anal (usia 1 – 3 tahun)

Pada fase ini dubur merupakan daerah pokok aktivitas dinamik, kateksis dan anti kateksis berpusat pada fungsi eliminer (pembuangankotoran). Mengeluarkan faces menghilangkan perasaan tekanan yang tidak menyenangkan dari akumulasi sisa makanan. Sepanjang tahap anal, ltihan defakasi (toilet training) memaksa nak untuk belajar menunda kepuasan bebas dari tegangan anal. Freud yakin toilet training adalah bentuk mulaidari belajar memuaskan id dan superego sekaligus, kebutuhan id dalam bentuk kenikmatan sesudah defakasi dan kebutuhan superego dalam bentuk hambatan sosial atau tuntutan sosial untuk mengontrol kebutuhan defakasi. Semua hambatan bentuk kontrol diri (self control) dan penguasaan diri (self mastery).

Berasal dari fase anal, dampak toilet training terhadap kepribadian di masa depan tergantung kepada sikap dan metode orang tua dalam melatih. Misalnya, jika ibu terlalu keras, anak akan menahan facesnya dan mengalami sembelit. Ini adalah prototip tingkahlaku keras kepala dan kikir (anal retentiveness personality). Sebaliknya ibu yang membiarkan anak tanpa toilet training, akan membuat anak bebas melampiaskan tegangannya dengan mengelurkan kotoran di tempat dan waktu yang tidak tepat, yang di masa mendatang muncul sebagai sifat ketidakteraturan/jorok, deskruktif, semaunya sendiri, atau kekerasa/kekejaman (anal exspulsiveness personality). Apabila ibu bersifat membimbing dengan kasih sayang (dan pujian kalau anak defakasi secara teratur), anak mendapat pengertian bahwa mengeluarkan faces adalah aktivitas yang penting, prototif dari, sifat kreatif dan produktif.

3. Fase Falis (usia 3 – 5/6 tahun)

Pada fase ini alat kelamin merupakan daerah erogen terpenting. Mastrubasi menimbulkan kenikmatan yang besar. Pada saat yang sama terjadi peningkatan gairah seksual anak kepada orang tuanya yang mengawali berbagai perganian kateksis obyek yang penting. Perkembangan terpenting pada masa ini adalah timbulnya Oedipus complex, yang diikuti fenomena castration anxiey (pada laki-laki) dan penis envy (pada perempuan).

Odipus kompleks adalah kateksis obyek kepada orang tua yang berlawanan jenis serta permusuhan terhadap orang tua sejenis. Anak laki-laki ingin memiliki ibunya dan menyingkirkan ayahnya; sebaliknya anak perempuan ingin memilki ayahnya dan menyingkirkan ibunya.

Pada mulanya, anak (laki dan perempuan) sama-sama mencintai ibuny yang telah memenuhi kebutuhan mereka dan memandang ayah sebagai saingan dalam merebut kasih sayang ibu. Pada anak laki-laki, persaingan dengan ayah berakibat anak cemas kalau-kalau ayah memakai kekuasaannya untuk memenangkan persaingan merebut ibunya. Dia cemas penisnya akan dipotong oleh ayahnya. Gejala ini disebut cemas dikebiri atau castrationanxiety. Kecemasan inilah yang kemudian mendorong laki-laki mengidentifikasi iri dengan ayahnya. Identifikasi ini mempunyai beberpa manfaat :

  1. anak secara tidak langsung memperoleh kepuasan impuls seksual kepada ibunya, seperti kepuasan ayahnya.
  2. perasaan erotik kepada ibu 9yang berbahaya) diubah menjadi sikap menurut/sayang kepada ibu.
  3. identifikasi kemudian menjadi sarana tepenting untuk mengembangkan superego adalah warisan dari oedipus complex.
  4. identifikasi menjadi ritual akhir dari odipus kompleks, yang sesudah itu ditekan(repressed) ke ketidaksadaran.

Pada anak perempuan, rasa sayang kepada ibu segera berubah menjadi kecewa dan benci sesudah mengetahui kelaminnya berbeda dengan anak laki-laki. Ibuya dianggap bertanggung jawab tergadap kastrasi kela innya, sehingga anak perempuan itu mentransfer cintanya kepada ayahnya yang memiliki organ berharga (yang juga ingin dimilikinya). Tetapi perasaan cinta itu bercampur dengan perasan iri penis (penis elvy) baik kepada ayah maupun kepada laki-laki secara umum. Tidak seperti pada laki-laki, odipuskompleks pada wanita tidak direpres, cinta kepada ayah tetap menetap walaupun mengalami modifikasi karena hambatan realistik pemuasan seksual itu sendiri. Perbedaan hakekat odipus kompleks pada laki-laki dan wanita ini (disebut oleh pakar psikoanalisis pengikut freud : electra complex) merupakan dasar dari perbedaan psikologik di antara pria dan wanita. Electra complex menjadi reda ketika gadis menyerah tidak lagi mengembangkan seksual kepad ayahnya, dan mengidentifikasikan diri kembali kepada ibunya. Proses peredaan ini berjalan lebih lambat dibanding pada anak laki-laki dan juga kurang total atau sempurna. Enerji untuk mengembangkan superego adalah enerji yang semula dipakai dalam proses odipus. Penyerahan enerji yang lamban pada wanita membuat superego wanita lebih lemah/lunak, lebih fleksibel, dibanding superego laki-laki. Perbadinganantara odipus kompleks laki-laki dan perempuan, diikhtisarkan pada tabel 2.

Anak Laki-laki

Identifikasi/mencintai ibu

Benci ayah yang menjadi saingan

Cemas dikebiri

Identiikasi kepada ayah

Oedipus berhenti seketika

Superego berkembang kuat

Anak Perempuan

Identifikasi/mencintai ibu

Fenis envy

Benci ibu – cinta kepada ayah

Identiikasi kepada ibu

Oedipus kompleks berhenti secara teratur

Superego berkembang lemah

Ikhtisar Oedips Compleks pada anak-anak laki-laki dan perempuan

4. Fase Latent (usia 5/6 – 12/13 tahun)

Dari usia 5 atau 6 tahun sampai remaja, anak mngalami periode perbedaan impuls seksual, disebut periode laten. Menurut Freud, penurunan minat seksual itu akibat dari tidak adanya daerah erogen baru yang dimunculkan oleh perkembangan biologis. Jadi fase laten lebih sebagai fenomena biologis, alih-lih bgian dari perkembangan psikoseksual. Pada fase laten ini anak mengembangkan kemampuan sublimasi, yakni mengganti kepuasanlibido dengan kepuasan nonseksual, khususnya bidang intelektual, atletik, keterampilan dan hubungan teman sebaya. Fase laten juga ditandai dengan percepatan pembentukan super ego; orang tua bekerjasama dengan anak berusaha merepres impuls seks agar enerji dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk sublimasi dan pembentukan superego. Anak menjadi lebih mudah mempelajari sesuatu dibandingkan dengan masa sebelum da sesudahnya (masa pubertas).

5. Fase Genikal (usia 12/13 – dewasa)

Fase ini dimulai dengan perubahan biokimia dan fisiologi dalam diri remaja. Sistem endoktrin memproduksi hormon-hormon yang memicu pertumbuhan tanda-tanda seksual sekunder (suara, rambut, buah dada, dll) dan pertumbuhan tandasesual primer. Impuls pregenital bangun kembali dan membawa aktivitas dinamis yang harus diadaptasi, untuk mencapai perkembangan kepribadian yang stabl. Pada fase falis, kateksis genital mempunyai sifat narkistik; individu mempunyai kepuasan dari perangsangan dan manipulasi tubuhnya sendiri, dan orang lain diingkan hanya karena memberikan bentuk-bentuk tambahan dari kenikmatan jasmaniah. Pada fase genital, impuls seks itu mulai disalurkan ke obyek di luar, seperti; berpartisipasi dalam kegiatan kelompok, menyiapkan karir, cinta lain jenis, perkawinan dan keluarga. Terjadi perubahan dari anak yang narkistik menjadi dewasa yang berorientasi sosial, realistik dan altruistik.

Fase genital berlanjut sampai orang tutup usia, dimana puncak perkembangan seksual dicapai ketika orang dewasa mengalami kemasakan kepibadian. Ini ditandai dengan kemasaka tanggung jawab seksual sekaligus tanggung jawab sosial, mengalami kepuasan melalui hubungan cinta heteroseksual tanpa diikuti dengan perasaan berdosa atau perasaan bersalah. Pemasan impuls libido melalui hubungan seksual memungkinkan kontrol fisiologis terhadap impuls genital itu; sehinggaakan membebaskan begitu banyak enerji psikis yang semula dipakai untuk mengontrol libido, merepres perasaan berdosa, dan dipakai dalam konflik antara id-ego-superego dalam menagani libido itu. Enerji itulah yang kemudian dipakai untuk aktif menangani masalah-masalah kehidupan dewasa; belajar bekerja, menunda kepuasan, menjadi lebih bertanggung jawab. Penyaluran kebutuhan insting ke obyek di luar yang altruistik itu telah menjadi cukup stabil, dalam bentuk kebiasaan-kebiasaan melakukan pemindahan-pemindahan,sublimasi-sublimasi dan identifikasi-identifikasi. Berikut beberapa gambaran tingkah laku dewasa yang masak, ditinjau dari dinamika kepribadian Freud :

  1. Menunda kepuasan : dilakukan karena obyek pemuas yang belum tersedia, tetapi lebih sebagai upaya memperoleh tingkat kepuasan yang lebih besar pada masa yang akan datang.
  2. Tanggung jawab : kontrol tingkah laku dilakukan oleh superego berlangsung efektif, tidak lagi harus mendapat bantuan kontrol dari lingkungan.
  3. Pemindahan/sulimasi : mengganti kepuasan seksual menjadi kepuasan dalam bidang seni, budaya dan keindahan.
  4. Identifikasi memiliki tujuan-tujuan kelompok, terlibat dalam organisasi sosial, politi dan kehidupan sosial yang harmonis.

Contoh Perilaku :

Klien, semasa kanak-kanak sering dipukul/menerima penyiksaan fisik dengan ikat pinggang kulit warna hitam oleh orang tuanya. Sehingga, sampai dewasa muncul kecemasan dalam diri klien. Ketika melihat ikat pinggang kulit warna hitam, klien langsung lari ketakutan.

Psikoanalisis memahami psikopatologi sebagai masalah perkembangan akibat gangguan semasa melawati tahap-tahap psikoseksal. Perkembangan kepribadian dipandang sebagai sesuatu yang kumulatif, sehingga gangguan pada masa awal perkembangan akan menjadi peristiwa traumatik yang pengaruhnya terasa sampai dewasa. Sama seperti yang dialami  klien, penyiksaan yang dia dapatkan saat masih kecil dimana saat pembentukkan kepribadian menimbulkan psikopatologis fobia; Ketakutan yang sangat dan tidak pada tempatnya, oleh Freud dianalisis sebagai dampak dari kecemasan yang dialihkan, bisa kecemasan yang berkaitan dengan impuls seksual atau kecemasan akibat peristiwa traumatik.

 

Perbedaan antara Teori Belajar Behavioristik dengan Teori Belajar Kognitif

Filed under: Uncategorized — punyabunga @ 12:58 am

Psikologi aliran behavioristik mulai mengalami pengembangan dengan lahirnya teori-teori tentang belajar dipelopori oleh Thorndike, Pavlov, Watson, dan Gunthrie. Mereka berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikakan oleh ganjaran (rewards) atau penguatan (reinforcment)dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang sangat erat antara reaksi-reaksi behavioral dengan stimulasintya. Teori yang dilahirkan oleh aliran behavioristik, yaitu Connectism Theory yang dikemukakan oleh Edward Thorndrik (1874-1949). Thorndike berpendapat bahwa belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon. Conditioning Theory yang dikemukakan dan dikembangkan pertama kali oleh John B. Watson di AS (1878-1958). Watson berpendapat bahwa belajar merupakan proses terjadinya refleks-refleks atau respon-respon bersyarat melalui stimulus penganti.

Sedangkan psikologi kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar “Gestalt”. Peletak dasar teori ini adalah Max Wertheimer (1880-1943) di Austria yang meneliti tentang pengaamatan dan problem solving. Sumbangan ini diikuti oleh Kurt Koffka (1886-1941) yang menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan; kemudian Wolfgang Kohler (1887-1959) yang meneliti tentang “insight’ pada simpanse. Kaum gestaltis berpendapat bahwa pengalaman itu berstruktur yang terbentuk dalam satu keseluruhan. Orang yang belajar, mengamati stimulus dalam keseluruhan yang terorganisir, bukan dalam bagian-bagian yang terpisah. Dalam situasi belajar, seseorang terlibat langsung dalam situasi itu dan memperoleh “Insight” untuk pemecahan masalah. Suatu konsep yang penting dalam psikologi gestalt adalah tentang “insight”, yaitu pengamatan atau pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian di dalam situasi pemasalahan. Insight juga sering dihubungkan dengan pernyataan spontan seperti “Aha!” atau “Oh, I see now”. Teori yang dilahirkan oleh aliran kognitif, yaitu teori belajar “Cognitif-field” yang dikembangkan oleh Kurt Lewin (1892-1947) dengan menaruh perhatian pada kepribadian dan psikologi sosial. Lewin berpendapat bahwa tingkah laku merupakan hasil tindakan antar kekuatan-kekuatan, baik yang dari dalam diri individu seperti; tujuan, kebutuhan, tekanan kejiwaan maupun dari luar diri individu, seperti; tantangan dan permasalahan. Teori belajar discovery learning yang dikemukakan oleh Jerome Bruner (1993) yang ditulisnya dalam sebuah buku yang berjudul “Process of Education”. Teori ini mempunyai dasar ide bahwa anak harus berperan secara aktif dalam belajar di kelas, dimana anak atau murid harus mampu mengorganisir bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir.

Dari beberapa penjelasan teori belajar di atas, baik dari aliran behavioristik maupun dari aliran kognitif (gestalt), dapat kita tarik suatu perbedaan yang mendasar, yaitu dimana para ahli psikologi behaviouristik lebih menitikberatkan proses hubungan “Stimulus-respon-reinforcment” sebagai bagian terpenting dalam belajar. Pendapat tersebut di tentang oleh para ahli psikologi kognitif, menurut mereka tingkah laku atau belajar seseorang senantiasa didasari pada kondisi kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingah laku itu terjadi. Jadi mereka berpandangan bahwa tingkah lakuseseorang bergantung pada “Insight” daripada “Trial and error” terhadap hubungan-hubungan yang ada di dalam suatu situasi. Orang yang belajar, menurut ahli kognitif lebih mengamati stimuli dalam keseluruhan yang terorganisir, bukan dalam bagian-bagian yang terpisah.

 

TEORI GESTALT

Filed under: Uncategorized — punyabunga @ 12:50 am

Psikolog gestalt merupakan kelompok psikolog yang berasal dari Jerman. Gestalt pertama kali di pelopori oleh artikel Max Wertheimer tentang gerakan yang muncul pada 1912. Meskipun Max Wertheimer (1880-1943) dianggap sebagai pendiri psikologi Gestalt sejak awal dia sudah bekerja sama dengan dua orang yang dianggap juga sebagai bapak pendiri, yakni Wolfgang Kohler (1887-1967) dan Kurt Koffka (1886-1941). Kohler dan Koffa berpartisipasi dalam eksperimen pertama yang dilakukan oleh Wertheimer. Masing-masing melakukan eksperimen sendiri-sendiri, namun ide-idenya mirip satu sama lain.

Awal dari gerakan gestalt muncul dari pemikiran Wertheimer ketika dia naik kereta api menuju Rhineland, dia mendapatkan gagasan bahwa jika dua cahaya berkedip-kedip (hidup dan mati), cahaya itu akan memberi kesan bahwa satu cahaya bergerak maju dan mudur. Setelah turun dari kereta ia melakukan eksperimen sederhana dengan menggunakan stroboscope (alat untuk menyajikan stimuli visual pada tingkat tertentu). Dia memperdalam gagasanya saat di kereta, yakni jika mata melihat stimuli dengan cara tertentu pengelihatan akan memberi ilusi gerakan yang oleh Wertheimer disebut phi phenomenon. Pengalaman fenomenologis yang kita alami adalah berbeda dari bagian-bagian yang menyusun pengalaman tersebut. Aliran gestalt percaya walaupun pengalaman psikologis dari pengalaman sensori ( inderawi) namun pengalaman itu berbeda dengan elemen sensoris itu sendiri. Pengalaman tersebut tidak dapat kita pahami jika kita hanya menganalisis komponen-komponennya, namun harus di pahami secara keseluruhan.

Gestalt berasal dari kata Jerman yang artinya pola atau konfigurasi. Aliran ini berpenda[at bahwa kita mengalami dunia secara menyeluruh dan bermakna. Kita tidak dapat melihat stimuli yang terpisah namun stimuli-stimuli tersebut dikelompokan bersama (di organisasikan) kedalam suatu konfiguasi yang bermakna. Pandangan gestaltis adalah “keseluruhan itu berbeda dari penjumlahannya” atau “ membagi-bagi berarti mendistorsi” gestalt mengkonseptualisasi berbagai peristiwa sebagai fenomena yang terorganisasi utuh dan logis. Misalnya kita mendengarkan sebuah orkestra simphoni. Kita tidak dapat menganalisa kontribusi masing-masing alat musik secara terpisah, namun kita harus mendengarkan secara keseluruhan agar dapat melihat keindahannya.

PERTENTANGAN TERHADAP VOLUNTARISME,STRUKTURALISME DAN BEHAVIORISME.

Strukturalisme menggunakan metode introspektif untuk menemukan elemen-elemen pemikiran. Strukturalis adalah asosianis karena mereka percaya bahwa ide-ide yang kompleks terdiri dari ide-ide sederhana yang dikombinasikan sesuai dengan hukum asosiasi. Perhatian utama mereka adalah untuk menemukan ide sederhana yang dianggap sebagai blok pembangunan yang lebih kompleks.

Fugsionalisme cenderung lebih memperhatikan bagaimana proses perilaku atau pemikiran manusia berhubungan dengan usaha bertahan hidup (survival).

Behavioris menyimpulkan bahwa satu-satunya pokok persoalan psikologi yang dapat di ukur secara reliabel dan jelas adalah perilaku yang tampak. Elemen kesadaran yang dijelaskan dalam strukturalisme dan voluntarisme dianggap tidak reliabel karena tidak dapat diteliti secara langsung sehingga meragukan dalam ilmu sains.

Psikolog gestalt berpendapat bahwa voluntaris,strukturalis, dan behavioris salah karena berusaha membagi-bagi pokok persoalan menjadi elemen-elemen dalam rangka menggunakan pemahaman. Voluntaris dan strukturalis mencari ide-ide elemental yang berkombinasi untuk membentuk pemikiran yang kompleks. Behavioris berusaha memahami perilaku yang kompleks dari segi kebiasaan, respon yang dikondisikan atau kombinasi stimulus respon. Menurut gestalt ketika pengalaman ini dibagi kedalam elemen-elemen tertentu maka mereka akan kehilangan maknanya. Fenomena perseptual harus di pahami langsung tanpa analisis tambahan.

Dibawah ini adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan pendekatan Gestalt dan behavioristik :

Gestalt                                                                        Behavioristik

Holistik                                                                       Atomistik, elemental

Molar                                                                           Molekular

Subjektif                                                                     Objektif

Nativistik                                                                    Empiristik

Kognitif, fenomenologis                                             Behavioral

TOKOH PSIKOLOGI GESTALT

  • Max Wertheimer (1880-1943)
  • Wolfgang Kohler (1887-1967)
  • Kurt Koffka (1886-1941)

KONSEP TEORITIS UTAMA

  • Teori Medan (Field Theory)

Medan diartikan sebagai sistem yang saling terkait secara dinamis, bagian yang satu saling mempengaruhi bagian yang lain. Psikologi gestlat percaya bahwa apa yang terjadi pada seseorang yang akan mempengaruhi sesuatu yang lain pada diri orang itu.

Salah satu tokoh psikologi gestalt yang mengembangkan teori motivasi berdasarkan teori medan adalah Kurt Lewin (1890-1947) Lewin mengatakan bahwa perilaku manusia pada waktu tertentu di tentukan oleh jumlah total dari fakta psikologis pada waktu tertentu. Life space ( ruang kehidupan) seseorang adalah jumlah total dari semua fakta psikologis ini. Kejadian – kejadian tersebut menentukan perilaku yang akan menimbulkan pengaruh positif maupun negatif. Pengalaman tersebut akan menata ulang dan menyebabkan perubahan dalam hidup. Dan sebab-sebab tersebut bersifatdinamis. Jadi teori medan psikologis secara singkat dapat dijelaskan jika seseorang berada dalam mendan pengaruh yang terus menerus berubah, dan satu perubahan dalam satu sebab akan mempengaruhi semua sebab lainya.

  • Nature vs Nurture

Otak individu berperan aktif dalam merubah informasi sensori yang masuk menjadi sesuatu yang berarti dan terorganisasi. Behavioris cenderung melihat otak sebagai penerima pasif yang merespon pada informasi sensoris. Isi dari pikiran adalah sintesis dari pengalaman atas apa yang kita pelajari dari lingkungan.Sedangkan gestaltis cenderung melihat otak sebagai bagian yang aktif berperan sebagai pengubah infomasi sensoris. Otak memiliki sifat alami dalam menata dan memberi makna pada informasi sensoris.

  • Law of  Pragnanz

Hukum Pragnanz dipakai oleh gestaltiz sebagai prinsip pedoman mereka dalam meneliti belajar persepsi dan memori. Kofka (1963 [1935]) mendeskipsikan hukum pragnanz sebagai “penataan psikologis selalu sebaik yang di izinkan oleh lingkungan pengontrolnya”. Ada kecenderungan untuk melihat sesuatu menjadi lebih sederhana, bermakna dan komplit agar pengalaman lebih dapat terorganisir. Individu akan merespon lingkungan lebih bermakna dari kondisi yang sebenarnya. Disini juga dikenal principle of closure (prinsip penutupan atau pengakhiran) yakni individu memiliki tendensi untuk melengkapi pengalaman yang tidak lengkap. Misalnya kita melihat titik titik yang disusun berdekatan sejajar membentuk sebuah garis lurus, maka kita cenderung akan mendeskripsikannya sebagai sebuah garis lurus.

Prinsip-prinsip dalam organisasi persepsi :

  • Figure and ground relationship

Edgar Rubin (1886-1891) menyatakan bahwa ada 2 komponen dalam persepsi yakni figure (komponen dari persepsi yang bersifat dominan dan menjadi pusat perhatian) dan ground (bersifat homogen dan menjadi latar belakang dari figure).

Contohnya, ketika saya melihat Agung sebagai sosok yang pintar dan pendiam di kampus, namun ketika saya melihat agung di sebuah tempat dugem persepsi saya dia adalah seorang yang banyak omong dan pandai bergaul.

  • Principle of proximity

Prinsip yang menjelaskan bahwa bagian-bagian yang berdekatan cenderung dipersepsikan bersama dan akan menjadi satu kelompok dalam persepsi kita.

Contohnya, Agung adalah orang yang modis, maka saya akan mempersepsikan oang orang yang dekat dengan agung adalah orang orang yang modis juga.

  • Principle of similiarity

Prinsip yang menjelaskan bahwa bagian yang serupa cenderung dilihat sebagai suatu kelompok.

Contohnya, ketika saya melihat siswa SMA Trimurti berpakaian seragam mini, maka setiap saya melihat siswa berpakaian mini maka saya akan mempersepsikan bahwa dia siswa SMA Trimurti. Walaupun sebenarnya bukan.

  • Principle of closure

Prinsip yang menjelaskan bahwaadanya kecenderungan kita dalam mempersepsi untuk melengkapi bentuk yang tidak lengkap.

Contohnya,

  • Principle of inclusiveness

Prinsip yang menjelaskan bahwa kelompok yang mengandung stimuli terbesar cenderung akan dilihat lebih mencolok sebagai figur.

Contohnya, ITS dikenal sebagai kampus cowok, padahal tidak semua mahasiswanya adalah lelaki, ada juga sebagian kecil mahasiswa perempuan.

  • Principle of continguity

Prinsip yang menjelaskan bahwastimulus yang mempunyai kontinuitas antara satu dengan yang lain akan lebih diperhatikan menjadi kesatuan tersendiri.

Contohnya, jika kita memperhatikan seseorang yang berpakaian nyentrik dan mencolok di kampus maka seterusnya kita akan mempethatikan dia walaupun dia sedang tidak berpakaian mencolok. Timbul perhatian yang lebih kepada hal khusus tersebut.

  • Principle of common late

Prinsip yang menjelaskan bahwa elemen yang bergerak bersama atau dengan cara serupa akan dikelompokkan menjadi satu kesatuan.

Contohnya jika kita melihat lampu yang berjajar yang dihidupkan secara bergantian akan menimbulkan kesan adanya gerakan.

OTAK DAN PENGALAMAN SADAR

Setiap teori dalam psikologi selalu membahas tentang hubungan tubuh dengan pikiran. Strukturalis meyakini bahwa ada hubungan langsung antara tubuh (sensasi) dengan pikiran (ide yang ditimbulkan oleh sensasi). Ada keyakinan dari para strukturalis bahwa isi pikiran bervariasi sebagai fungsi dari pengalaman sensori, yang disebut epiphenomenalism.

Sedangkan gestaltian, memandang adanya isomorphism (isomorfisme) antara pengalaman psikologis dengan proses yang ada di dalam otak.  Stimulus eksternal menimbulkan reaksi di otak, dan kita merasakan atau mengalami reaksi tersebut saat reaksi itu terjadi di otak. Perbedaan pandangan dengan strukturalis adalah bahwa para gestaltis percaya bahwa otak aktif mengubah stimuli sensoris. Dengan kata lain, kesadaran  manusia sudah berada dalam keadaan yang terorganisasi oleh otak itu sendiri sehngga stimulasi sensorik mempunyai makna tertentu.

Gestaltis menyatakan bahwa aktivitas otak berhubungan secara dinamis dengan isi pemikiran serta kekuatan pikiran ditentukan secara genetik. Karena teori “pikiran aktif” dan genetik tersebut, maka gestaltis termasuk aliran nativis serta mereka termasuk penganut tradisi Plato, Descartes, dan Kant

PRINSIP BELAJAR GESTALT

Masalah                       disequilibrium kognitif

Dorongan menemukan solusi

Pre solution Period      : konsep trialand error

Insightful Learning

  • Disequillibrium Kognitif Sebagai Kekuatan Motivasional

Para psikolog gestalt memandang bahwa suatu disekuilibrium kognitif mengandung unsur motivasional yang menyebabkan organisme berusaha untuk mendapatkan kembali keseimbangan dalam sistem mentalnya. Gestaltis setuju dengan pendapat Guthrie dan Hull bahwa problem akan memunculkan stimuli atau dorongan yang terus ada sampai problem terpecahkan, dan setelah terpecahkan dorongan tersebut akan berkurang. Bluma Zeigarnik menyatakan adanya tedensi untuk mengingat tugas yang belum selesai dengan lebih baik daripada tugas yang sudah di selesaikan yang disebut dengan Zeirganik Effect. Jadi dapat disimpulkan bahwa aktifitas otak cenderung pada keseimbangan atau equilibrium sesuai hukum pragnanz. Kecenderungan ini berlangsung terus menerus smpai ada sesuatu yang “mengganggu”, misalnya masalah gangguan keseimbangan ini menimbulkan motivasi untuk menyelesaikan masalah.

  • Periode Pra solusi

Konsep ini dapat dijelaskan dengan disequillibrium sebagai trial and error secara kognitif. Menurut gestaltis, organisme menguji sejumlah hipotesis dengan cara yang paling efektif untuk memecahkan problem. Gestalt lebih menekankan pada prinsip kognitif trial and error bukan pada behavior trial and error.

  • Insightful learning (belajar berwawasan)

Insightful learning adalah bagaiman akita memahami masalah, bukan merupakan sebuah ilham yang datang secara tiba-tiba. Terdapat dua proses dalam insightful learning ini yakni :

–          Recognize situation : pemahaman akan situasi dan masalah.

Detout problems : problem solving atau pemecahan masalah.

  • Transposisi

belajar terjadi melalui proses transposisi yakni ketika satu prinsip pemecahan masalah dalam satu situasi diaplikasikan kedalam problem lain. Menurut behavioris pandangan mereka tentang koneksi S-R pada proses belajar disebut sebagai absolute theory. Sedangkan gestalt lebih menekankan perbandingan antara dua stimuli dan pendapatnya disebut Relational theory.

PEMIKIRAN PRODUKTIF

Wertheimer tertarik untuk mengaplikasikan prinsip gestalt ke pendidikan. Dalam bukunya yang berjudul productive thinking Wertheimer mengeksplorasi sifat dari pemecahan masalah dan tekhnik yang digunakan untuk mengajarkannya yakni pemikiran produktif itu sendiri.

Wertheimer mengontraskan memorisasi tanpa berfikir mendalam dengan pemecahan problem berdasarkan prinsip gestalt. Dalam memorisasi itu, pembelajar mempelajari fakta atau  aturan tanpa benar-benar memahaminya. Proses belajar itu akan berlangsung kaku, mudah terlupakan dan dapat diaplikasikan hanya pada situasi yang terbatas. Tetapi, belajar sesuai prinsip gestalt didasarkan pada pemahaman dan terhakikat dari problem. Belajar semacam itu berasal dari dalam individu dan tidak dipaksakan oleh orang lain, akan mudah di generalisasikan dan diingat dalam jangka waktu yang lama.

Wertheimer menekankan poin yang sama berkali-kali. Yakni, belajar berdasarkan pemahaman akan lebih dalam dan dapat lebih di generalisasikan  dari pada belajar yang hanya berdasarkan ingatan tanpa pemahaman. Sesorang harus melihat struktur atau hakikat dari suatu problem dan harus melakukannya sendiri agar dpat memahaminya.

JEJAK INDIVIDUAL VS SISTEM JEJAK

Koffka (1963 [1935]) berusaha menghubungkan masa lalu dan masa sekrang melalui konsep memory trace (jejak memori). Ia mengasumsikan bahwa pengalaman saat ini akan membangkitkan apa yang disebutnya proses memori. Ketika proses ini berhenti, jejak dari efeknya masih tertinggal di otak. jejak ini akan mempengaruhi semua proses serupa yang terjadi di masa depan. Semakin kuat jejak memori semakin kuat pengaruhnya pada sebuah proses. Koffka juga mengatakan adanya prinsip kebaruan (recency) yang menyatakan bahwa apa yang dilakukan terakhir kali oleh indiidu dalam suatu situasi nanti akan dilakukan lagi apabila situasi itu berulang.

Berbagai jejak individual yang saling terkait disebut trace system (sistem jejak).Koffka menyatakan bahwa kualitas keseluruhan dari keterampilan akan mendominasi jejak individual dan karenanya menyebabkan hilangnya individualitas. Karena sisitem jejak makin kuat, sistem itu akan berpengaruh besar terhadap setiap pengalaman individual yang kita punya. Jadi,penekanan prinsip gestalt adalah keseluruhan dari pengalaman dan pengingatan kembali pengalaman.

PENDAPAT PSIKOLOGI GESTALT MENGENAI PENDIDIKAN

Gestalt berpendapat bahwa problem yang tidak selesai akan menimbulkan ambiguitas atau ketidakseimbangan organisasional dalam pikiran siswa dan ini adalah kondisi yang tidak diinginkan.pengertian ambiguitas dapat dilihat sebagai teori gestalt yang sejajar dengan penguatan kaum behavioris. Akan tetapi, reduksi ambiguitas dapat dianggap sebagai penguat intrisik, sedangkan behavioris biasanya lebih menekankan pada penguat eksternal atau ekstrinsik.

Brunner dan Holt menganut gagasan Gestaltian bahwa belajar adalah memuasakan secara personal dan tidak perlu di dorong-dorong oleh penguatan eksternal. Salah satu tekhnik pembelajaran yang menggunakan konsep gestalt adalah dengan menggunakan tekhink ceramah ( lecture ).

KONTRIBUSI

Kontribusi penting dari gestalt adalah kritiknya pada pendekatan molekuler atau atomistik dari behaviorisme S-R. Psikolog Gestalt mengemukakan bahwa otak secara otomatis mengubah dan menata pengalaman, menambah kualitas yang tidak ada dalam pengalaman inderawi. Fokusnya pada konsep transposisi dan insightful learning menjadikan gestalt sebagai perhatian utama dari psikologi kognitif kontemporer.

KRITIK

Sikap aliran behavioristik dianggap terlalu dominan terhadap teori belajar gestalt itulah mengapa gestalt tidak pernah menduduki posisi pertama dalam teori belajar.

Daftar Pustaka

Hergenhahn, B.R. (1997). An Introduction to Theories of Learning. N.J.:P.-Hall,

 

Teori Gordon Allport

Filed under: Uncategorized — punyabunga @ 12:43 am

Konsep Kepribadian menurut Gordon Allport

Kepribadian manusia menurut Allport adalah organisasi yang dinamis dari system psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik atau khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kemudian Allport juga berpendapat bahwa kepribadian yang neurotis dan kepribadian yang sehat merupakan hal yang mutlak terpisah. Namun dalam hal ini tang menjadi kelebihan Allport adalah tentang antisipasi, Dalam teori Allport antisipasi adalah penting untuk menentukan siapa dan apakah kita ini, dalam membentuk identitas diri kita. Allport selalu mementingkan adanya sifat, kompleks dan khas dari tingkah laku manusia. Semua itu memiliki dasar / kesatuan / unitas. Tingkah laku yang disadari adalah yang terpenting. Dan juga mementingkan ego / self . Menurutnya,self merupakan satu-satunya sepribadian yang sebenarnya. Dengan kata lain self dibentuk melalui deferiensiasi medan fenomena dan melalui introjeksi nilai-nilai orang tertentu serta dari distorsi pengalaman. Self bersifat integral dan konsisten. Pengalaman yang tidak sesuai dengan struktur self dianggap ancaman dan self dapat berubah sebagai akibat kematangan biologic dan belajar. Konsep self menggambarkan konsepsi mengenai dirinya sendiri, ciri-ciri cerdas, menyenangkan, jujur, baik hati dan menarik.

●      Struktur dan dinamika kepribadian

Di teori lain, struktur dan dinamika dibahas secara terpisah. Namun oleh allport semua itu dinyatakan dalam bentuk sifat. Antara struktur dan dinamika itu sama. Sifat adalah penekanan teori allport sehingga sering disebut dengan traits psychology.

Organisasi dinamik menekankan bahwa kepribadian selalu berkembang dan berubah. Psikofisis menunjukan bahwa kepribadian bukan hanya mental dan neural, namun jiwa dan raga menjadi suatu kesatuan pribadi. Kepirbadian individu dipengaruhi oleh kepribadian masing masing dari istilah menentukan. Yang dimaksudkan dengan khas / unik adalah allport memberi penekanan pada individualitas, bahwa tidak ada 2 orang yang benar benar sama dalam hal kepribadian. Kepribadian itu memiliki arti sebagai adaptasi / penyesuaian diri dengan lingkungan.

●      Watak mengisyaratkan norma tingkah laku tertentu dimana individu akan dinilai perilakunya. Watak sebagai kepribadian yang di evaluasi dalam arti normatif. Watak yang baik adalah watak yang sesuai dengan norma yang berlaku.

●      Temperamen biasanya menunjuk pada disposisi disposisi yang erat kaitannya dengan faktor faktor biologis / fisiologis dan sedikit sekali mengalami perubahan dalam perkembangan dan memiliki peran yang besar dibanding aspek aspek lain.Temperamen adalah gejala karakteristik dari sifat individu , termasuk mudah tidaknya kena rangsangan emosi , cepat / tidak berekasi, kualitas hidup. Bergantung pada faktor konstitusional, terutama keturunan.

●      Sifat adalah sistem neuropsikis yang digeneralisasikan. Sifat memiliki eksistensi dalam diri individu. Sifat dibedakan dengan habits. Kebiasaan merupakan kecenderungan kecenderungan bersifat menentuka. Sifat merupakan sifat gabungan dari beberapa kebiasaan. Menurut allport, sifat dan sikap adalah predisposisi untuk merespon dan khas , dapat membimbing tingkah laku, merupakan hasil belajar dan faktor genetis.

●      Sikap, berhubungan dengan suatu objek sehungga lebih luas. Makin besar objek dikenai sifat, maka sifat dan sikap akan menjadi semakin mirip. Sikap biasanya mengandung penilaian terhadap suatu objek.

Orang dapat memiliki suatu sifat tapi tidak dapat memiliki suatu tipe. Sifat dapat memunculkan keunikan pribadi, sedangkan tipe menenggelamkannya. Pembagian sifat :

  1. sifat kardinal ( pokok )
    Sangat menonjol, sehingga pengaruhnya dapat langsung dilihat. Jenisnya relatif kurang biasa sehingga tidak tampak. Sifat kardinal nampak pada setiap orang tapi tidak semua orang punya sifat ini
  2. Sifat sentral
    Merupakan kecenderungan kecenderungan yang sangat khas pada individu, sering muncul dan sangat mudah disimpulkan . contoh : ekstravert dan introvert
  3. Sifat sekunder

Contoh Perilaku :

Seseorang memiliki kepribadian yang matang menurut allport memiliki hal-hal dibawah ini. Berikut contoh perilakunya :

  1. Ekstensi sense of self

Seorang mahasiswa semester akhir yang telah masuk dalam masa dewasa awal, berusaha untuk memperluas “link” agar mereka bisa memperluas pergaulan mereka, sehingga dengan mengenal berbagai macam orang mahasiswa itu belajar ubtuk lebih mengerti minat orang lain dan mengerti minatnya sendiri. Misalnya saja dalam hal pekerjaan yang akan ia geluti nanti. Dengan begitu ia mulai mempunyai rencana masa depan, apa yang ingin ia lakukan demi masa depannya.

  1. Hubungan hangat/akrab dengan orang lain

Seseorang yang telah masuk ke masa dewasa awal dan madya pasti berusaha mencari kedekatan dengan lawan jenis, itu semua dilakukan untuk membina hubungan dengan orang lain. Seperti mencari pasangan hidup, serta meminta persetujuan keluarga atas pilihannya.

  1. Penerimaan diri

Dalam masa ini emosi seseorang tidak lagi meluap-luap, misalnya saja ia diputus oleh kekasihnya, ia akan lebih bisa mengontrol diri, tidak mudah frustasi dalam menghadapinya.

  1. Pandangan-pandangan realistis, keahlian dan penugasan

Bila seseorang mengalami masalah, misalnya saja masalah yang cukup besar dikantor, maka ia harus dapat mengatasinya tanpa panik atau malah merusaknya, ia pun sudah bisa memilih mana tugas yang cocok untuknya dan mana yang tidak.

  1. Objektifikasi diri: insight dan humor

Contoh perilakunya adalah empati, kita harus bisa menempatkan diri di posisi orang lain, agar bisa diterima oleh masyarakat, kita tidak menjadi seseorang yang teralu subyektif. Dan juga dalam hidup ini kita butuh hiburan, seperti tv yang berisi acara komedi misalnya, itu tidak hanya dianggap sebagai sesuatu yang bisa ditertawakan, tetapi lebih agar kita bisa melihat keanekargaman manusia.

  1. Filsafat Hidup

Seseorang yang mulai dewasa, ia pasti telah memiliki patokan dalam hidupnya, misalnya saja pemuda islam, ia pasti telah menaati perintah islam, dan menjadikan itu semua sebagai falsafah hidup maupun pegangan hidupnya.

 

Ekologi Kelas “Lingkungan Kelas” (Psikologi Pendidikan)

Filed under: Uncategorized — punyabunga @ 12:37 am

Pengertian

Lingkungan kelas adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat proses pembelajaran dilaksanakan. Doyle (1979, 1986) mendeskripsikan kelas sebagai sesuatu yang bersifat multidimensional, serentak, segera, dan tidak dapat diprediksi. Ruang kelas adalah lingkungan yang kompleks dimana manusia berinteraksi, saling bergantung antar satu orang ke orang lain, dan dengan berbagai karakter unik dalam lingkungan sosial dan fisik yang spesifik

Faktor penting yang menentukan hasil belajar adalah lingkungan kelas. Dalam lingkungan kelas yang menyenangkan, siswa akan senang belajar, dan secara langsung akan meningkatkan hasil belajar. Sebaliknya jika lingkungan kelas tidak nyaman maka tidak akan mendukung hasil belajar yang maksimal. Lingkungan kelas merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar siswa.

Lingkungan kelas tersebut dapat bersifat fisik, misalnya ruang kelas, perabotan kelas, kebersihan kelas, meja-kursi, dan lain lain. Lingkungan kelas juga dapat bersifat non fisik, misalnyai nteraksi, ketenangan, dan kenyamanan.

Prinsip Penataan Kelas

Berikut adalah empat prinsip dasar yang bisa digunakan ketika menyusun kelas (Evertson, Emmer, & Worsham, 2006)

  • Mengurangi hambatan di arena macet.

Gangguan dan kekacauan sering kali muncul di area macet. Ini meliputi area kerja kelompok, meja siswa, meja guru, rautan, rak buku, ruang komputer, dan lokasi penyimpanan. Sebisa mungkin, pisahkanlah area ini satu sama lain dan pastikanlah area tersebut mudah didatangi.

  • Memastikan bahwa guru bisa dengan mudah melihat semua siswa.

Sebuah tugas manajemen yang penting adalah memantau siswa dengan seksama. Untuk melakukan ini, guru harus mampu untuk melihat semua siswa pada pada setiap waktu. Pastikanlah ada barisan meja yang kosong di antara meja guru, lokasi pembelajaran, meja siswa, dan semua area kerja siswa. Berdirilah di tempat-tempat yang berbeda di ruangan untuk mencari tempat yang terhalangi.

  • Membuat materi pengajaran yang sering digunakan dan persediaan siswa menjadi mudah untuk diakses.

Hal ini meminimalisasi waktu persiapan dan pembersihan, begitu pula dengan kemunduran dan istirahat dalam alur aktivitas.

  • Memastikan bahwa siswa bisa dengan mudah mengobservasi presentasi seluruh kelas.

Tetapkanlah dimana guru dan siswa akan mengambil tempat ketika presentasi seluruh kelas terjadi. Untuk aktivitas ini, siswa seharusnya tidak perlu memindahkan kursi atau menoleh. Untuk mencari tahu seberapa baik siswa bisa melihat dari tempat mereka, duduklah di kursi mereka di bagian-bagian yang berbeda dari ruangan tersebut.

Menurut Louisell, ketika menata lingkungan fisik kelas, guru harus mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Visibility (keleluasan pandangan), artinya penempatan atau penataan barang-barang di dalam kelas tidak mengganggu pandangan siswa sehingga mereka secara leluasa dapat memandang guru, benda, atau kegiatan yang sedang berlangsung.
  2. Accebility (mudah dicapai), artinya barang-barnag atau alat-alat yang biasa digunakan oleh siswa dalam proses pembelajaran mudah dijangkau.
  3. Fleksibilitas (keluwesan), artinya barang-barang yang ada di dalam kelas hendaknya mudah untuk ditata dan dipindah-pindahkan sesuai dengan tuntutan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan oleh siswa dan guru.
  4. Kenyamanan, baik bagi siswa maupun bagi guru sendiri.
  5. Keindahan, berkenaan dengan usaha guru menata ruangan kelas yang menyenangkan dan kondusif bagi kegiatan pembelajaran. Ruangan kelas yang indah dan menyenangkan, berpengaruh positif terhadap sikap dan tingkah laku siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.

Tujuan Penataan Kelas

Tujuan utama penataan lingkungan fisik kelas adalah mengarahkan kegiatan siswa dan mencegah munculnya tingkah laku siswa yang tidak yang tidak diharapkan melalui penataan tempat duduk, perabot, dan barang-barang lainnya yang ada di dalam kelas, sehingga memungkinkan terjadinya interaksi aktif antara siswa dan guru serta antar siswa, dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu penataan kelas harus memungkinkan guru dapat memantau semua tingkah laku siswa sehingga dapat dicegah munculnya masalah disiplin. Melalui penataan kelas, diharapkan siswa dapat memusatkan perhatiannya dalam proses pembelajaran dan akan bekerja secara efektif.

Gaya Penataan Kelas

  • Gaya auditorium (auditorium style), semua siswa mengghadap guru. Susunan ini mencegah kontak siswa secara berhadap-hadapan dan guru bebas untuk bergerak ke manapun di dalam ruangan. Sering digunakan ketika guru memberikan kuliah atau seseorang mengaddakan presentasi untuk semua kelas.
  • Gaya berhadap-hadapan (face-to-face style), siswa duduk berhadap-hadapan satu sama lain. Gangguan dari siswa lain akan lebih tinggi dalam susunan ini daripada gaya auditorium.

  • Gaya off-set (off-set style), siswa dalam jumlah yang kecil (biasanya tiga sampai empat orang) duduk di meja, tetapi tidak duduk berseberangan secara langsungdari satu sama lain.

  • Gaya seminar (seminar style), siswa dalam jumlah besar (empat sampai delapan) duduk dalam susunan sirkuler, persegi empat, atau bentuk U. Ini efektif ketika guru menginginkan para siswa untuk berbicara satu sama lain atau berbincang dengan anda.
  • Gaya kelompok (cluster style), siswa dalam jumlah kecil (biasanya empat sampai delapan) bekerja dalam kelompok kecil yang saling berdekatan. Susunan ini sangat efektif untuk aktifitas belajar secara kolaboratif.

Personalisasi kelas

Menurut ahli manajemen kelas, Carol Weinstein dan Andrew Mignano (2007), ruang kelas sering kali menyerupai kamar motel. Menyenangkan tetapi impersonal, tidak memperlihatkan apapun tentang orang-orang yang menggunakan ruang tersebut.

Untuk mengubah ruang kelas agar mencerminkan karakteristik siswa yang menggunakan ruang tersebut, tempellah foto, karya seni, proyek tertulis para siswa, grafik yg menyebutkan hari ulang tahun (dari siswa-siswa sekolah dasar dan masa kanak-kanak awal), serta ungkapan positif lain dr identitas siswa.

Langkah-Langkah Mendesain Kelas

Langkah-langkah mendesain kelas (Weinstein, 1997; Weinstein dan Mignano, 1997)

  1. 1. Pertimbangkan apa aktivitas yang akan dilakukan murid

Jika anda akan mengajar TK atau SD, anda perlu menciptakan setting untuk membaca dengan suara keras, mengajar membaca secara berkelompok, tempat untuk berbagi pandangan, pengajaran matematika dan tempat pelajaran untuk keterampilan dan seni. Guru sains sekolah menengah mungkin harus mengakomodasi intruksi untuk seluruh kelompok, aktivitas laboratorium dan presentasi media. Di sebelah kiri kertas kerja, buat daftar aktivitas murid yang akan dilakukan. Disebelahnya ditulis susunan khusus yang perlu dipertimbangkan; misal area seni dan sains perlu berada di dekat komputer, dekat outlet listrik.

  1. 2. Buat gambar rencana tata ruang

Sebelum anda memindah perabot, gambar beberapa rancangan tata ruang dan kemudian pilih salah satu yang menurut anda paling baik.

  1. 3. Libatkan murid dalam perencanaan tata ruang kelas

Anda dapat merancanakan tata ruang sebelum sekolah dimulai, tetapi setelah sekolah dimulai, tanyakan kepada murid tentang bagaimana pendapat mereka tentang rencana anda itu. Jika mereka menyarankan perbaikan yang masuk akal, cobalah. Murid sering melaporkan bahwa mereka ingin ruang yang memadai dan tempat sendiri dimana mereka bisa menyimpan barang-barang mereka.

  1. 4. Cobalah rancangan dan bersikaplah fleksibel dalam mendesainnya

Beberapa minggu setelah masuk sekolah, evaluasilah efektivitas ruang anda. Waspadalah pada problem yang mungkin muncul akibat penataan itu. Misalnya, sebuah studi menemukan bahwa ketika murid TK berkerumun di dekat guru yang membacakan sebuah cerita, mereka kerap ribut sendiri (Krantz dan Risley, 1972). Atur murid dalam posisi setengah lingkaran agar dapat mengurangi keributan.

Tip-Tip Penataan Kelas

  • Pastikan area ruang kelas didefinisikan  dengan baik
  • Tata jalan tempat lalu lalang dan tempat penyimpanan
  • Perabot yang bersih dan aman adalah keharusan
  • Menata ulang kelas adalah sesuatu yang menyegarkan. Cari sudut pandang yang berbeda untuk menempatkan orang dan barang
  • Materi harus disimpan di tempat yang sama sepanjang tahun ajaran
  • Kelas harus terang dan menyegarkan dengan banyak materi  dan kenangan sekolah yang bisa dibaca dan dilihat murid

Yang Harus Diperhatikan dalam Penataan Kelas

Ruang kelas yang baik adalah ruang kelas yang dapat mendukung usaha para guru  dalam mengajar. Untuk mencapai tujuan itu, selain ruang kelas harus aman, ruang kelas juga harus diciptakan sedemikian rupa sehingga nyaman untuk menjadi tempat belajar dan bermain. Berikut ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Perabotan Furniture
Lihatlah tempat duduk di Sekolah Anda, apakah sudah sesuai dengan ukuran anak-anak atau belum. Tempat duduk yang tepat bagi anak-anak adalah apabila anak-anak dapat duduk dengan posisi nyaman, dengan kaki menyentuh lantai. Apabila tempat duduk terlalu tinggi maka setelah 10 menit duduk, anak-anak akan gelisah dan segera mencoba menggerakkan badan dan memindahkan kakinya. Demikian pula mejanya. Jika dalam kelas anak-anak menggunakan meja dengan ukuran tinggi/besar yang sebenarnya untuk orang dewasa, maka kegiatan belajar ataupun bermain yang memerlukan meja tidak akan efektif, karena dengan meja yang terlalu tinggi atau terlalu besar, jangkauan kegiatan belajar dan bermain anak-anak akan sangat terbatas. Untuk itu pastikan perabotan (meja, bangku, kursi, rak buku, peralatan permainan, dll.) di ruang kelas Sekolah Minggu Anda sesuai dengan ukuran anak-anak.

Apabila di tempat Anda hanya tersedia tempat duduk (kursi atau bangku) dan meja ukuran dewasa, maka cara mengatasinya Anda dapat menggunakan tikar saat mengajar atau bermain sehingga anak-anak dapat duduk dan bermain di atas tikar dengan nyaman.

2. Penerangan
Penerangan ruang kelas yang kurang terang akan dapat menyebabkan kelelahan pada mata dan menyebabkan sakit kepala, sehingga mempengaruhi semangat anak-anak dan guru dalam melakukan kegiatan belajar mengajar di Sekolah. Penerangan yang baik dapat diperoleh jika tersedia jendela dan ventilasi yang cukup. Namun demikian, perlu juga diperhatikan agar penataan tempat duduk tidak membuat penerangan dari luar menyilaukan penglihatan anak-anak. Karena sinar yang terlalu kuat juga akan mengganggu penglihatan.

3. Lantai, Dinding, dan Langit-langit
Ada baiknya jika lantai ruangan menggunakan karpet. Karena selain dapat meredamkan suara, karpet juga dapat menyediakan lantai yang hangat untuk diduduki anak-anak dengan nyaman ketika melakukan kegiatan bermain di lantai. Juga agar dapat mendukung sistim akustik ruangan, dinding, dan langit-langit sebaiknya menggunakan bahan yang dapat meredamkan suara. Sehingga kegiatan yang dilakukan oleh kelas  yang satu tidak mengganggu kelas yang lain.
4. Warna Cat
Bagaimana dengan warna cat di ruang kelas? Warna gelap dan warna yang kuat kurang cocok bagi ruang kelas. Anda dapat memilih warna pastel dan warna cerah untuk ruang kelas Anda, karena hal ini dapat menambah semarak dan semangat anak-anak dalam belajar maupun bermain. Demikian pula kombinasikan warna-warna secara harmonis akan sangat membantu meriangkan suasana ketika anak-anak bermain.

5. Gambar dan Poster
Gambar-gambar dan poster-poster sebaiknya dipasang sesuai dengan arah pandang anak-anak. Untuk memperbaharui suasana di sekolah Anda, kurang lebih sebulan sekali, rubahlah posisi gambar-gambar dan poster-poster yang menempel di dinding. Bisa juga Anda mengganti dengan gambar-gambar dan poster-poster yang lain atau kadangkala biarkan dinding ruangan kelas kosong untuk membuat suasana yang berbeda supaya anak-anak tidak jenuh dengan suasana yang itu-itu saja.
6. Ukuran Ruang Kelas
Sebaiknya ruang kelas cukup luas, sehingga anak-anak memiliki ruang gerak yang cukup untuk melakukan aktivitas bermain. Anak bisa melakukan aktivitas bermain di tempat duduk, namun bisa juga di lantai dengan nyaman. Apabila Anda berasal dari sekolah yang kecil dimana kelasnya sempit, beberapa hal berikut ini dapat Anda lakukan:

  1. Apabila jumlah anak terlalu banyak sehingga ruang kelas tidak cukup, maka sebaiknya Anda membagi anak-anak dalam dua kelas. Bila hanya ada satu ruangan maka Anda dapat membagi menjadi kelas pagi dan sore (atau dengan jam yang berbeda).
  2. Anda juga dapat menyingkirkan perabotan yang tidak digunakan, seperti meja besar, bangku cadangan, lemari dan sebagainya. Karena ruang kelas seringkali menjadi seperti gudang, maka pindahkan perabot-perabot yang bisa dipindahkan dan yang tidak digunakan.
  3. Buatlah rak-rak yang menempel di dinding, dengan jarak 125 cm dari atas lantai untuk mengganti rak-rak penyimpanan yang ada di lantai. Dengan demikian lantai menjadi lebih luas.
  4. Letakkan benda-benda yang tidak digunakan diluar jangkauan anak-anak. Tapi sediakan rak-rak rendah bagi alat-alat yang akan digunakan anak-anak pada saat belajar dan bermain. Hal ini akan menolong anak untuk dapat mengambil dan mengembalikan barang-barang mainan sendiri tanpa bantuan guru.
  5. Jika perlu, sediakan ruang penyimpanan bagi guru di luar ruang kelas, sehingga ruang kelas hanya diperuntukkan bagi kegiatan anak-anak saja.

7. Media dan Alat-alat
Media, alat peraga, buku panduan, alat permainan seperti peralatan alat-alat musik dan peralatan lainnya sebaiknya disimpan dengan rapi menurut kelompok fungsinya, di tempat yang sudah disediakan (rak/lemari) agar dapat dicari dengan mudah pada saat akan digunakan dan hanya dikeluarkan bila akan digunakan.
Namun apabila alat permainan dan media yang Anda miliki terbatas, jangan kuatir karena anak-anak memiliki imajinasi yang tinggi. Dengan imajinasi tersebut mereka masih dapat bermain dan melakukan aktivitas dengan materi, media, dan alat-alat yang tersedia. Kegembiraan mereka tidak akan berkurang dan mereka masih bisa memperoleh pengalaman yang sangat berarti.